Bos Danantara Minta Investor Tak Terjebak Sentimen MSCI, Lihat Kualitas Bisnis Perusahaan

Bos Danantara Minta Investor Tak Terjebak Sentimen MSCI, Lihat Kualitas Bisnis Perusahaan

Ekonomi | okezone | Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:31
share

JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengimbau investor pasar modal tidak hanya melihat sentimen atau isu terkait pasar modal dalam mengambil keputusan investasi. Tapi perlu melihat kualitas bisnis dan fundamental perusahaan.

Pandu mengatakan, pengumuman lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market ke standalone market bukan menyimpulkan kualitas fundamental perusahaan tercatat buruk.

"Ada persoalan yang perlu diperbaiki (pasar modal), tapi bukan berarti perusahaan-perusahaan di bursa kita memiliki fundamental yang buruk," kata Pandu mengutip unggahan dalam akun instagram pribadinya @pandusjahrir, Kamis (22/10/2026).

Pandu mengatakan, dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, terdapat 134 emiten yang berhasil membukukan laba. Bahkan laba agregrat perusahaan-perusahaan tersebut di Semester I 2026 tumbuh 15 persen secara tahunan. Sementara itu, pendapatan perusahaan tercatat tersebut secara agrerat juga mengalami pertumbuhan 7 persen pada semester I dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dia juga menyebutkan bahwa terdapat 121 emiten non keuangan memiliki total cash Rp583 triliun posisi kuartal II 2026 atau naik 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menggambarkan kapasitas perusahaan dalam melakukan ekspansi usaha maupun aksi korporasi selanjutnya.

"Kita juga perlu membedakan persoalan tata kelola pasar dengan fundamental perusahaan. Pasarnya silakan saja dibenahi, tetapi kekuatan bisnis perusahaan Indonesia tetap perlu dilihat secara objektif," sambungnya.

Pandu berharap investor dapat lebih melihat perusahaan tercatat dari sisi kemampuan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis dan prospeknya kedepan, arus kas, hutang, hingga tata kelola perusahaan itu sendiri sebelum berinvestasi di pasar modal.

Dia  juga menyebut bahwa dari 146 emiten dengan memiliki pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 61 perusahaan memiliki return of equity (ROE) di atas 15 persen. Sementara di sektor perbankan maupun konsumsi ada perusahaan yang memiliki return on investment (ROI) sekitar 20 persen dan price to earning (PER) di bawah 10 kali.

Perusahaan-perusahaan dengan spesifikasi tersebut, kata Pandu, menarik untuk dicermati bagi para investor di pasar modal, sehingga keputusan investasi tidak hanya sekedar didasari oleh isu atau sentimen yang beredar di pasar.

"Peluangnya juga tersebar di berbagai sektor. Jadi intinya nih, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersama. Bukan hanya sentimen pasar," sambungnya.

 

Pandu juga menjelaskan, secara sederhana price to earning (PE) ratio adalah metode untuk membandingkan harga saham dengan laba perusahaan. Sementara Price to Book Value (PBV) juga perlu dicermati untuk mengukur rasio keuangan yang membandingkan harga saham dengan nilai buku.

"Jadi intinya nih, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersama. Bukan hanya sentimen pasar," lanjut Pandu.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa masukan dari investor maupun penyedia indeks terkait perbaikan tata kelola di pasar modal juga perlu diperhatikan dan harus menjadi pembenahan. Namun keputusan investasi tidak bisa didasari oleh kepanikan dan mengesampingkan kualitas perusahaan yang selama ini memiliki bisnis yang baik dan kuat.

"Masukan dari investor maupun penyedia indeks harus kita dengarkan sebagai bahan perbaikan. Kepentingan Indonesia justru kita perkuat dengan membangun pasar yang transparan, adil, dan dipercaya," pungkasnya.

Topik Menarik