Berhasil Lintasi Selat Hormuz, 1 Juta Barel Minyak Tiba di Korsel
Sebuah kapal tanker berbendera Malta yang membawa satu juta barel minyak mentah tiba di lepas pantai barat Korea Selatan, Jumat (8/5), setelah berhasil melintasi Selat Hormuz pada pertengahan April 2026. Kedatangan kapal tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya kekhawatiran krisis energi global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Pasokan minyak tersebut setara sekitar 35 hingga 50 kebutuhan konsumsi harian minyak mentah Korea Selatan. Negara itu selama ini sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk jalur distribusi utama melalui Selat Hormuz.
"Tankar dijadwalkan bersandar di fasilitas tambat lepas pantai perusahaan untuk membongkar muatan minyak mentah pada Jumat ini," kata perusahaan kilang minyak HD Hyundai Oilbank terkait kedatangan kapal tanker Odessa di perairan dekat Kota Seosan, Korea Selatan dikutip dari AP, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga:Susul Prancis, Inggris Kirim Kapal Perang untuk Bebaskan Selat Hormuz
Minyak mentah tersebut akan diolah menjadi berbagai produk bahan bakar seperti bensin, diesel, dan nafta. HD Hyundai Oilbank menyatakan fasilitas pengilangannya mampu memproses hingga 690.000 barel minyak mentah per hari.
Ketegangan di Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir telah memicu lonjakan harga energi dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi di negara-negara Asia. Korea Selatan bahkan mulai menerapkan pembatasan harga bensin dan produk minyak lainnya untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade guna menekan lonjakan biaya energi domestik.
Pemerintah Korea Selatan juga meminta perusahaan kilang mengalihkan sebagian ekspor nafta untuk kebutuhan dalam negeri sambil mencari jalur pengiriman dan sumber pasokan alternatif. Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi energi yang lebih luas akibat konflik Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga:Stok Minyak Mentah Mulai Habis, Bos Chevron Warning Krisis Energi Mirip Tahun 1970-an
Data industri menunjukkan, lebih dari 60 impor minyak mentah Korea Selatan dan sekitar 50 persen impor nafta pada tahun lalu melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu titik vital perdagangan energi global, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan minyak dan petrokimia dari Timur Tengah.









