Loading...
Loading…
Didorong Inflasi Energi Global, Impor Jepang Tembus Rekor Tertinggi pada Juli

Didorong Inflasi Energi Global, Impor Jepang Tembus Rekor Tertinggi pada Juli

Powered by BuddyKu
Ekonomi | Inews | Kamis, 18 Agustus 2022 - 06:55

TOKYO, iNews.id - Impor Jepang melonjak ke rekor tertinggi pada Juli 2022 didorong inflasi energi global dan pelemahan mata uang yen yang melebihi ekspor serta memperdalam defisit perdagangan. Hal ini menandakan semakin memburuknya perdagangan Jepang.

Mengutip Reuters , data perdagangan menunjukkan peningkatan sentimen bisnis Jepang pada Agustus, sementara ukuran utama belanja modal perusahaan rebound pada Juni dari penurunan bulan sebelumnya.

Sementara, kumpulan data yang beragam memberikan beberapa bukti ketahanan, dan pembuat kebijakan kemungkinan akan mempertahankan seruan untuk lebih banyak stimulus karena negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu berjuang untuk melepaskan dari dampak pandemi.

Ekspor kemungkinan akan melambat ke depan karena pengetatan kebijakan moneter global, yang dapat melemahkan selera perusahaan untuk investasi, ujar Kepala Ekonom di Norinchukin Research Institue, Takeshi Minami dikutip, Kamis (18/8/2022).

Ekonomi Jepang yang didorong oleh ekspor akan kehilangan momentum menjelang akhir tahun ini dan awal tahun depan di tengah kekhawatiran penurunan global, sambungnya.

Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan, ekspor tumbuh 19,0 persen pada Juli dari tahun sebelumnya dan membukukan kenaikan 17 bulan berturut-turut. Kenaikan ini dipimpin pengiriman mobil tujuan AS dan pengiriman terkait chip yang terikat China.

Sementara, impor naik 47,2 persen pada Juli secara year-on-year ke rekor 10,2 triliun yen (76,06 miliar dolar AS) didorong oleh biaya minyak mentah, batu bara, dan gas alam cair. Catatan ini berdampak pada defisit perdagangan menjadi 1,4368 triliun yen pada Juli.

Hal ini menandai tahun penuh defisit perdagangan bulanan, di mana rekor terpanjang sejak penurunan 32 bulan hingga Februari 2015. Sementara, penurunan yen 23,1 persen dari tahun sebelumnya menambah biaya impor yang lebih tinggi.

Original Source

Topik Menarik

{
{
{
{
{
{