Fundamental Kuat, BNI Cetak Laba Bersih Rp10,8 Triliun di Semester I 2026
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun pada semester I 2026 di tengah tantangan likuiditas industri perbankan, ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi global. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit yang sehat, struktur pendanaan kuat, kualitas aset terjaga serta percepatan transformasi digital dan organisasi.
"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," kata Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan dalam pernyataan pers, Rabu (5/6/2026).
Baca Juga:Fundamental Solid, BNI Bukukan Laba Bersih Rp20 Triliun Sepanjang 2025
Putrama mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan. Menurut dia, langkah tersebut juga sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, tata kelola yang profesional, dan penciptaan nilai jangka panjang.
Transformasi digital menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan bisnis BNI. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi meningkat 110 secara tahunan. Sementara itu, pengguna BNIdirect pada segmen wholesale mencapai 280 ribu dengan volume transaksi tumbuh 17 menjadi Rp6.039 triliun.Selain digitalisasi, BNI telah menerapkan program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh jaringan operasional. Program tersebut memperkuat peran kantor cabang sebagai pusat penjualan sekaligus mengoptimalkan potensi bisnis di berbagai daerah. Putrama menilai integrasi kapabilitas jaringan dan layanan digital akan mempercepat akuisisi nasabah, memperluas transaksi, serta meningkatkan kualitas hubungan dengan pelanggan.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan hingga akhir Juni 2026 kredit BNI tumbuh 24,4 secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang portofolio kredit yang terdiversifikasi pada segmen korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Di sisi pendanaan, dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 11,2 secara tahunan sehingga rasio CASA tetap terjaga di level 65,4. Kondisi tersebut mendorong efisiensi biaya dana, dengan cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56 dari sebelumnya 2,78.Penguatan bisnis inti juga tercermin dari kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 14,2 menjadi Rp22,3 triliun dan pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) yang tumbuh 14,2 menjadi Rp9 triliun. Kinerja tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi dalam sejarah BNI untuk periode semester pertama.
"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," ujar Paolo.
Baca Juga:Langkah BNI Ungkap Dugaan Penyimpangan KUR di Jember Wujud Komitmen Tata KelolaDari sisi kualitas aset, rasio loan at risk (LAR) membaik dari 11 menjadi 8,1, sedangkan rasio non-performing loan (NPL) terjaga di level 1,9. Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif untuk memperkuat ketahanan neraca sekaligus mendukung ekspansi bisnis secara sehat.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko yang disiplin sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. Perseroan juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani lebih cepat.
Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan melanjutkan penguatan struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, mempertahankan kualitas aset melalui manajemen risiko yang prudent, serta mempercepat transformasi BRAVE dan digital guna meningkatkan produktivitas dan menciptakan pertumbuhan bisnis yang sehat serta berkelanjutan.









