Harga Minyak Turun 1 Persen, Investor Cermati Dampak Pembicaraan Damai AS-Iran
IDXChannel - Harga minyak mentah ditutup melemah sekitar 1 persen pada perdagangan Selasa (23/6/2026) seiring investor mencermati perkembangan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setelah muncul tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup turun 1,1 persen menjadi USD77,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir melemah 65 sen atau 0,9 persen menjadi USD73,21 per barel.
Kedua acuan harga minyak tersebut sempat menyentuh level terendah dalam hampir empat bulan pada perdagangan Selasa.
Harga minyak terus melanjutkan tren penurunan setelah anjlok 3 persen pada Senin.
Pelemahan terjadi setelah AS memberikan pengabaian sanksi terhadap Iran selama 60 hari usai pembicaraan damai awal, serta laporan mengenai meredanya konflik di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.
Pada Selasa, melansir dari Reuters, Oman dan Iran sepakat untuk melanjutkan pembahasan mengenai pengelolaan navigasi di masa depan di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran tidak akan dapat mengenakan biaya tol di jalur strategis tersebut sebagai bagian dari kesepakatan akhir dengan AS karena hal itu melanggar hukum internasional.
Dunia kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak perang Iran menyebabkan Selat Hormuz ditutup selama lebih dari tiga bulan.
Selat tersebut merupakan jalur penting yang menjadi pintu keluar sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Pada puncaknya, lebih dari 14 juta barel minyak per hari (bpd) berhenti diproduksi atau ditahan sementara, setara dengan sekitar 14 persen dari permintaan global, menurut Badan Energi Internasional (IEA).
Investor kini dengan hati-hati mengamati seberapa cepat produsen minyak di Timur Tengah dapat kembali meningkatkan produksi dan ekspor setelah mengalami kerusakan akibat perang, serta apakah lebih banyak kapal akan kembali memasuki kawasan tersebut.
Sumber militer Iran mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa sejumlah kapal dalam jumlah terbatas telah diizinkan melintas melalui Selat Hormuz setiap hari dengan koordinasi bersama Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.
Secara terpisah, data pelacakan kapal menunjukkan tiga kapal tanker super besar yang sebelumnya terjebak berhasil melewati selat tersebut pada Selasa.
Selain itu, tujuh kapal tanker LNG kosong yang terkait dengan Qatar telah memasuki kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan rencana evakuasi untuk memungkinkan ratusan kapal dengan sekitar 11.000 awak yang terjebak di Teluk melintasi Selat Hormuz sedang berjalan setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan sebanyak 19 juta barel minyak telah mengalir keluar dari Selat Hormuz pada Senin. Ia juga menyoroti penurunan harga minyak dalam unggahan di media sosial pada Selasa.
“Namun, dalam jangka pendek, pelonggaran sanksi tersebut tidak akan banyak menekan harga minyak,” kata Analis Pasar SEB Research Ole Hvalbye.
Menurut dia, nota kesepahaman antara AS dan Iran masih tergolong baru dan rentan.
RI Targetkan Swasembada Daging pada 2031
"Pemilik dan operator kapal akan membutuhkan jaminan bahwa ancaman dari ranjau laut telah sepenuhnya dihilangkan. Pelabuhan yang rusak, puing-puing di perairan, serta kemacetan menjadi hambatan tambahan bagi peningkatan lalu lintas kapal secara penuh," kata Analis PVM Oil Associates Tamas Varga. (Aldo Fernando)









