Profil Tim Curry, Aktor Legendaris yang Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun
JAKARTA, iNews.id - Dunia hiburan internasional kembali berduka. Aktor legendaris asal Inggris, Tim Curry, meninggal dunia pada usia 80 tahun.
Sosok Tim Curry dikenal luas berkat karakter-karakter ikonik, mulai dari Dr. Frank-N-Furter dalam The Rocky Horror Picture Show hingga Pennywise dalam miniseri It.
Curry meninggal dunia pada Selasa, 25 Agustus 2026 waktu setempat di kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh manajer sekaligus sahabat lamanya, Marcia Hurwitz.
Ia disebut meninggal dengan tenang setelah beberapa waktu mengalami masalah kesehatan. Penyebab pasti kematiannya belum diumumkan.
Kepergian Curry menutup perjalanan karier yang berlangsung hampir enam dekade. Ia bukan hanya aktor film, tetapi juga bintang teater, penyanyi, pengisi suara, dan performer yang memiliki pengaruh besar terhadap budaya populer.
Profil Tim Curry
Tim Curry memiliki nama lengkap Timothy James Curry. Ia lahir di Grappenhall, Cheshire, Inggris, pada 19 April 1946.
Curry merupakan putra Jim Curry, seorang pendeta Methodist yang bertugas sebagai pendeta Angkatan Laut, dan Maura “Pat” Curry. Ia tidak berasal dari keluarga yang berkecimpung di dunia hiburan.
Masa kecil Curry sempat diwarnai kehilangan besar. Sang ayah meninggal dunia pada 1958 ketika Curry masih berusia 12 tahun.
Setelah itu, Curry memperoleh beasiswa untuk bersekolah di Kingswood School, Bath. Ketertarikannya terhadap dunia seni pertunjukan mulai tumbuh ketika ia aktif dalam pementasan drama sekolah.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di University of Birmingham dan mempelajari drama serta bahasa Inggris pada 1965 hingga 1968.
Mengawali Karier dari Panggung Teater
Setelah menyelesaikan pendidikan, Curry memulai karier profesionalnya di panggung London.
Pada 1968, ia mendapatkan peran dalam produksi Hair. Menariknya, Curry pernah mengaku berbohong ketika ditanya mengenai pengalaman profesional dan kepemilikan kartu Equity, yakni kartu keanggotaan serikat pekerja aktor Inggris.
Namun, bakatnya membuat produser tetap terkesan. Pada akhirnya, Curry mendapatkan dukungan untuk bergabung dengan serikat tersebut.
Karier panggungnya kemudian berkembang pesat. Ia tampil dalam berbagai produksi, termasuk Travesties, Amadeus, The Pirates of Penzance, My Favorite Year hingga Spamalot.
Kemampuan Curry memainkan karakter yang sangat berbeda membuatnya menjadi salah satu aktor panggung paling dihormati pada generasinya.
Dr. Frank-N-Furter yang Mengubah Hidupnya
Nama Tim Curry mulai benar-benar meledak ketika ia mendapatkan peran Dr. Frank-N-Furter dalam The Rocky Horror Show.
Curry pertama kali memerankan karakter tersebut dalam produksi panggung London pada 1973. Peran itu kemudian dibawanya ke Los Angeles dan Broadway sebelum akhirnya diabadikan dalam film The Rocky Horror Picture Show pada 1975.
Karakter Frank-N-Furter yang flamboyan dan berani mendobrak norma menjadi salah satu peran paling berpengaruh dalam sejarah film kultus.
Film tersebut kemudian berkembang menjadi fenomena budaya. Bahkan puluhan tahun setelah dirilis, The Rocky Horror Picture Show tetap memiliki basis penggemar yang sangat besar.
Curry sendiri pernah mengatakan bahwa film tersebut menjadi bagian dari revolusi seksual pada masanya. Perannya sebagai Frank-N-Furter juga membuatnya menjadi figur penting bagi banyak penonton LGBTQ+ dan generasi performer yang datang setelahnya.
Namun, popularitas karakter tersebut juga sempat menjadi tantangan. Curry khawatir peran Frank-N-Furter akan membuat dirinya sulit keluar dari stereotip karakter flamboyan.
Ia kemudian membuktikan bahwa dirinya jauh lebih luas daripada satu karakter.
Bertransformasi Menjadi Beragam Karakter
Setelah Rocky Horror, Curry justru semakin berani mengambil peran yang beragam.
Pada 1982, ia tampil sebagai Rooster Hannigan dalam film Annie. Tiga tahun kemudian, ia memainkan Lord of Darkness dalam film fantasi Legend garapan Ridley Scott.
Pada tahun yang sama, Curry juga tampil sebagai Wadsworth, kepala pelayan misterius dalam film komedi-misteri Clue.
Memasuki dekade 1990-an, ia semakin dikenal penonton Hollywood melalui sejumlah film besar, termasuk The Hunt for Red October, Home Alone 2: Lost in New York, The Three Musketeers, Congo dan Muppet Treasure Island.
Peran sebagai pelayan hotel dalam Home Alone 2 bahkan menjadi salah satu penampilan Curry yang sangat dikenang penonton Indonesia.
Pennywise, Karakter yang Bikin Penonton Trauma
Jika Frank-N-Furter merupakan karakter yang mengangkat namanya, maka Pennywise menjadi salah satu karakter yang membuat Tim Curry dikenang sebagai aktor spesialis peran mengerikan.
Pada 1990, Curry memerankan Pennywise the Dancing Clown dalam miniseri televisi It, yang diadaptasi dari novel Stephen King.
