Juda Agung Klaim Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen Tanpa Mengorbankan Stabilitas

Juda Agung Klaim Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen Tanpa Mengorbankan Stabilitas

Ekonomi | okezone | Kamis, 7 Mei 2026 - 13:02
share

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026 dinilai mencerminkan kebijakan pemerintah yang memperhatikan indikator makroekonomi. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menekankan bahwa stabilitas inflasi menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mendorong konsumsi masyarakat.

Juda juga membandingkan tingkat inflasi pada masa pemerintahan sebelumnya, seperti era Orde Baru, yang sempat menembus dua digit, terutama pada periode menjelang krisis moneter.

“Indonesia bisa tumbuh cukup tinggi dengan tidak mengorbankan stabilitas. Indikator stabilitas itu kan inflasi. Berapa inflasi? 2,42 persen. Itu adalah inflasi yang rendah dan stabil dalam beberapa tahun terakhir ini, mungkin dalam satu dekade,” kata Juda dalam acara Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat yang dilangsungkan secara daring, Kamis (7/5/2026).

Juda tidak menafikan bahwa ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah saat ini turut mengancam kestabilan harga komoditas, terutama minyak untuk bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan tidak menaikkan harga BBM di tengah inflasi harga minyak dunia diklaim untuk menjaga tingkat konsumsi rumah tangga.

“Subsidi BBM memang kami jaga, harga BBM-nya tidak mengalami kenaikan, supaya inflasi terjaga dan daya beli masyarakat terjaga. Itu mengapa konsumsi di kuartal I juga masih baik, di atas lima persen. Kalau konsumsi masyarakat di atas lima persen, itu artinya cukup kuat,” kata dia.

“Jadi harga BBM yang kita jaga ini juga by design untuk menjaga daya beli masyarakat. Coba kalau kita lepas, pasti inflasi meningkat, daya beli turun, dan pertumbuhan ekonomi turun,” imbuhnya.

Di sisi lain, Juda menekankan adanya diskresi fiskal seperti pengalihan anggaran belanja. Asumsi dasar makro yang hampir terpengaruh akibat inflasi harga minyak tidak lepas dari sejumlah skenario untuk menekan defisit fiskal tetap dalam batas aman di bawah 3 persen.

“Kami perlu melakukan refocusing terhadap belanja-belanja yang lain. Dan itu sudah kami lakukan, sehingga dengan asumsi harga minyak di tahun ini katakanlah 100 dolar AS per barel dan dengan upaya refocusing, upaya pengendalian belanja, serta upaya mendorong pendapatan, maka defisit fiskal bisa kita jaga di 2,9 persen di tahun ini,” kata dia.

Topik Menarik