IHSG Pekan Ini Berpotensi Konsolidasi Tertekan, Berikut Rekomendasi Sahamnya
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal bergerak cenderung konsolidasi dengan tekanan jual yang masih mendominasi pada perdagangan pekan ini. Koreksi pasar dipicu oleh kombinasi pengetatan moneter global, meningkatnya risiko carry trade unwind, hingga sentimen rebalancing indeks FTSE Russell.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari menjelaskan secara teknikal bahwa IHSG saat ini ditutup di level 6.441, berada di bawah garis indikator Moving Average 5 (MA5) dan MA20.
Garis MA5 tercatat telah membentuk dead cross terhadap MA20, yang menandakan indikasi pelemahan jangka pendek. Indikator momentum juga sejalan dengan MACD yang telah membentuk dead cross sebelumnya terhadap signal line serta histogram negatif yang kian melebar.
Meski demikian, tekanan jual yang cukup besar dengan dukungan volume tinggi tersebut masih tertahan di atas garis MA60. Hal ini menandakan tren jangka menengah belum sepenuhnya berbalik dan koreksi saat ini masih dapat dibaca sebagai proses pullback.
"Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.370, peluang technical rebound ke area 6.541-6.581 tetap terbuka, dengan MA20 sebagai dynamic resistance. Sebaliknya, jika 6.370 ditembus ke bawah, IHSG berpotensi menguji area level 6.200-6.279 (dekat MA60 sebagai dynamic support),” kata Brigita dalam risetnya, Senin (21/9/2026).
Brigita memproyeksikan pergerakan indeks akan dibayangi dinamika tekanan jual pada awal pekan ini.
“Kami memperkirakan IHSG cenderung konsolidasi dengan tekanan jual yang masih dominan pada awal pekan. Support di 6.200-6.279, resistance di 6.585-6.633," ujarnya.
Sepanjang periode perdagangan 14–18 September 2026 lalu, IHSG tercatat terkoreksi -1,53 persen dari posisi 6.541,38 ke level 6.441,16. Pelemahan ini mengikis nilai kapitalisasi pasar BEI sebesar 1,58 persen menjadi Rp11.266 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp11.446 triliun.
Tekanan pasar turut tercermin dari aksi net sell investor asing sebesar Rp2,9 triliun dalam sepekan, termasuk net sell Rp1,79 triliun pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Akumulasi net sell asing sepanjang tahun 2026 kini telah menembus Rp74,36 triliun.
Pada perdagangan Jumat lalu, IHSG berbalik melemah 0,33 persen setelah sempat menguji kisaran 6.521. Pelemahan ini meluas ke hampir seluruh sektor, dipimpin sektor industrial (-1,64 persen), property (-1,44 persen), dan healthcare (-1,12 persen), sementara sektor technology menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau (+0,27 persen).
Dari sisi global, pergerakan pasar diwarnai pengetatan moneter serentak dan risiko carry trade unwind. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps ke rentang 3,75-4,00 persen, kenaikan perdana sejak 2023, serta memproyeksikan satu kali kenaikan lanjutan hingga akhir tahun ke kisaran 4,00 persen-4,25 persen.
Bank of Japan (BoJ) juga menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,25 persen (level tertinggi dalam tiga dekade), sementara yield US Treasury 10Y sempat menyentuh rekor all time high di 5,04 persen.
"Menyempitnya spread suku bunga AS-Jepang mengurangi daya tarik Yen sebagai funding currency, sehingga risiko carry trade unwind dan selective outflow dari emerging markets meningkat," jelas Gita.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia mulai melandai dengan WTI berada di kisaran US100 per barel dan Brent di kisaran US103-104 per barel (koreksi harian sekitar 1 persen-1,5 persen), ditopang pemulihan 50 persen kapasitas East West Pipeline Arab Saudi.
Sebaliknya, harga emas menguat sekitar 1 persen di atas USD4.300 per ons seiring meningkatnya permintaan aset safe haven.
Dari dalam negeri, sentimen tertekan oleh dinamika kebijakan dan teknikal pasar. Suahasil Nazara resmi menjabat Menteri Keuangan menggantikan Purbaya dengan fokus menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen, di tengah dorongan DPR untuk membahas ulang batas defisit tersebut.
S&P Global turut memperingatkan risiko kredit dan tekanan laba bank BUMN, sementara pemerintah mempertahankan kebijakan mandatori B50 tanpa menaikkannya ke B60 pada 2027.
Di sisi lain, Bank Indonesia berpeluang menaikkan BI Rate hingga kisaran 6 persen pada akhir tahun bergantung pada stabilitas Rupiah.
Sentimen tambahan bersumber dari pelaksanaan rebalancing indeks FTSE Russell GEIS.
"Perubahan indeks berbasis harga penutupan 18 September berlaku efektif pada pembukaan perdagangan 21 September, dengan 29 saham RI dicoret dari indeks dan 10 saham diturunkan ke Micro Cap, sementara normalisasi penuh masih ditunda hingga review Desember 2026. Dengan net sell asing yang masih besar, arah arus dana asing dan stabilitas Rupiah tetap menjadi faktor utama yang perlu dicermati," pungkas Brigita.
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy ANTM (Entry: 3.290 - 3.320, Target Price (TP): 3.710, Stop Loss (SL): 3.110).
2. Buy MTEL (Entry: 500, Target Price (TP): 535 , Stop Loss (SL): 484).
3. Buy IMPC (Entry: 1.695, Target Price (TP): 1.825, Stop Loss (SL): 1.630).
4. Buy Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD).








