Kanker Bukan Akhir Segalanya, Dukungan Keluarga dan Komunitas Bisa Bangkitkan Harapan
JAKARTA, iNews.id - Diagnosis kanker kerap menjadi pukulan berat bagi pasien maupun keluarga. Tidak sedikit pasien yang langsung merasa takut, tertekan, bahkan menganggap penyakit tersebut sebagai akhir dari kehidupan.
Padahal, perjalanan menghadapi kanker tidak harus dilalui seorang diri. Selain pengobatan medis, dukungan dari keluarga, teman, hingga komunitas dapat membantu pasien melewati masa sulit dan kembali menumbuhkan harapan.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD-KHOM, mengatakan, respons psikologis pasien setelah menerima diagnosis kanker tidak bisa diabaikan.
"Begitu seseorang didiagnosis kanker, yang terbersit dalam pemikirannya adalah bahwa ini hukuman mati," kata dr Cosphiadi dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, kehadiran 'support system' yang baik dapat membantu menjembatani tekanan yang dirasakan pasien. Dukungan tersebut bisa datang dari keluarga, teman, maupun lingkungan tempat pasien menjalani kesehariannya.
"Dengan support system yang baik dari keluarga, teman, dan lingkungan, rasa tertekan itu dapat dijembatani sehingga penderita kanker mulai melihat adanya harapan baru," ujarnya.
Pasien Kanker Tak Hanya Butuh Pengobatan
Perjalanan pengobatan kanker dapat berlangsung panjang dan menghadirkan berbagai tantangan. Karena itu, kebutuhan pasien tidak berhenti pada akses terhadap terapi.
Pasien juga membutuhkan lingkungan yang mau mendengarkan, memberikan semangat, serta membantu mereka mendapatkan informasi kesehatan yang dapat dipercaya.
Kehadiran komunitas menjadi salah satu ruang yang dapat mempertemukan pasien, penyintas, caregiver, keluarga, dan tenaga kesehatan. Di dalamnya, mereka dapat berbagi pengalaman sekaligus saling menguatkan.
Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang hadirnya Komunitas Harapan Indonesia yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Kanker Paru Sedunia 2026.
Ketua Komunitas Harapan Indonesia Evie Wahyudi mengatakan, komunitas tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi kesehatan yang benar sekaligus dukungan emosional.
"Atas nama Komunitas Harapan Indonesia, saya mengucapkan terima kasih kepada Etana, Perhimpunan Onkologi Indonesia, dan rekan-rekan komunitas atas dukungan dan kolaborasinya sehingga acara ini dapat terlaksana," ujar Evie.
"Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat Indonesia yang memperoleh akses terhadap informasi kesehatan yang benar dan dukungan emosional," lanjutnya.
Kanker Stadium Awal Masih Bisa Disembuhkan
Di tengah tekanan psikologis yang mungkin muncul setelah diagnosis, pasien juga perlu mengetahui bahwa kanker bukan selalu berarti akhir dari segalanya.
Dokter Cosphiadi menjelaskan, kanker yang ditemukan pada stadium awal masih dapat disembuhkan. Sementara pada stadium lanjut, pengobatan diarahkan untuk mencapai masa bebas progresi penyakit.
Perkembangan dunia medis juga membuat pilihan terapi kanker semakin beragam. Pengobatan kini dapat mencakup terapi sistemik, terapi target, imunoterapi onkologi, hingga terapi sel, sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Karena itu, diagnosis kanker seharusnya menjadi alasan untuk segera mencari penanganan, bukan membuat pasien kehilangan harapan.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mengabaikan gejala yang menetap. Dokter Cosphiadi menyarankan agar seseorang berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala yang berlangsung lebih dari tiga minggu.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.
Membangun Ekosistem yang Mendukung Pasien
Persoalan kanker pada akhirnya membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Bukan hanya dokter dan rumah sakit, tetapi juga keluarga, komunitas pasien, organisasi profesi, akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat.
Presiden Direktur PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) Nathan Tirtana mengatakan, inovasi di bidang kesehatan perlu berjalan beriringan dengan kepedulian dan kolaborasi.
"Kami percaya bahwa menghadirkan inovasi di bidang kesehatan saja tidaklah cukup. Inovasi harus berjalan berdampingan dengan kepedulian, empati, dan kolaborasi agar benar-benar memberikan dampak bagi kehidupan pasien," kata Nathan.
Menurutnya, dukungan terhadap komunitas merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kesehatan yang lebih luas, sehingga pasien tidak hanya mendapatkan dukungan dari sisi terapi, tetapi juga memiliki ruang untuk memperoleh informasi dan dukungan selama menjalani perjalanan menghadapi kanker.
Pada akhirnya, menghadapi kanker bukan hanya tentang seberapa cepat penyakit ditangani. Ada perjalanan panjang yang juga harus dilalui pasien secara emosional.
Di sinilah keluarga dan komunitas dapat mengambil peran. Sebab, ketika pasien merasa didengar, didampingi, dan memiliki akses terhadap informasi yang tepat, harapan untuk menjalani pengobatan dapat kembali tumbuh.









