Cuci Hidung Bisa Usir Abu Vulkanik? Dokter Ungkap Fakta Mengejutkan!

Cuci Hidung Bisa Usir Abu Vulkanik? Dokter Ungkap Fakta Mengejutkan!

Gaya Hidup | inews | Rabu, 9 September 2026 - 19:27
share

JAKARTA, iNews.id - Abu vulkanik yang beterbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau bisa masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Selain menggunakan masker, ada satu cara sederhana yang diklaim dapat membantu membersihkan material yang sudah terperangkap di hidung, yakni cuci hidung.

Dokter Spesialis Paru Primaya Evasari Hospital dr. Shinta Chairiah, Sp.P, M.M, AIFO-K, menjelaskan bahwa cuci hidung dapat membantu mengeluarkan material yang sudah terperangkap di rongga hidung.

Menurutnya, mekanisme tersebut bekerja dengan membantu mengeluarkan sekaligus mengencerkan material yang tertahan oleh bulu-bulu hidung.

"Iya, memang bagus cuci hidung itu. Kenapa? Karena dia bisa membantu mengeluarkan, mendilusi ibaratnya, apa yang sudah terperangkap di rongga hidung oleh bulu-bulunya itu," ujar dr. Shinta di Podcast Holadok iNews - MNC Trijaya FM, Rabu (9/9/2026).

Dia mengatakan, cuci hidung sebenarnya bukan hal baru dan sudah dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kebersihan saluran pernapasan. Namun, praktik tersebut harus dilakukan dengan cara yang benar.

Cuci Hidung Bisa Jadi Upaya Kurangi Paparan Abu Vulkanik

Dalam konteks paparan abu vulkanik, cuci hidung dapat menjadi salah satu upaya tambahan untuk mengurangi material yang masih tertinggal di rongga hidung.

Dokter Shinta bahkan menyebut cuci hidung dapat dilakukan setelah seseorang pulang dari aktivitas di luar rumah, terutama ketika berpotensi terpapar debu atau abu vulkanik.

"Dilakukan saja, karena ternyata ini juga salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk, ya, setidaknya meminimalisir risiko atau bahaya dari abu vulkanik," kata dia.

Meski demikian, cuci hidung bukan berarti masyarakat boleh mengabaikan perlindungan lain. Sebelumnya, dr. Shinta menegaskan masker tetap penting untuk mencegah abu vulkanik masuk ke saluran pernapasan.

Dia menyebut N95 atau KF94 sebagai pilihan dengan perlindungan yang lebih baik terhadap partikel berukuran sangat kecil. 

Jangan Asal Cuci Hidung

Dokter Shinta mengingatkan cuci hidung tidak boleh dilakukan sembarangan. Menurut dia, terdapat teknik tertentu agar cairan dapat membersihkan bagian dalam rongga hidung secara maksimal.

Untuk pembersihan yang lebih mendalam, dia menyebut penggunaan syringe atau spuit berukuran sekitar 20 cc. Posisi kepala juga perlu diperhatikan.

"Posisi kepala jangan tegak, tapi agak miring dan agak menunduk dikit," jelas dr. Shinta.

Dia memberikan contoh, ketika bagian hidung sebelah kanan yang hendak dibersihkan, kepala justru dimiringkan ke kiri dan sedikit menunduk. Dengan posisi tersebut, cairan diharapkan dapat melewati rongga hidung dengan lebih baik. 

Dokter Shinta juga mengatakan penggunaan spuit yang terlalu kecil, seperti 3 cc atau 5 cc, dinilai kurang terasa. Dia menyebut ukuran sekitar 20 cc untuk teknik yang menggunakan spuit.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah cairan yang digunakan untuk cuci hidung. Dokter Shinta mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan air yang kebersihannya tidak terjamin.

"Jangan dipakai air keran, karena kita belum tahu air keran itu bersih atau enggak. Jadi lebih baik air kemasan atau air infus," kata dr. Shinta.

Dia menekankan, cuci hidung harus dilakukan dengan cara yang tepat. Sebab, rongga hidung memiliki banyak lekukan, sehingga teknik yang keliru bisa membuat proses pembersihan tidak maksimal. 

Topik Menarik