Investasi Tumbuh 12,7 Persen, Rosan Akui Dampaknya ke Penerimaan Negara Tak Instan
JAKARTA - Realisasi investasi Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year on year/YoY). Capaian tersebut sejalan dengan kinerja penerimaan negara yang juga menunjukkan tren positif.
Pada periode yang sama, Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan, mencapai Rp2.217 triliun atau setara 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penerimaan tersebut terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun serta penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp300,3 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengakui masuknya investasi ke Indonesia memang belum signifikan untuk mendongkrak pendapatan negara. Sebab, banyak investasi tersebut memiliki kontrak jangka panjang karena masih memerlukan perencanaan pembangunan, tahap konstruksi, hingga akhirnya masuk ke tahap operasi.
"Investasi itu adalah komitmen jangka panjang. Memang investasi yang masuk ini ada yang kita berikan insentif. Tapi dampak dari pajak investasi juga akan tercipta, dan perekonomian juga meningkat. Jadi saya yakin ke depan akan memberikan dampak positif terhadap APBN kita," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Rosan menjelaskan, investasi yang didatangkan bukan semata-mata untuk mengerek penerimaan negara secara instan, tetapi juga mementingkan aspek penyerapan tenaga kerja. Tercatat, pada 2025 sekitar 2,7 juta tenaga kerja terserap dari realisasi investasi sepanjang tahun tersebut.
"Karena memang pajak-pajak yang tercipta dari investasi masuk ini tidak langsung pada hari H-nya, misalnya pada saat pabrik manufaktur itu mulai beroperasi," kata Rosan.
"Kalau kami juga melihat tidak semata-mata dari sektor finansialnya atau penerimaan pajak, tetapi juga dampak dari sektor sumber daya manusia, yaitu penciptaan lapangan kerja. Karena memang contohnya di perkebunan, mungkin investasinya tidak sebesar di bidang mineral, tetapi penciptaan lapangan kerjanya lebih tinggi," sambungnya.
Rosan berharap penciptaan lapangan kerja dari investasi yang masuk dapat menggeliatkan perekonomian daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Sebab, masyarakat yang sebelumnya menganggur dapat memperoleh penghasilan dan mulai meningkatkan konsumsi.
"Kita coba cari keseimbangan, sehingga aktivitas ekonominya menjadi meningkat. Karena penyerapan tenaga kerja yang tinggi akan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di daerah tersebut semakin meningkat. Itu juga yang menjadi faktor yang kita lihat," pungkasnya.










