Terkuak! Ini Alasan Bobon Santoso Pensiun dan Jual Akun YouTube Rp20 Miliar

Terkuak! Ini Alasan Bobon Santoso Pensiun dan Jual Akun YouTube Rp20 Miliar

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:32
share

YouTuber sekaligus konten kreator Bobon Santoso mengungkapkan alasannya untuk pensiun sebagai YouTuber dan memilih untuk menjual akunnya seharga Rp20 miliar.

Bobon mengatakan bahwa dirinya sudah lelah secara mental dan finansial untuk membuat konten Youtube. Apalagi, konten YouTube Bobon sendiri cukup khas yaitu konten masak besar untuk masyarakat salah satunya adalah program “Kuali Merah Putih” yang sempat dibuat Bobon dalam kurun waktu beberapa bulan.

Ia mengaku bahwa aktivitas mengunggah video berdurasi panjang untuk konten memasak telah menjadi beban berat yang selama ini dipendamnya sendiri. Ia merasa pola konten yang ia ciptakan sulit untuk terus bertahan di ekosistem digital Indonesia saat ini.

Baca juga: Bobon Santoso Mau Pensiun, Akun YouTube 18 Juta Subscriber Dijual Rp 20 Miliar

“YouTube only dan kayaknya gua udah nggak sebenarnya Selama ini YouTube menjadikan gua beban, belakang ini menjadikan gua beban. Karena memang nggak gampang untuk membuat sebuah konten YouTube yang durasinya panjang 15 menit ke atas apalagi mungkin satu jam dengan konten kayak gua masak-masak. Gua menciptakan pola yang menurut gua salah dan nggak mampu tumbuh dengan baik di Indonesia,” ungkap Bobon dalam Podcast Close The Door, dikutip Sabtu (14/2/2026).Selain menjadi beban berat, tingginya biaya produksi konten juga menjadi alasan Bobon untuk pensiun sebagai Youtuber. Meskipun kontennya memiliki dampak sosial yang luas, namun secara bisnis hal tersebut sulit dipertahankan karena ketergantungan penuh pada sponsor konvensional yang saat ini tengah menurun.

Baca juga: Bobon Santoso Patenkan Konten Masak Besar, Ancam Tempuh Jalur Hukum Jika Plagiat

"Ya, yang membuat gua ngerasa gua salah ini adalah gua harus menciptakan konten yang terlalu besar biayanya, terlalu besar biayanya untuk sebuah video. Walaupun sebenarnya dampaknya lebih luas dan lebih besar lagi. Sponsor, selama ini karena gua Youtuber konvensional gua cuma berharap tentunya dari endorsement, dari brand. Kalau misalnya dalam satu bulan dapat tiga atau empat, itu bisa nutup,” tutur dia.

Apalagi, hal tersebut menjadi tekanan psikologis bagi dirinya. Selain masalah finansial di mana ia harus menutupi biaya operasional sebesar 20 sampai 30 persen dari kantong pribadi, beban mental menjadi faktor nomor satu.

Bobon merasa terjebak dalam skenario yang ia buat sendiri, di mana setiap kunjungannya ke daerah bukan lagi sekadar memasak, melainkan menjadi wadah tumpuan aspirasi masyarakat yang berat untuk ia pikul.Baca juga: Chef Arnold Diduga Sindir Willie Salim Masak Besar Daging 200 Kg, Sebut hanya Bobon Santoso yang Bisa

"Mental nomor satu. Mental nomor satu. Nomor satu mental. Kalau ekonomi ya sedikit-sedikitlah mungkin tiap bulan ini 20 sampai 30 persen lah. Jadi kita datang ke daerah, datang ke mana itu bukan sekedar orang mau nonton bobon masak. Tapi ini curhat. Curhat kesempatan bertemu dengan bobon menjadi wadah. Menjadi wadah apa yang bisa disampaikan dari mereka ke pemerintah pusat,” jelas Bobon.

Konten masak-masak yang ia buat khususnya konten “Kuali Merah Putih” sangat menguras energi dirinya. Bobon menuturkan bahwa proses pasca produksi, seperti pengeditan video berdurasi 40 hingga 50 menit, membutuhkan waktu hingga satu bulan.

Hal tersebut membuat Bobon merasa tidak memiliki waktu istirahat karena setelah kelelahan di lapangan, ia masih harus menghadapi tugas pengeditan yang rumit.

"Tapi terlepas kalau misalnya gua udah tutup akun YouTube gua, gua udah jual akun YouTube gua, gua udah nggak ada beban lagi buat memikirkan bikin satu episode yang durasinya 40 sampai 50 menit yang durasi file-nya itu sampai panjang sekali, lama sekali proses editing bahkan bisa sampai satu bulan satu videonya. Gua ngerasa itu menjadi beban yang luar biasa buat gua,” tutur dia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan berhenti membuat konten. Ia hanya ingin mengubah format penyampaiannya menjadi lebih praktis melalui media sosial lain seperti Instagram atau TikTok. Baginya, menyampaikan pesan melalui video singkat jauh lebih efektif dan tidak membebani mentalnya dibandingkan format YouTube konvensional.

"Untuk format panjang mungkin enggak ada lagi, mungkin gua akan mencari cara lain karena gua masih punya sosial media seperti Instagram juga di TikTok. Gua udah nggak ada beban lagi buat memikirkan bikin satu episode yang durasinya 40 sampai 50 menit,” pungkas dia.

Topik Menarik