Tips Sahur Ala Ade Rai agar Imun Tetap Terjaga Selama Puasa Ramadan, Hindari Karbo!
JAKARTA, iNews.id – Bulan suci Ramadhan menjadi momen khidmat bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah. Namun, beribadah dalam kondisi imun tubuh yang tidak optimal dapat mengganggu kekhusyukan selama menjalani puasa.
Kondisi imun sangat dipengaruhi pola aktivitas dan asupan makanan sehari-hari, terutama saat sahur dan berbuka. Sebab itu, pemilihan menu sahur menjadi faktor penting agar tubuh tetap bugar selama menahan lapar dan haus lebih dari 12 jam.
Binaragawan dan instruktur kebugaran Ade Rai, membagikan tips sahur agar imun tetap terjaga selama puasa Ramadan. Dia menekankan pentingnya waktu sahur sebagai fondasi metabolisme tubuh sepanjang hari.
Menurutnya, sahur bukan sekadar formalitas untuk menggugurkan kewajiban sebelum berpuasa. Sahur harus dipandang sebagai strategi menjaga kestabilan energi dan metabolisme.
"Sahur itu menjadi sesuatu yang krusial. Jadi teman-teman sahur mau dijadikan sebagai sebuah simbol aja yang penting saya udah sahur aja, bangun lalu melakukan aktivitas itu enggak masalah,” ujar Ade dalam videonya, dikutip Minggu (22/2/2026).
Dia menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi karbohidrat saat sahur. Sebagai gantinya, dia merekomendasikan asupan protein dan lemak sehat yang dicerna lebih lambat serta tidak memicu lonjakan insulin secara drastis.
“Tapi kalau saya berbicara secara strategi kesehatan, kalau berkenan teman-teman jangan masukin karbo. Jadi kalau teman-teman mau masukinnya berarti apa? Masukinnya bisa protein, bisa lemak,” katanya.
Beberapa contoh sumber protein dan lemak sehat yang bisa dikonsumsi saat sahur antara lain telur, ayam, dan ikan. Menu tersebut dinilai mampu memberikan energi yang lebih stabil tanpa menyebabkan rasa lemas akibat fluktuasi gula darah.
“Nah, idealnya yang paling gampang itu adalah biasanya udah pasti telur. Tapi kalau bisa jangan masukin karbo," katanya.
Ade menjelaskan, strategi tersebut didasarkan pada perhitungan durasi jeda makan. Jika seseorang terakhir mengonsumsi karbohidrat sekitar pukul 22.00 malam dan tidak menambahkannya lagi saat sahur, maka tubuh memiliki jeda panjang tanpa lonjakan gula darah.
"Dari jam 10 malam nanti baru ketemu lagi di jam 6.15 itu kurang lebih sekitar 18 sampai 20 jam itu tidak terjadi yang namanya lonjakan gula darah yang terlalu tinggi tuh teman-teman, jadi lonjakan gula darahnya dia standar aja," ujarnya.
Dia menuturkan, kondisi gula darah yang stabil akan mendorong tubuh mencari sumber energi alternatif. Tanpa tambahan karbohidrat di pagi hari, tubuh secara otomatis membakar cadangan lemak sebagai sumber energi.
"Setelah itu badan sudah akan mencari alternatif sumber energi lain. Which is adalah dia akan ambilnya dari lemak sebagai stored energy, cadangan energi. Jadi di tips nomor 1 saya adalah kita make sure di sahur kalau bisa tidak terjadi lonjakan gula darah," katanya.
Dengan strategi sahur yang tepat, imun tubuh diharapkan tetap terjaga sehingga ibadah puasa Ramadhan dapat dijalani secara optimal dan penuh energi.










