Kenapa Sulit Berhenti Merokok? Ini Penjelasan Dokter

Kenapa Sulit Berhenti Merokok? Ini Penjelasan Dokter

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 3 Agustus 2026 - 06:30
share

Memutuskan untuk berhenti merokok sering kali menjadi tantangan besar bagi banyak orang. Tidak sedikit yang berkali-kali mencoba, namun berujung pada kegagalan.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Mario Johan dalam unggahan video di akun instagramnya mengungkapkan bahwa kesulitan tersebut terjadi bukan semata-mata karena kurangnya niat atau tekad seseorang, melainkan karena pola refleks yang sudah terpatri kuat di dalam otak.

Ia menjelaskan bagaimana kebiasaan merokok telah terikat erat dengan berbagai rutinitas harian, sehingga memicu keinginan merokok secara otomatis saat momen-momen tertentu tiba.

Baca Juga : Metode THR Dinilai Mampu Menurunkan Angka Perokok di Indonesia

"Ini ya guys, kalau lu berkali-kali gagal berhenti merokok itu bukan selalu karena lu lemah. Masalahnya otak kamu itu udah bikin pola. Habis makan, merokok, lagi stres merokok, minum kopi merokok. Jadi pas stop, itu muncul yang namanya craving secara otomatis," kata dr. Mario, dikutip Minggu (2/8/2026).Ia menambahkan bahwa kesalahan umum yang sering dilakukan masyarakat adalah mencoba berhenti secara mendadak hanya dengan mengandalkan keinginan keras.

Padahal, rokok maupun vape menyalurkan nikotin ke dalam tubuh dengan sangat cepat, sehingga menciptakan lonjakan dan penurunan kadar yang tajam. Kondisi inilah yang memicu efek ketergantungan kuat serta timbulnya gejala putus nikotin atau withdrawal.

Baca Juga : Pendekatan THR Bisa Jadi Alternatif Dalam Upaya Berhenti Merokok

Maka dari itu, ia menyarankan agar masyarakat yang ingin berhenti merokok bisa menggunakan terapi pengganti nikotin atau Nicotine Replacement Therapy (NRT) sebagai salah satu metode medis yang efektif.

Terapi ini membantu mengontrol ketergantungan dengan memberikan asupan nikotin yang terukur tanpa melibatkan asap maupun daun tembakau. Menurut data medis, kombinasi antara niat yang kuat dan terapi NRT mampu meningkatkan peluang berhasil dua kali lebih tinggi.“Ini by data ya, salah satu lini pertama yang bisa dipakai itu namanya ini: NRT atau Nicotine Replacement Therapy. Ini tuh salah satu contoh untuk kontrol ketergantungan sama nikotin dan bantu kurangin tanda-tanda withdrawal,” jela dia.

Menurutnya, peluang keberhasilan tersebut bahkan dapat meningkat drastis hingga lima kali lipat apabila seseorang juga melibatkan pendampingan dari tenaga medis profesional.

"Nah, kalau NRT plus niat plus konsultasi, itu bisa sampai lima kali lebih tinggi. Jadi idealnya itu jangan jalan sendiri. Bisa mulai dari konsul ke dokter dulu, kayak spesialis paru, penyakit dalam, bisa juga ke kedokteran jiwa, atau cari yang namanya klinik UBM, Usaha Berhenti Merokok. Di puskesmas itu setahu gue ada juga," tutur dr. Mario.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa NRT kini semakin mudah diakses masyarakat Indonesia di berbagai apotek, salah satunya dalam bentuk NRT gum atau permen karet nikotin. Namun, ia mengingatkan agar penggunaannya tetap memperhatikan petunjuk serta petunjuk pemakaian yang benar.

Cara mengkonsumsinya pun berbeda dari permen biasa, yaitu dikunyah perlahan, didiamkan sejenak di mulut, lalu dikunyah kembali. Bagi individu dengan kondisi medis tertentu, konsultasi dokter tetap dianjurkan sebelum memulai terapi.

Terakhir, ia menekankan pentingnya memiliki strategi yang terstruktur ketimbang hanya mengandalkan kemauan emosional belaka. Berhenti merokok memang membutuhkan proses yang tidak mudah, tetapi dengan memanfaatkan sistem bantuan medis dan terapi yang tepat, lepas dari ketergantungan nikotin menjadi hal yang sangat mungkin diwujudkan.

“Berhenti merokok itu memang susah, tapi jangan cuma modal niat. Harus pakai yang namanya sistem,” pungkas dia.

Topik Menarik