Kisah Nadiya, Wisudawan UNEJ dan Calon Dokter Gigi yang Jadi Lulusan Terbaik
Sosok Nadiya Ayu Sekar Kinari mencuri perhatian di Wisuda Universitas Jember (UNEJ) Periode VIII Tahun Akademik 2024/2025. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) angkatan 2021 ini berhasil mencuat sebagai salah satu lulusan terbaik dengan capaian IPK tertinggi.
Nadiya bukan sekadar "kutu buku". Di tengah padatnya kurikulum kedokteran gigi, ia aktif di berbagai organisasi seperti BEM FKG, UKM Lisma, Insisivus, hingga menjadi pengurus nasional di Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI) periode 2022–2024.
Baca juga: Wisuda UNEJ Periode VIII 2025/2026, Rektor Tekankan Pentingnya Lifelong Learning dan Kolaborasi
Di balik capaian akademik yang membanggakan, Nadiya juga mengungkap bahwa dukungan keluarga menjadi sumber motivasi terbesar untuk terus bertahan. Keluarga, khususnya kedua orang tua, memiliki peran besar dalam perjalanan akademik Nadiya.
Meski menghadapi tantangan ekonomi dan memiliki tanggungan keluarga yang tidak sedikit, orang tua Nadiya selalu berusaha memberikan fasilitas terbaik seperti alat-alat pendukung yang mahal demi kelancaran studinya. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pegawai swasta dengan jarak yang bisa memisahkan keluarga setiap harinya. Sang ayah harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dari rumah mereka di Bandung untuk bekerja, sementara ibunya kerap bertugas ke luar kota bahkan luar pulau, seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera sehingga Nadiya hanya bisa bertemu mereka seminggu sekali.
Baca juga: Lulusan Terbaik UNEJ, Teguh Efendi Raih IPK 3,71 dan Sertifikasi Data Scientist
Kondisi tersebut membuat waktu kebersamaan keluarga menjadi terbatas, namun tidak mengurangi komitmen orang tua Nadiya dalam mendukung pendidikan anak-anaknya.
Selain harus membagi jarak dan waktu, keluarga Nadiya juga dihadapkan pada tantangan ekonomi. Saat itu, keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sewa yang terus meningkat setiap tahunnya, terlebih di tengah biaya hidup kota Bandung yang tidak murah.
Dengan empat anak yang masih menempuh pendidikan—dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar—beban ekonomi menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua Nadiya. Meski demikian, kedua orang tuanya tidak pernah membiarkan keterbatasan menjadi alasan untuk menyerah.“Sebagai anak pertama, saya tahu betul kesulitan mereka membiayai empat anaknya yang semuanya masih bersekolah. Orang tua selalu melarang kami memikirkan biaya jika itu menyangkut biaya sekolah atau kuliah. Mereka selalu mengatakan biaya sekolah pasti akan dicarikan berapapun itu. Sebagai anak, hal yang bisa kita balas adalah dengan memberikan yang terbaik dan hasil yang baik, supaya kerja keras mereka tidak sia sia,” ungkapnya.
Bagi Nadiya, pengorbanan tersebut kerap menghadirkan dilema emosional. Ia mengaku sering merasa berat bahkan tak ragu meneteskan air mata saat harus meminta biaya untuk kebutuhan kuliah.
Namun, orang tuanya selalu menegaskan agar anak-anak tidak pernah merasa terbebani oleh persoalan biaya pendidikan. Sikap tersebut justru menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tekad kuat dalam diri Nadiya untuk membuktikan bahwa setiap pengorbanan orang tuanya tidak akan sia-sia.
Nadiya meninggalkan pesan untuk mahasiswa yang saat ini masih menempuh studi, “Tidak semua yang kita harapkan dapat kita raih, tetapi percayalah semua usaha yang kita lakukan tidak akan mengkhianati kita. Semua yang kita dapatkan adalah yang terbaik yang tuhan berikan untuk kita. Jangan pernah patah semangat, terus berusaha menjadi yang terbaik yang bisa kita lakukan,” pungkasnya.










