Selat Hormuz Belum Pulih, Defisit Minyak Global Makin Parah Tembus 1,8 Juta Barel per Hari

Selat Hormuz Belum Pulih, Defisit Minyak Global Makin Parah Tembus 1,8 Juta Barel per Hari

Berita Utama | sindonews | Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:07
share

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan kekurangan pasokan minyak global pada 2026 diperkirakan semakin parah karena pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum terlihat. Lembaga yang berbasis di Paris itu memangkas proyeksi pasokan minyak dunia menjadi 102,02 juta barel per hari (bph) turun 4,3 juta bph atau sekitar 4 dari tahun sebelumnya.

"Pasokan minyak global telah turun jauh di bawah permintaan akibat penutupan Selat Hormuz, blokade AS terhadap ekspor Iran, serangan di Selat Bab el-Mandeb, serta penurunan ekspor Kazakh CPC Blend," kata IEA dalam laporan bulanan dikutip dari Reuters, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga:Penerimaan Migas Seret, Defisit Anggaran Rusia Bengkak 32,3 Tembus Rp1.411 Triliun

Penurunan pasokan ini lebih dalam dibandingkan proyeksi Juli lalu diperkirakan kontraksi 3,7 juta bph. Akibatnya, defisit pasar minyak global pada 2026 diperkirakan mencapai 1,27 juta bph melebar dari 860.000 bph pada proyeksi sebelumnya.

IEA kini memperkirakan permintaan minyak global akan terkontraksi 1,6 juta bph tahun ini, lebih dalam dari perkiraan bulan lalu yang sebesar 1 juta bph. Kontraksi ini dipicu oleh keterbatasan pasokan bahan bakar olahan dan harga yang lebih tinggi, dengan produk naphtha dan gasoil menjadi yang paling terpukul, terutama di Asia dan Timur Tengah.

 

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) masih memproyeksikan permintaan minyak tumbuh 580.000 bph pada 2026, meski lebih rendah 200.000 bph dari perkiraan sebelumnya. Perbedaan pandangan antara IEA dan OPEC ini mencerminkan ketidakpastian tinggi di pasar energi global.IEA juga mencatat bahwa produksi minyak Timur Tengah pada Juli 2026 masih 8,3 juta bph di bawah level sebelum perang, meski sempat pulih ke 20 juta bph pada awal Juli sebelum kembali turun ke 12 juta bph akibat eskalasi konflik. Untuk kuartal III-2026, IEA memperkirakan defisit pasar minyak mencapai 1,8 juta bph, revisi turun 1 juta bph dari proyeksi Juli.

Baca Juga:7 Tentara AS Dilaporkan Tewas Bentrokan di Kapal Induk Abraham Lincoln, Ini Kronologinya

Di sisi lain, aktivitas penyulingan minyak Rusia pada Juli tetap berada di level terendah dalam 20 tahun terakhir, yaitu 3,9 juta bph, akibat serangan drone Ukraina yang menghantam sebagian besar kilang di sebelah barat Pegunungan Ural. Produksi minyak Rusia juga turun 100.000 bph menjadi 8,76 juta bph, di bawah target yang ditetapkan OPEC+.

IEA memperkirakan jika terjadi de-eskalasi konflik dalam beberapa bulan ke depan, pasokan minyak global pada 2027 bisa melebihi permintaan sebesar 4,61 juta bph. Surplus ini memungkinkan cadangan minyak dunia pulih ke level Februari 2026 pada pertengahan tahun depan, setelah terjadi penarikan stok kumulatif sebesar 410 juta barel sejak perang Iran dimulai.

Topik Menarik