Sarapan Sehat Menurut Ahli Tanpa Picu Diabetes dan Kanker
JAKARTA - Sarapan roti dan gorengan memiliki risiko yang tinggi untuk dijadikan menu di pagi hari. Lalu baiknya makan apa?
Menurut Hollie Waters, seorang ahli diet terakreditasi yang berpraktik di Australia dan anggota dewan penasihat untuk organisasi nirlaba yang berfokus pada kesehatan, Doctors For Nutrition, pilihan yang paling sehat mencakup berbagai makanan padat nutrisi yang kaya serat, protein nabati, karbohidrat yang dicerna secara perlahan, dan lemak sehat.
"Gantilah sereal manis itu dengan oat gulung atau oat potong kasar," katanya seperti dikutip dari Newsweek, Minggu (15/2/2026).
Waters merekomendasikan pilih buah sebagai sarapan pagi. Namun, yang buah dikonsumsi adalah buah untuh yang dipotong, daripada jus.
Selain itu, pilih menu sarapan yang banyak terdapat (atau setidaknya sebagian) sayuran. Rekomendasi lain yang mendukung adalah protein nabati yang sehat. "Seperti kacang-kacangan, produk kedelai, atau segenggam kecil kacang dan biji-bijian," imbuh Waters.
Menu Sarapan yang Berisiko bagi Kesehatan
Laporkan Manajer Anaknya ke Bareskrim Polri, Ayah Farel Prayoga: Keluarga Merasa Dirugikan
Roti hingga gorengan ternyata berisiko untuk menu sarapan pagi. Kenapa ya, padahal roti praktis untuk dijadikan makanan di pagi hari dan gorengan mudah ditemukan bersama nasi uduk?
Menurut Hollie Waters, seorang ahli diet terakreditasi yang berpraktik di Australia dan anggota dewan penasihat untuk organisasi nirlaba yang berfokus pada kesehatan, Doctors For Nutrition, lonjakan energi instan yang diberikan oleh makanan dan minuman manis mungkin terasa membantu di pagi hari yang sibuk atau setelah begadang.
Namun, lanjutnya, penurunan tajam kadar gula darah setelahnya meningkatkan kemungkinan Anda akan bergantung pada sumber energi cepat untuk menjalani hari, sehingga menciptakan siklus yang menguras energi.
"Makanan-makanan ini biasanya juga rendah protein dan serat, yang memperlambat pencernaan dan membuat Anda merasa kenyang lebih lama. Konsumsi gula tambahan yang berlebihan juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kanker," ujar Waters.









