Asia Fashion Show 2026 Perkuat Kolaborasi Industri Fashion Indonesia-China

Asia Fashion Show 2026 Perkuat Kolaborasi Industri Fashion Indonesia-China

Gaya Hidup | okezone | Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:10
share

JAKARTA - Asia Fashion (Indonesia) Show 2026 menjadi ajang bagi pelaku industri Indonesia dan China untuk memperluas kolaborasi, sekaligus membuka peluang produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia menembus pasar ASEAN.

Pameran yang mempertemukan pelaku industri fashion dan industri ringan dari China, Indonesia, serta sejumlah negara lainnya tersebut resmi dibuka di Jakarta International Expo (JIEXPO), Jakarta.

Tahun ini, pameran digelar lebih besar dengan area lebih dari 12.000 meter persegi dan diikuti lebih dari 280 peserta. Menariknya, lebih dari sepertiga peserta berasal dari perusahaan lokal Indonesia.

CEO Guangdong Qiya Exhibition Co., Ltd. Yi Qiang mengatakan, kehadiran pelaku usaha Indonesia menjadi bagian penting dalam membangun kerja sama industri kedua negara.

“Jadi kali ini kita ke sini bukan hanya bawa industri. Tetapi kita harap distributor sama eceran itu bisa sama-sama kerja sama, antara Indonesia dengan China,” kata Yi, dikutip Kamis (27/8/2026).

Kerjasama China-Indonesia

Menurut Yi, kerja sama yang dibangun tidak hanya diarahkan untuk mendatangkan produk China ke Indonesia. Pelaku UMKM Indonesia juga didorong terlibat dalam pengembangan desain, produksi, hingga ekspor.

“Jadi kali ini pameran ini bukan hanya dari China untuk mengekspor barang. Terutama itu untuk UMKM lokal, dari desainnya dan ekspornya bisa kerja sama,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi jembatan bagi pelaku usaha kedua negara untuk mengembangkan perdagangan lintas negara.

“Ada jembatan yang bagus sama-sama terkait ekspor dan impor,” ungkapnya.

Tak hanya memamerkan produk, Asia Fashion (Indonesia) Show 2026 juga menghadirkan fashion show serta ruang pertukaran pengetahuan mengenai desain, bahan kulit, dan pewarnaan.

“Kali ini kita bukan hanya pameran saja, tetapi ada fashion show juga. Ada beberapa desain, dan bahan kulit, dan pewarna untuk saling sharing kerja sama desainer untuk membangun komunikasi,” tuturnya.

Ia berharap pameran tersebut dapat menjadi pintu masuk yang lebih luas bagi produk China dan Indonesia ke pasar ASEAN.

“Semoga kita di pameran Indonesia bisa membuka di pasaran ASEAN. Kali ini kita membuka bisnis di ASEAN dan Indonesia,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Koordinator Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jakarta Pusat Witrie Yenni menilai pameran tersebut menjadi peluang bagi UMKM lokal untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kapasitas usaha.

“Iya, ini adalah salah satu peluang yang sangat baik bagi UMKM kita untuk naik level,” kata Witrie.

Menurutnya, produk UMKM yang telah melalui proses kurasi dan memenuhi standar tertentu memiliki peluang untuk dilirik pasar internasional.

“Pada event seperti ini dari berbagai negara Asia juga ikut berkontribusi dan mereka hunting terhadap produk-produk kita yang sudah terkurasi dengan baik dan memenuhi standarisasi internasional,” ujarnya.

Dekranasda Jakarta Pusat turut membawa sekitar delapan pelaku UMKM dengan produk yang dinilai mampu bersaing dengan peserta lainnya. Witrie menilai keikutsertaan UMKM lokal bukan sekadar kesempatan untuk menjual produk, tetapi juga menjadi tantangan agar pelaku usaha dalam negeri mampu memenuhi standar pasar global.

“Ini merupakan challenge bagi kami para UMKM dan bagi kami Dekranasda selaku pembina UMKM yang ada di Jakarta Pusat. Ini merupakan peluang untuk kami menaikkan kelas UMKM kami,” katanya.

Meski demikian, ia menilai penguatan UMKM untuk masuk pasar internasional membutuhkan dukungan pemerintah, terutama dalam hal pembinaan, standardisasi, dan promosi.

“Nah, tentunya kita membutuhkan dukungan binaan dari pemerintah, dari Kementerian UMKM dan jajarannya sampai ke tingkat daerah,” ujar Witrie.

Ia berharap terdapat mekanisme yang dapat menjembatani UMKM Indonesia dengan pasar luar negeri sehingga pelaku usaha lokal tidak hanya menjadi konsumen produk impor.

“Karena kita bukan hanya sebagai pasar, pasar dari internasional, tapi juga kita bisa sebagai pelaku, sebagai pengusaha yang menawarkan produk-produk kita ke luar,” jelasnya.

Pameran tahun ini turut memperkuat kerja sama industri antara wilayah utara dan selatan China. Dua inisiatif perdagangan juga diluncurkan, yakni Global Promotion of Yanzhao Premium Products – Indonesia dan Guangdong Brands Global Tour – Premium Guangdong Products Entering ASEAN – Indonesia Station.

Kolaborasi tersebut mempertemukan kekuatan manufaktur Baigou, Hebei, dengan kemampuan desain dan pengembangan merek dari Shiling, Guangdong. Langkah ini diharapkan dapat memperluas rantai pasok industri fashion dan industri ringan China dengan pasar Indonesia serta ASEAN.

Pembukaan Asia Fashion (Indonesia) Show 2026 turut dihadiri perwakilan pemerintah dan pelaku industri dari Indonesia dan China, termasuk Kementerian Perdagangan Indonesia, China Chamber of Commerce for Import and Export of Light Industrial Products and Arts-Crafts, CCPIT Indonesia Representative Office, Hebei CCPIT, pelaku UMKM, serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO).

Melalui pameran, business matching, fashion show, dan pertukaran pengetahuan, Asia Fashion (Indonesia) Show 2026 diharapkan berkembang bukan hanya sebagai ajang transaksi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi jangka panjang bagi industri fashion Indonesia dan China untuk menembus pasar ASEAN.

Topik Menarik