Benarkah Abu Vulkanik Bisa Suburkan Tanah dan Laut? Ini Penjelasannya
JAKARTA — Di balik dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat, material hasil erupsi ternyata juga dapat memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang. Kandungan mineral di dalam abu vulkanik berpotensi membantu menyuburkan tanah dan mendukung kehidupan ekosistem laut.
Hal tersebut disampaikan praktisi bisnis lingkungan, Bang Sap, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia menjelaskan bahwa abu vulkanik tidak sekadar menjadi material yang mengotori lingkungan, tetapi juga membawa sejumlah mineral yang dibutuhkan ekosistem.
Belakangan ini, abu vulkanik kembali menjadi perhatian setelah erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebarannya berdampak ke sejumlah wilayah, seperti Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung. Kondisi tersebut sempat mengganggu aktivitas masyarakat hingga menyebabkan sejumlah penerbangan terdampak.
“Jangan melihat abu vulkanik hanya sebagai bencana dan memberi efek negatif aja. Kita tahunya abu vulkanik itu cuma bikin rugi: bandara tutup, ratusan penerbangan batal, perekonomian pun ikut kena imbas. Padahal, abu yang sama juga lagi diam-diam nyuburin laut di Selat Sunda,” ujar Bang Sap, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Kandungan Dalam Abu Vulkanik
Menurutnya, abu vulkanik mengandung sejumlah mineral, seperti silika, besi, magnesium, kalium, hingga belerang, yang dapat berkontribusi terhadap kesuburan tanah. Namun, proses tersebut tidak berlangsung secara instan.
“Ini namanya blessing in disguise. Abu vulkanik itu bukan cuma debu yang kotor. Isinya silika, besi, magnesium, kalium, belerang; mineral yang justru ditunggu-tunggu oleh para petani buat dapetin pupuk alami secara gratis,” jelas dia.
Pada tahap awal, abu vulkanik dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, termasuk karena sifat kimianya. Namun, seiring berjalannya waktu, proses pelapukan alami dapat membantu melepaskan mineral yang kemudian tersedia bagi tanah dan vegetasi.
“Pas baru jatuh, abu ini awalnya asam, malah bikin tanah dan air jadi nggak layak. Tapi, begitu proses pelapukan jalan bertahun-tahun, mineral itu pelan-pelan lepas ke tanah dan jadi pupuk alami. Rusak parah dulu, subur kemudian,” tambah Bang Sap.
Sementara itu, dampak abu vulkanik terhadap ekosistem laut dapat berlangsung lebih cepat. Bang Sap menyebut penelitian yang dilakukan para ahli di Islandia dan Jerman menunjukkan adanya pelepasan unsur hara ketika abu vulkanik bersentuhan dengan air laut.
“Di laut malah lebih cepat. Peneliti Islandia dan Jerman nemuin, setelah abu nyentuh air, unsur hara kaya fosfor dan besi langsung terlepas jadi sumber nutrisi si fitoplankton, yang merupakan makanan utama bagi para ikan,” tutur Bang Sap.
Unsur hara tersebut dapat menjadi sumber nutrisi bagi fitoplankton, organisme yang berperan penting dalam rantai makanan di laut. Fitoplankton kemudian menjadi sumber makanan bagi berbagai organisme laut, termasuk ikan.
Fenomena serupa juga pernah diamati setelah letusan Gunung Kasatochi pada 2008. Pantauan satelit mencatat peningkatan populasi fitoplankton di wilayah Pasifik Utara setelah material abu vulkanik tersebar di kawasan tersebut.
Pemahaman mengenai siklus alam tersebut dinilai penting, terutama bagi masyarakat dan pelaku usaha yang beraktivitas di sekitar kawasan vulkanik. Mereka di antaranya petani, pengelola wisata kawah, pengembang panas bumi, hingga penambang pasir dan belerang.
“Artinya, kamu bisa siapin mitigasi buat kerugian jangka pendek, sambil sadar ada panen jangka panjang yang lagi kamu bangun tanpa sadar. Abu vulkanik bukan musuh mutlak. Dia siklus alam yang mungkin merugikan sesaat, tapi ngasih benefit lebih lama,” lanjutnya.
Dengan memahami dinamika tersebut, upaya mitigasi dapat dilakukan untuk menghadapi dampak jangka pendek erupsi, sekaligus mempertimbangkan proses ekologis yang dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Abu vulkanik bukan musuh mutlak. Dia siklus alam yang mungkin merugikan sesaat, tapi ngasih benefit lebih lama. Cocok sama ungkapan blessing in disguise: berkah tersembunyi atau kebaikan yang datang dari kejadian yang dinilai buruk. Jangan-jangan, yang kita kira bencana itu cuma cara alam untuk menyembuhkan dan memperbaiki dirinya,” pungkas Bang Sap.









