6 Kebiasaan Ini Bisa Ganggu Kesehatan Ginjal, Anak Muda Mageran Wajib Baca!

6 Kebiasaan Ini Bisa Ganggu Kesehatan Ginjal, Anak Muda Mageran Wajib Baca!

Gaya Hidup | inews | Rabu, 2 September 2026 - 10:52
share

JAKARTA, iNews.id - Menjaga kesehatan ginjal tidak cukup hanya dengan minum air putih. Kebiasaan sehari-hari seperti jarang bergerak, terlalu banyak mengonsumsi makanan manis dan asin, hingga penggunaan obat tertentu tanpa pengawasan juga perlu diperhatikan.

Anggapan bahwa penyakit ginjal hanya mengintai orang lanjut usia pun tidak sepenuhnya benar. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan penyakit ginjal kronis sudah ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun sebesar 0,02 persen, kemudian 0,07 persen pada usia 25-34 tahun dan 0,11 persen pada kelompok 35-44 tahun.

Salah satu persoalannya, gangguan ginjal dapat berkembang perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang khas. Seseorang bahkan bisa merasa sehat ketika fungsi ginjalnya mulai mengalami penurunan.

"Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas," jelas Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).

Dia menambahkan, "Karena itu, orang dengan faktor risiko sebaiknya tidak menunggu keluhan muncul untuk memeriksakan ginjal." 

Lantas, kebiasaan apa saja yang perlu mulai dikurangi untuk menjaga kesehatan ginjal? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini. 

6 Kebiasaan Ini Bisa Mengganggu Kesehatan Ginjal

1. Terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman manis

Minuman manis kerap dianggap sebagai penyebab langsung gagal ginjal. Padahal, persoalannya lebih kompleks.

Konsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Jika diabetes berlangsung dalam jangka panjang dan tidak terkontrol, kadar gula darah yang tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal.

"Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan," ujar dr. Mutalib.

Karena itu, kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis setiap hari tetap perlu dikendalikan, terlebih jika disertai pola makan yang tidak seimbang dan kurang aktivitas fisik.

2. Mager alias terlalu jarang bergerak

Kebiasaan duduk berjam-jam, jarang berolahraga, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas sedentari memang tidak secara langsung membuat ginjal rusak.

Namun, kurang bergerak dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko berbagai kondisi seperti obesitas, diabetes, serta hipertensi. Ketiganya pada akhirnya dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis.

Karena itu, aktivitas fisik secara rutin menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan, termasuk ginjal.

3. Terlalu banyak makan garam

Konsumsi garam berlebihan perlu diwaspadai karena dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi. Sementara itu, hipertensi merupakan salah satu faktor penting yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

Tekanan darah yang terus tinggi dapat memberikan tekanan pada pembuluh darah ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan ginjal menjalankan fungsinya.

Mengurangi makanan yang tinggi garam, terutama makanan olahan dan makanan yang terlalu asin, dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu menjaga tekanan darah.

4. Membiarkan berat badan tidak terkontrol

Berat badan berlebih tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik, termasuk diabetes dan hipertensi yang merupakan dua faktor penting dalam penyakit ginjal kronis.

Karena itu, menjaga berat badan tetap sehat perlu dibarengi dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.

5. Merokok

Merokok juga termasuk kebiasaan yang perlu diperhatikan ketika membicarakan kesehatan ginjal.

Selain berdampak pada berbagai organ tubuh, kebiasaan merokok berkaitan dengan gangguan pada pembuluh darah. Padahal, ginjal membutuhkan aliran darah yang baik agar dapat menjalankan fungsi penyaringan dengan optimal.

Berhenti merokok bukan hanya penting untuk menjaga paru-paru dan jantung, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

6. Sembarangan mengonsumsi obat, jamu, atau suplemen

Kebiasaan membeli dan mengonsumsi obat pereda nyeri secara terus-menerus tanpa pengawasan, termasuk menggunakan jamu atau suplemen tanpa memperhatikan kandungan dan kebutuhannya, juga perlu diwaspadai.

Penggunaan obat tertentu dalam kondisi atau dosis yang tidak tepat dapat memberikan beban pada ginjal. Karena itu, penggunaan obat sebaiknya mengikuti petunjuk tenaga kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Jangan Tunggu Gejala untuk Memeriksa Ginjal

Masalahnya, gangguan ginjal pada tahap awal sering kali tidak memberikan tanda yang jelas. Beberapa perubahan yang patut diperhatikan antara lain perubahan frekuensi atau jumlah urine, urine berbusa secara menetap, pembengkakan pada kaki, mudah lelah, mual, penurunan nafsu makan, hingga tekanan darah yang sulit dikontrol.

Jika kondisi tersebut muncul secara menetap, terlebih pada seseorang yang memiliki faktor risiko, pemeriksaan fungsi ginjal sebaiknya tidak ditunda.

Pemeriksaan dapat dilakukan melalui tes darah untuk melihat kadar kreatinin dan memperkirakan eGFR. Pemeriksaan urine juga dapat dilakukan untuk mendeteksi albumin atau protein.

"Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala," kata dr. Mutalib.

Penyakit ginjal juga tidak otomatis berarti seseorang harus menjalani cuci darah. Hemodialisis atau terapi pengganti ginjal lainnya baru dapat diperlukan ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan yang sangat berat dan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara memadai.

Dengan demikian, menjaga pola hidup sejak usia muda dan melakukan pemeriksaan jika memiliki faktor risiko menjadi langkah penting. Jangan sampai kebiasaan mager, pola makan yang tidak terkontrol, atau penggunaan obat sembarangan baru disadari setelah fungsi ginjal mulai bermasalah.

Topik Menarik