Dokter Ungkap Bentuk Sperma Abnormal Berpotensi Sebabkan Sulit Punya Anak
JAKARTA, iNews.id - Bentuk sperma atau morfologi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesuburan pria. Tidak hanya jumlah dan kemampuan bergerak, sperma dengan bentuk abnormal juga berpotensi menurunkan peluang terjadinya pembuahan hingga menyebabkan pasangan sulit memiliki anak.
Dokter Spesialis Andrologi, dr Jefry Tribowo, mengungkapkan sperma yang sehat umumnya memiliki kepala berbentuk oval atau sedikit lonjong. Struktur tersebut dirancang secara alami agar sperma dapat bergerak optimal menuju sel telur.
"Bentuk kepala sperma itu kira-kira kayak oval, kayak lonjong gitu. Nah, itu bentuk kepala sperma yang normal," katanya dalam unggahan video di akun Instagram, dikutip Selasa (21/7/2026).
Menurut dr Jefry, bentuk kepala sperma yang bulat sempurna maupun terlalu runcing termasuk kelainan morfologi. Kondisi tersebut menandakan struktur sperma tidak normal dan dapat memengaruhi kualitasnya.
"Kalau sperma bentuknya tuh kepalanya bulat, itu kelainan. Atau kadang ada juga sering nemuin ya sperma tuh kepalanya kayak lancip gitu ya, lancip lurus gitu ya, tipis banget kayak kurus. Itu juga kelainan," ujarnya.
Dia meluruskan anggapan yang menyebut sperma berkepala runcing lebih mudah menembus sel telur. Menurutnya, bentuk yang tidak normal justru menjadi indikasi sperma mengalami gangguan sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal.
"Karena kepalanya rusak, kadang dia jadi pergerakannya nggak bagus, segala macam. Ibaratnya spermanya tuh cacat lah. Contoh sperma lainnya yang cacat tuh sering ekornya patah, lehernya bengkok," katanya.
Selain kelainan pada kepala, sperma juga bisa mengalami gangguan pada bagian leher dan ekor. Ekor yang patah atau leher yang bengkok membuat sperma kesulitan bergerak cepat menuju sel telur sehingga peluang terjadinya pembuahan menjadi lebih rendah.
Kondisi tersebut tidak selalu menyebabkan pria mandul, tetapi dapat menjadi salah satu faktor yang membuat pasangan lebih sulit memperoleh kehamilan. Karena itu, pemeriksaan analisis sperma menjadi salah satu langkah penting bagi pria yang mengalami gangguan kesuburan.
Untuk meningkatkan kualitas sperma, dr. Jefry menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat secara konsisten. Mengonsumsi suplemen saja tidak cukup apabila tidak dibarengi perubahan gaya hidup.
"Kalau orang cuman berharap dari suplemen aja, itu perbaikannya enggak signifikan," ujarnya.
Dia menyarankan pria menjaga pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, mempertahankan berat badan ideal, menghindari rokok dan alkohol, serta mencukupi waktu tidur. Kebiasaan tersebut dapat membantu memperbaiki kualitas sperma, termasuk morfologinya, sehingga peluang memiliki keturunan menjadi lebih baik.