Penampilannya sebagai badut yang ternyata merupakan makhluk supernatural tersebut menjadi salah satu interpretasi Pennywise paling ikonik.
Curry mampu membuat Pennywise terlihat ramah sekaligus mengerikan hanya melalui ekspresi, suara, dan perubahan gestur. Karakter tersebut kemudian menjadi bagian penting dari sejarah horor televisi.
Meski karakter Pennywise kembali diperankan Bill Skarsgård dalam film It (2017) dan It Chapter Two (2019), versi Curry tetap memiliki tempat khusus di hati penggemar.
Bukan Cuma Aktor, Tim Curry Juga Pengisi Suara
Kemampuan vokal dan karakter suaranya membuat Curry memiliki karier panjang sebagai pengisi suara.
Salah satu prestasi terbesarnya datang ketika ia memerankan Captain Hook dalam serial animasi Peter Pan and the Pirates. Peran tersebut membuat Curry memenangkan Daytime Emmy Award pada 1991.
Ia juga mengisi suara berbagai karakter dalam produksi animasi, termasuk Hexxus dalam FernGully: The Last Rainforest, Sir Nigel Thornberry dalam The Wild Thornberrys, serta karakter dalam Star Wars: The Clone Wars.
Curry bahkan sempat terlibat sebagai pengisi suara Joker dalam Batman: The Animated Series, meski kemudian perannya digantikan.
Kiprah di Broadway dan Prestasi
Kemampuan Curry di panggung membuatnya beberapa kali mendapatkan pengakuan melalui penghargaan bergengsi.
Ia tercatat memperoleh tiga nominasi Tony Awards, masing-masing berkaitan dengan penampilannya dalam Amadeus, My Favorite Year, dan Spamalot.
Dalam Amadeus, Curry memerankan Wolfgang Amadeus Mozart. Ia kemudian memainkan King Arthur dalam Spamalot, termasuk produksi Chicago, Broadway dan London.
Selain Tony Awards, Curry juga mendapatkan dua nominasi Laurence Olivier Awards dan satu kemenangan Daytime Emmy.
Ia juga pernah mendapatkan nominasi Grammy untuk kategori Best Spoken Word Album for Children berkat A Series of Unfortunate Events – Book 1: The Bad Beginning.
Tim Curry Juga Seorang Penyanyi
Kemampuan Curry tidak berhenti pada akting.
Ia memiliki karier sebagai penyanyi dan pernah merilis beberapa album musik, termasuk Read My Lips, Fearless dan Simplicity.
Suara berat dan khas yang menjadi salah satu ciri utama aktingnya juga membantunya ketika menjalani karier musik.
Kehidupan Pribadi Tim Curry
Di balik popularitasnya, Tim Curry justru dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga kehidupan pribadi.
Curry tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Ia juga tidak pernah menjadikan kehidupan percintaan sebagai konsumsi publik.
Dalam wawancara maupun memoarnya, Curry konsisten menyatakan bahwa kehidupan romantisnya merupakan wilayah pribadi. Situs resmi yang didedikasikan untuk Curry juga mencatat bahwa ia tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak.
Pada 2025, Curry menerbitkan memoar berjudul Vagabond. Dalam buku tersebut, ia membagikan lebih banyak cerita mengenai perjalanan hidup dan kariernya, tetapi tetap mempertahankan batas yang jelas mengenai kehidupan romantisnya.
Punya Kecintaan Besar terhadap Berkebun
Sisi lain Tim Curry yang mungkin tidak banyak diketahui adalah kecintaannya terhadap berkebun.
Di luar dunia akting, Curry dikenal sebagai pencinta hortikultura. Ia bahkan merancang dan mengembangkan taman di sejumlah kediamannya di Los Angeles.
Kecintaannya terhadap tanaman juga membawanya pada aktivitas desain taman untuk sejumlah orang. Salah satu sosok terkenal yang pernah dikaitkan dengan minat Curry terhadap dunia taman adalah mendiang vokalis Queen, Freddie Mercury.
Curry juga dikenal sebagai pembaca buku dan pelukis.
Stroke Mengubah Kehidupannya
Pada Juli 2012, kehidupan Curry berubah drastis setelah ia mengalami stroke berat.
Stroke tersebut membuatnya mengalami gangguan mobilitas dan kemudian menggunakan kursi roda. Ia juga menjalani operasi otak serta proses rehabilitasi panjang.
Meski kondisi fisiknya berubah, Curry tidak benar-benar meninggalkan dunia hiburan.
Ia mengurangi aktivitas akting fisik dan lebih banyak berkarya melalui pengisi suara. Ia juga tetap menghadiri sejumlah acara penggemar dan sesekali muncul dalam proyek hiburan.
Pada 2016, ia kembali ke dunia Rocky Horror melalui peran Criminologist dalam The Rocky Horror Picture Show: Let’s Do the Time Warp Again.
Pada 2020, Curry bahkan kembali memerankan Frank-N-Furter dalam pembacaan virtual The Rocky Horror Show untuk acara amal.
Tetap Berkarya hingga Tahun-Tahun Terakhir
Meski mengalami keterbatasan fisik, Curry tidak berhenti berkarya.
Salah satu penampilan layar lebarnya pada tahun-tahun terakhir adalah cameo dalam film horor Stream pada 2024.
Ia juga tetap terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan warisan Rocky Horror, termasuk perayaan 50 tahun film tersebut.
Pada 2025, ia merilis Vagabond, memoar yang menjadi kesempatan bagi Curry untuk melihat kembali perjalanan panjangnya sebagai aktor, penyanyi dan performer.









