Wall Street Ditutup Melemah usai Yield Obligasi 30 Tahun Tembus Rekor Tertinggi sejak 2002

Wall Street Ditutup Melemah usai Yield Obligasi 30 Tahun Tembus Rekor Tertinggi sejak 2002

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 30 September 2026 - 06:44
share

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (29/9/2026), seiring kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pasar juga mencermati komentar pejabat Federal Reserve (The Fed) serta sejumlah data ekonomi yang dapat memengaruhi arah suku bunga.

Yield US Treasury tenor 30 tahun naik hingga 5,6206 persen, level tertinggi sejak Juni 2002. Sementara itu, yield hasil US Treasury tenor 10 tahun meningkat menjadi 5,293 persen, level tertinggi sejak Juni 2007.

Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 131,59 poin atau 0,26 persen menjadi 51.349,92. Indeks S&P 500 melemah 12,85 poin atau 0,17 persen menjadi 7.670,84, sedangkan Nasdaq Composite turun 22,84 poin atau 0,08 persen ke level 26.797,54.

Tekanan besar di pasar saham sempat mereda setelah imbal hasil obligasi turun dari level tertingginya. Penurunan harga minyak juga turut membantu meredakan tekanan setelah muncul tanda-tanda pemulihan ekspor dari Timur Tengah. 

Selain itu, Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams mengatakan bank sentral AS masih memiliki waktu untuk mengevaluasi data sebelum memutuskan kenaikan suku bunga berikutnya. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober turun menjadi 51,5 persen dari hampir 70 persen pada awal perdagangan, berdasarkan CME FedWatch.

Kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar diesel dalam beberapa hari terakhir turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury, sementara sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika tekanan harga tidak mereda.

Pasar kini menanti sejumlah data ekonomi penting AS. Data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) akan dirilis pada Rabu, sementara data pasar tenaga kerja akan berlanjut hingga laporan ketenagakerjaan pemerintah pada Jumat.

"PCE besok akan menjadi data penting, jadi kita akan melihat ke mana arahnya. Tingginya tingkat suku bunga dan harga bensin membuat konsumen berada dalam tekanan," kata Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder, Tim Ghriskey seperti dikutip dari Reuters.

Kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan biaya modal perusahaan dan membuat surat utang menjadi alternatif investasi yang lebih menarik dibandingkan saham. Kondisi tersebut juga berpotensi menekan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Dari sisi ekonomi, data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan lowongan pekerjaan AS turun 256.000 menjadi 7,079 juta pada Agustus 2026, di bawah perkiraan ekonom sebesar 7,225 juta. Secara terpisah, Conference Board melaporkan kepercayaan konsumen AS anjlok ke level terendah dalam hampir 12,5 tahun pada September.

Di tengah tekanan pasar, saham berbasis kecerdasan artifisial (AI) menjadi perhatian setelah prospektus penawaran umum perdana (IPO) Anthropic menunjukkan pertumbuhan perusahaan yang pesat sekaligus kerugian yang semakin besar. Anthropic membidik valuasi lebih dari USD2 triliun. 

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik