Selat Hormuz Tak Kunjung Dibuka, Harga Minyak Dunia Naik Lagi
JAKARTA, iNews.id - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan, Rabu (12/82026). Hal ini terjadi setelah pejabat senior Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah syarat dari Teheran.
Melansir CNBC International, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,97 persen menyentuh level 84,01 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global, naik 0,87 persen ke angka 89,68 dolar AS per barel.
Harga minyak telah menguat lebih dari 6 persen dalam sepekan karena harapan tercapainya kesepakatan untuk meningkatkan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz semakin memudar.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei meminta AS mencairkan dana Iran yang saat ini dibekukan di luar negeri sebagai salah satu syarat pembukaan Selat Hormuz.
Adapun, pasar minyak masih mencermati sinyal yang saling bertentangan mengenai kemungkinan AS dan Iran mencapai kesepakatan.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan bahwa situasi kembali mengarah pada kemungkinan tercapainya kesepakatan damai. Pakistan sebelumnya menjadi mediator dalam kesepakatan sementara AS-Iran pada Juni yang kemudian gagal dan diikuti kembali pecahnya pertempuran di kawasan Hormuz.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru meningkatkan tekanan terhadap Iran. Trump menuntut Iran membayar ganti rugi kepada AS.
Sepekan sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa kesepakatan baru mengenai Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang terealisasi.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih sangat rendah. Pada Senin, hanya delapan kapal yang tercatat melintasi jalur tersebut, menurut data perusahaan intelijen perdagangan Kpler.
Angka ini jauh lebih kecil sebelum AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari, di mana lebih dari 130 kapal melintasi Selat Hormuz.
Di tengah gangguan pasokan, Trump memperpanjang penangguhan Jones Act, aturan yang membatasi pengangkutan barang antar-pelabuhan AS hanya menggunakan kapal berbendera atau berbasis AS.
Keberadaan Febrie Adriansyah Masih Misterius, Ini Suasana di Kompleks Rumah Dinas Kejagung
Namun, Trump mempersempit pemberian pengecualian tersebut hanya untuk kapal yang mengangkut jenis sumber daya energi tertentu.
Sementara itu, stok minyak mentah dalam SPR AS telah turun di bawah 300 juta barel. Berdasarkan data Departemen Energi AS yang dirilis Senin, jumlah tersebut merupakan level terendah dalam lebih dari empat dekade.
Trump sebelumnya memerintahkan pelepasan 172 juta barel dari cadangan strategis tersebut pada Maret untuk mengurangi dampak gangguan pasokan akibat perang Iran.









