6 Dampak Perang ASIran, Harga Minyak Dunia hingga Gas Langsung Bergejolak
Ketegangan yang selama ini membara akhirnya berubah menjadi konflik terbuka. Perang antara Amerika Serikat atau AS dan Iran pecah pada akhir pekan kemarin, hingga memicu guncangan besar di pasar global.
Dampak paling cepat terasa terjadi di sektor energi, khususnya harga minyak dunia yang langsung melonjak tajam. Pelaku pasar juga menyoroti titik krusial ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup Selat Hormuz.
Jalur sempit tersebut menjadi vital, lantaran menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Serangan balasan Iran, menempatkan situasi ini menjadi perhatian serius oleh para investor. Baca Juga: Iran Lumpuhkan Produksi Migas Israel, Qatar hingga Arab SaudiPasar memberikan respons awal terhadap perang AS vs Iran, dimana dampaknya terlihat pada harga minyak dan perdagangan dan terkait inflasi. Konflik Timur Tengah meluas tepat ketika para investor khawatir tentang dampak ekonomi dari AI.
Berikut 6 dampak ekonomi yang langsung terasa akibat perang AS–Iran:
1. Harga Minyak Dunia Melonjak Seketika
Tidak butuh waktu lama bagi pasar untuk merespons gejolak yang terjadi antara AS, Israel, dan Iran. Harga minyak mentah Brent dan WTI langsung bergerak naik begitu kabar eskalasi militer merebak.Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 13, tak lama setelah serangan intens antara AS dan Israel terhadap Iran. Konflik ini memicu kekhawatiran besar tentang terganggunya ekonomi global.
Harga minyak Brent melonjak ke posisi USD82 per barel di bursa ICE pada hari Senin kemarin, menandai level tertinggi 14 bulan. Investor khawatir pasokan dari kawasan Teluk terganggu.Analis energi memperkirakan jika konflik meluas, harga minyak bisa terdorong menuju USD90 hingga USD100 per barel dalam waktu singkat.
2. Penutupan Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu
Sekitar 20 pasokan minyak dunia melintas melalui Selat Hormuz setiap hari. Ketika Iran menutup atau memblokade jalur ini sebagai respons perang, dunia bakal menghadapi krisis energi dalam hitungan minggu.Skenario terburuk bahkan menyebut harga minyak bisa melonjak lebih dari 50 dari level saat ini.IHSG Dibuka Melemah Tipis ke 8.121
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2), sebagai respons langsung atas serangan gabungan AS dan Israel ke wilayahnya sehari sebelumnya. Langkah drastis ini langsung mengancam jalur distribusi minyak mentah global dan memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi yang signifikan.
Baca Juga: Iran Blokade Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Impor BBM dan LPG Indonesia dari AS
Penutupan ini terjadi setelah eskalasi militer besar-besaran di kawasan. AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target-target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan menargetkan infrastruktur militer AS di Timur Tengah.
3. Inflasi Global Berpotensi Kembali Menggila
Kenaikan harga minyak mentah otomatis meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi. Negara-negara yang baru mulai pulih dari tekanan inflasi berisiko kembali menghadapi lonjakan harga barang dan jasa.Bank sentral kemungkinan akan menahan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam tekanan harga.Ancaman inflasi terbesar dari perang berasal dari kenaikan harga minyak dan gas karena sekitar seperlima pasokan dunia yang dikirim melalui laut biasanya melewati Selat Hormuz - yang nyaris terhenti total. Juga akan ada efek lanjutan dari hal-hal seperti tarif penerbangan yang lebih tinggi dan biaya distribusi, serta risiko rantai pasokan yang lebih luas jika konflik berlangsung lama.Mayoritas responden dalam survei global ekonom oleh Bloomberg News memprediksi perang akan memiliki dampak minimal terhadap produk domestik bruto baik di AS, zona euro, maupun China. Namun banyak responden menambahkan bahwa banyak hal akan tergantung pada berapa lama konflik berlangsung.
4. Harga BBM Dalam Negeri Terancam Naik
Bagi Indonesia, dampaknya bisa sangat terasa. Meski tidak mengimpor minyak langsung dari Iran, Indonesia tetap mengikuti harga pasar global. Jika harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap subsidi energi dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akan membesar.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan dampak eskalasi perang antara AS, Israel dengan Iran akan membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri bergejolak. Kenaikan harga minyak tersebut akibat terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz sebagai jalur strategis distribusi global.
Pada akhirnya pemerintah bakal dihadapkan pada pilihan sulit, menaikkan harga BBM atau menambah beban subsidi. Terkait kemungkinan perubahan harga BBM subsidi, Bahlil menegaskan hingga rapat terakhir pemerintah belum ada pembahasan mengenai penyesuaian.
5. Mata Uang Negara Berkembang Tertekan
Konflik geopolitik biasanya membuat investor global menarik dana dari negara berkembang dan beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Dampaknya, nilai tukar mata uang emerging market bisa melemah, termasuk rupiah.Pelemahan rupiah akan memperberat biaya impor energi. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon.
Lalu Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Sentimen perang mendorong nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tipis pada akhir perdagangan Selasa (3/3/2026), usai turun 4 poin atau sekitar 0,02 ke level Rp16.872 per dolar AS.










