PCOS Kini Berganti PMOS, Ini Alasannya!

PCOS Kini Berganti PMOS, Ini Alasannya!

Gaya Hidup | okezone | Jum'at, 3 Juli 2026 - 17:05
share

JAKARTA — Istilah Polycystic Ovarian Syndrome atau PCOS tentu sudah tak asing lagi di telinga sebagian besar perempuan. Namun, belakangan muncul istilah baru medis yang disebut PMOS, yang sempat memicu kebingungan. Banyak perempuan yang mempertanyakan apakah diagnosis baru ini merupakan jenis penyakit yang berbeda dan berbahaya bagi sistem reproduksi.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan sekaligus influencer kesehatan Gezta Nasafir Hermawan dalam unggahan video di akun instagramnya memberikan penjelasan mendalam terkait hak tersebut. 

Dokter Gezta menegaskan bahwa PMOS dan PCOS sebenarnya merujuk pada kondisi medis yang sama, namun nama dari penyakit tersebut saat ini berbeda yang dulu PCOS kini lebih dikenal dengan PMOS. Nama dari penyakit tersebut mengalami perubahan nama berdasarkan perkembangan sains di bidang metabolisme tubuh manusia.

"Jadi sahabat gestasional, PMOS dan PCOS sebenarnya adalah hal yang sama ya, mendeskripsikan suatu fenomena atau sindrom yang sama. PCOS atau Polycystic Ovarian Syndrome sekarang telah berganti nama menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome,” kata dr. Gezta, dikutip Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan, perubahan nama penyakit dari PCOS menjadi PMOS ini didasarkan pada sebuah konsensus ilmiah terbaru yang melihat gangguan ini tidak lagi sekadar masalah lokal pada organ ovarium atau indung telur saja. Kondisi ini telah diidentifikasi sebagai sebuah kelainan sistemik yang berdampak luas pada seluruh tubuh, dengan akar masalah utama pada gangguan sistem metabolik.

Dokter Gezta menerangkan keterkaitan erat antara masalah metabolisme dengan hormon reproduksi perempuan. Faktor gangguan kesehatan seperti penyakit diabetes atau kondisi resistensi insulin memegang peranan krusial yang memicu terjadinya sindrom ini secara keseluruhan.

“Jadi pergantian nama ini berdasarkan adanya suatu konsensus oleh sebuah kelainan yang menjurus pada suatu kelainan sistemik yang ada di seluruh tubuh, yaitu kelainan metabolik. Hal-hal seperti diabetes atau resistensi insulin memiliki peran yang penting terhadap peningkatan dari hormon androgen di dalam tubuh dan juga gangguan dari ovulasi pada PCOS," katanya.

Meskipun istilah medisnya telah diperbarui menjadi PMOS, para perempuan diimbau untuk tidak panik. dr. Gezta menegaskan bahwa hingga saat ini, langkah diagnosis maupun penanganan medis klinis yang diterapkan oleh para dokter spesialis kandungan belum mengalami perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan metode penanganan PCOS sebelumnya.

Bagi para perempuan yang ingin mendeteksi dini kondisi ini, ia membagikan kriteria baku yang digunakan dunia medis untuk menetapkan diagnosis PMOS. Seseorang dapat dinyatakan mengalami PMOS apabila memenuhi minimal dua dari tiga kriteria klinis utama.

Pertama adalah terjadinya masalah siklus menstruasi yang tidak teratur khususnya oligomenore, di mana seseorang mengalami keterlambatan atau absen haid selama tiga siklus terakhir secara berturut-turut. Sementara, kriteria kedua dan ketiga berkaitan erat dengan tanda-tanda tingginya hormon maskulin atau hormon androgen (hiperandrogenisme) dalam tubuh perempuan.

"Tapi secara diagnosis dan penanganan sejauh ini masih belum memiliki perbedaan yang signifikan. Jadi apabila mengalami haid yang tidak teratur selama tiga siklus terakhir atau oligomenore, ditambah dengan adanya tanda-tanda atau gejala yang mengarah ke tingginya hormon androgen ya atau hiperandrogenisme, baik secara klinis maupun secara laboratoris, dua dari tiga kriteria ini sudah cukup untuk mendiagnosis adanya suatu PMOS atau yang dulu disingkat sebagai PCOS," kata dr. Gezta.

Topik Menarik