Masker Basah Bisa Tangkal Abu Vulkanik? Dokter Bongkar Faktanya
JAKARTA, iNews.id - Beredar anggapan bahwa membasahi masker dapat membuatnya lebih efektif menangkal abu vulkanik. Klaimnya, abu atau debu yang terbawa udara dianggap akan lebih mudah menempel pada masker basah.
Namun, benarkah cara tersebut efektif dan aman untuk melindungi paru-paru? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.
Masker Basah Bisa Tangkal Abu Vulkanik?
Dokter Spesialis Paru Primaya Evasari Hospital dr Shinta Chairiah, Sp.P, M.M, AIFO-K, justru mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membasahi masker ketika berada di tengah paparan abu vulkanik.
Menurut dia, masker memang sudah dirancang dengan lapisan tertentu untuk membantu menangkap partikel. Karena itu, menambahkan air bukan berarti otomatis membuat kemampuan penyaringannya semakin baik.
"Masker itu kan sebenarnya sudah didesain dengan lapisan-lapisannya itu ya, dengan fungsi-fungsi tertentu. Jadi memang sudah ada lapisan yang memang tugasnya untuk menangkap partikel itu tanpa harus dibasahin," kata dr Shinta di Podcast Holadok iNews - MNC Trijaya, Rabu (9/9/2026).
Dengan kata lain, pernyataan masker basah efektif menghalau abu vulkanik adalah klaim yang tidak tepat.
Dokter Shinta mengatakan, membasahi masker justru dikhawatirkan mengganggu fungsi material penyaring yang sudah dirancang untuk bekerja dalam kondisi tertentu.
"Bahkan kalau dibasahin, sebenarnya takut fungsi filternya malah terganggu. Kalau terganggu malah jadi nggak bisa maksimal," ujarnya.
Hal ini sejalan dengan panduan National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) di Amerika Serikat. Untuk respirator N95, pengguna dianjurkan tidak menggunakan respirator yang sudah lembap atau basah. N95 juga perlu diganti ketika menjadi basah, kotor, rusak, atau tidak lagi dapat terpasang rapat di wajah.
Dengan demikian, membasahi masker bukanlah metode yang direkomendasikan untuk meningkatkan perlindungan dari abu vulkanik.
Kenapa Abu Vulkanik Perlu Disaring?
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil dan berpotensi masuk ke saluran pernapasan.
Dokter Shinta menjelaskan, komponen padat abu vulkanik dapat terdiri atas serpihan batuan, mineral, dan kaca silika. Partikel tersebut memiliki bagian yang tajam dan ukurannya bisa sangat kecil.
"Komponen padatnya ini, dia itu berisi kayak serpihan bebatuan, serpihan mineral, dan juga kaca silika. Nah itu yang namanya serpihan, dia bukan berbentuk halus, mulus, enggak. Tapi dia potongan-potongan yang ujung-ujung ataupun sudutnya itu tajam," jelasnya.
Paparan abu vulkanik sendiri memang dapat mengganggu kesehatan pernapasan. CDC merekomendasikan penggunaan respirator N95 yang disetujui NIOSH ketika seseorang harus berada di luar ruangan atau membersihkan abu vulkanik.
Lalu, Masker Apa yang Sebaiknya Dipakai?
Menurut dr Shinta, masker N95 atau KF94 sebagai pilihan dengan perlindungan yang lebih baik untuk menghadapi partikel abu vulkanik.
"Kalau untuk yang proteksi paling bagus, memang masker N95 atau KF94. Minimal itulah," kata dia.
Rabiul Awal 1448 H Dimulai 14 Agustus 2026, Ini Peristiwa Penting dan Amalan yang Dianjurkan
CDC juga menempatkan respirator N95 sebagai perlindungan yang direkomendasikan saat seseorang perlu berada di luar ruangan ketika terdapat abu vulkanik. Respirator tersebut dirancang untuk menyaring partikel dan harus digunakan dengan benar agar perlindungannya optimal.
Yang tidak kalah penting adalah kecocokan masker dengan wajah. Respirator bekerja lebih baik ketika membentuk seal atau kedap di sekitar hidung dan mulut, sehingga udara yang masuk lebih banyak melewati material penyaring, bukan melalui celah di sisi masker.
Bagaimana Jika Hanya Punya Masker Medis?
Dokter Shinta mengatakan, masker medis tetap dapat digunakan jika pilihan respirator seperti N95 atau KF94 tidak tersedia. Namun, cara pemakaiannya harus diperhatikan.
"Bukan lantas masker medis itu nggak bisa dipakai, ya. Itu masih bisa dipakai, tapi dengan cara pakai yang benar," jelasnya.
Dia mengingatkan agar masker dipasang rapat di bagian hidung, sehingga mengurangi celah yang memungkinkan udara masuk dari sisi masker.
"Bagusnya itu memang dipaskan di hidung. Jadi dia memang meng-cover area atas hidung. Tujuannya apa ya? Itu supaya tidak ada celah untuk udara masuk," ujarnya.
Meski demikian, CDC mencatat bahwa masker sekali pakai memiliki tingkat filtrasi yang bervariasi dan umumnya tidak memiliki standar perlindungan seperti respirator N95. Karena itu, untuk paparan abu vulkanik, N95 menjadi pilihan yang lebih tepat jika tersedia.
Intinya, perlindungan dari abu vulkanik bukan dilakukan dengan membasahi masker atau sekadar menambah jumlah lapisan masker. Yang lebih penting adalah memilih respirator yang sesuai, memastikan pemakaiannya rapat, serta mengurangi paparan abu sebanyak mungkin.
CDC juga menyarankan masyarakat menghindari area yang mengalami hujan abu dan tetap berada di dalam ruangan apabila memungkinkan. Jika harus keluar, penggunaan respirator N95 menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi paparan abu ke saluran pernapasan.
Jadi, klaim masker basah lebih ampuh menangkal abu vulkanik adalah keliru. Jangan membasahi masker dengan harapan kemampuan filternya meningkat. Gunakan masker atau respirator sesuai peruntukannya dan pastikan terpasang dengan benar.









