Pasar Surat Utang Indonesia Dekati USD800 Miliar, Fitch Pantau Efek MSCI

Pasar Surat Utang Indonesia Dekati USD800 Miliar, Fitch Pantau Efek MSCI

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00
share

IDXChannel – Fitch Ratings memperkirakan pasar surat utang Indonesia (debt capital market/DCM) terus tumbuh hingga mendekati USD800 miliar (Rp14.404 triliun) pada akhir 2026.

Namun, tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk ancaman penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI, menjadi salah satu risiko yang turut dipantau lembaga pemeringkat tersebut.

Dalam laporan yang dirilis pada 18 Oktober 2026, Fitch mencatat nilai surat utang Indonesia mencapai USD768 miliar pada akhir kuartal III-2026, tumbuh 6,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sukuk menyumbang sekitar 18 persen dari total surat utang yang beredar.

Meski nilai pasar terus meningkat, penerbitan surat utang sepanjang sembilan bulan pertama 2026 justru turun 18 persen secara tahunan menjadi USD144 miliar. Dari jumlah tersebut, 31 persen merupakan penerbitan sukuk.

Pemerintah masih mendominasi pasar dengan kontribusi sekitar 90 persen dari total penerbitan surat utang.

Namun, penerbitan obligasi pemerintah cenderung menurun seiring pengelolaan utang yang lebih terukur di tengah volatilitas makroekonomi dan perubahan kondisi moneter setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya.

Kepala Global Keuangan Syariah Fitch Ratings Bashar Al Natoor mengatakan pasar surat utang Indonesia diperkirakan tetap tumbuh dan mempertahankan posisinya sebagai yang terbesar di ASEAN.

Meski demikian, volatilitas rupiah, fluktuasi harga komoditas, serta melemahnya permintaan eksternal berpotensi menahan laju pertumbuhan pasar.

Fitch juga menyoroti gagal bayar sukuk PT Pos Indonesia yang menjadi kasus gagal bayar pertama dalam cakupan sukuk berdenominasi rupiah yang diperingkat lembaga tersebut. Sukuk tersebut kemudian diturunkan peringkatnya menjadi 'D(idn)'.

Di sisi lain, Fitch memeringkat 98 persen sukuk Indonesia berdenominasi dolar AS yang beredar. Seluruh sukuk tersebut diterbitkan pemerintah dan memiliki peringkat 'BBB' dengan prospek negatif.

Dampak Ancaman MSCI terhadap Biaya Utang

Fitch turut memantau potensi dampak konsultasi MSCI terkait usulan perubahan klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market terhadap pasar surat utang domestik.

“Kami terus memantau potensi dampaknya terhadap pasar surat utang Indonesia,” tulis Fitch.

Konsultasi tersebut muncul di tengah kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan saham dan sejumlah persoalan struktural di pasar modal Indonesia.

Perubahan klasifikasi berpotensi memengaruhi keputusan investor global terhadap aset Indonesia, meskipun dampaknya terhadap pasar saham dan surat utang tidak selalu sama.

Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah rupiah tenor 10 tahun dibandingkan US Treasury menyempit menjadi 184 basis poin pada awal Oktober, dari puncak 296 basis poin pada Juni.

Kepemilikan asing atas surat berharga negara (SBN) domestik yang dapat diperdagangkan juga relatif stabil di sekitar 13 persen pada periode akhir Agustus hingga pertengahan Oktober.

Sementara itu, spread obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS bertahan di kisaran 110 basis poin pada awal Oktober, mendekati level April.

Direktur tim sovereign Fitch Ratings, George Xu, mengatakan kekhawatiran terbaru dan aksi jual besar-besaran di pasar memperkuat risiko yang sebelumnya telah diidentifikasi lembaga pemeringkat tersebut saat mengubah prospek peringkat Indonesia menjadi negatif pada Maret lalu.

“Dari perspektif peringkat kredit negara, kami tidak memperkirakan pengumuman konsultasi itu sendiri akan menimbulkan dampak langsung yang signifikan terhadap kredit,” ujarnya, dikutip Reuters, Selasa (20/10).

Namun, dia mengingatkan tekanan eksternal dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan mengikis penyangga eksternal Indonesia. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik