Lembaga Falakiyah PBNU Rilis Data Hilal, Iduladha Berpotensi Serentak 27 Mei 2026

Lembaga Falakiyah PBNU Rilis Data Hilal, Iduladha Berpotensi Serentak 27 Mei 2026

Berita Utama | sindonews | Jum'at, 15 Mei 2026 - 11:44
share

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hilal jelang Zulhijah 1447 H melalui Informasi Ringkas Hilal Zulhijah 1447 H pada 29 Dzulqo'dah 1447 H/17 Mei 2026 M di Indonesia. Berdasarkan data tersebut Iduladha 1447 H berpotensi serentak pada Rabu 27 Mei 2026.

Data hisab ini merupakan hasil perhitungan LF PBNU yang dilakukan untuk hari Ahad Wage, 29 Dzulqadah 1447 H/17 Mei 2026 M. Perhitungan dilakukan pada titik markaz Jakarta, tepatnya di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat (koordinat 6 derajat 11’ 25” LS 106 derajat 50’ 50” BT). Perhitungan ini dilakukan dengan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Muhammadiyah Iduladha 27 Mei 2026, Pemerintah Sidang Isbat 17 Mei

“Data hisab menunjukkan bahwa hilal akhir Dzulqadah 1447 H atau bertepatan dengan Ahad Wage, 17 Mei 2026 M adalah 4 derajat 42 menit 15 detik dengan elongasi 10 derajat 06 menit 51 detik dan lama hilal di atas ufuk 22 menit 53 detik. Sementara ijtimak (konjungsi) terjadi pada Ahad Wage 17 Mei 2026 M pukul 03:03:02 WIB,”dikutip dari laman resmi NU, Jumat (15/5/2026).

Sementara itu, letak Matahari terbenam pada posisi 19 derajat 24 menit 31 detik utara titik barat, sedangkan letak hilal berada pada posisi 27 derajat 04 menit 56 detik utara titik barat dengan kedudukan hilal pada 07 derajat 40 menit 25 detik utara Matahari.

“Adapun parameter hilal terkecil itu terdapat di Kota Merauke, Provinsi Papua Selatan. Ketinggian hilal di sana mencapai 3 derajat 15 menit dan elongasi hilal hakiki 8 derajat 57 menit, serta lama hilal di atas ufuk 16 menit 10 detik,” tulisnya.

Baca juga: Kemenag Akan Pantau Hilal Awal Zulhijah 1447 H pada 17 Mei 2026 di 88 Titik, Ini Lokasinya

Sementara tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh. Ketinggian hilal di sana mencapai 6 derajat 47 menit, elongasi hilal hakiki 10 derajat 40 menit, dan lama hilal di atas ufuk 30 menit 56 detik.

Data di atas menunjukkan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria imkanurrukyah. Pasalnya, tinggi hilal sudah di atas 3 derajat dan elongasi lebih dari 6,4 derajat. Bahkan di Aceh, elongasinya sudah memenuhi kriteria qath'iyu rukyah Nahdlatul Ulama (QRNU), di atas 9,9 derajat. Artinya, hampir dipastikan masuk bulan baru di hari berikutnya.

Perhitungan BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data perhitungan hilal 1 Zulhijah 1447 H dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 17 Mei 2025 M Penentu Awal Bulan Zulhijah 1447 H.Dalam informasi itu, dijelaskan bahwa konjungsi akan terjadi pada hari Sabtu, 16 Mei 2026 M, pukul 20.00.55 UT atau Ahad, 17 Mei 2026 M, pukul 03.00.55 WIB atau Ahad, 17 Mei 2026 M, pukul 04.00.55 WITA atau Ahad, 17 Mei 2026 M, pukul 05.00.55 WIT.

Di wilayah Indonesia pada tanggal 17 Mei 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.26.20 WIT di Merauke, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.46.59 WIB di Sabang, Aceh. Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 17 Mei 2026 di wilayah Indonesia.

Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 3.29 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 6.95 derajat di Sabang, Aceh. Sementara itu, besaran elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 8.91 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 10.62 derajat di Sabang, Aceh.

Data BMKG juga menunjukkan umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 12.42 jam di Merauke, Papua sampai dengan 15.77 jam di Sabang, Aceh. Adapun lama Hilal di atas ufuk saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 18.42 menit di Merauke, Papua sampai dengan 35.8 menit di Sabang, Aceh.

“Data-data di atas menunjukkan potensi besar bulan Zulhijah jatuh esoknya mengingat sudah terpenuhinya kriteria imkanur rukyah, bahkan qath'iy rukyah. Karenanya, besar kemungkinan tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026. Sementara Iduladha, 10 Zulhijah 1447 H akan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M,” pungkasnya.

Muhammadiyah Iduladha 27 Mei 2026

Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan Iduladha 2026 atau 10 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Rabu 27 Mei 2026 mendatang. Sedangkan Hari Arafah atau 9 Zulhijah 1447 H jatuh pada Selasa 26 Mei 2026.Awal bulan Zulhijah dimulai pada Senin 18 Mei 2026. Keputusan PP Muhammadiyah ini berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Penetapan Iduladha 2026 ini, dikutip dari laman Muhammadiyah, didasarkan hasil hisab astronomis global yang menggunakan parameter Kalender Global (PKG). Sistem ini dirancang untuk menghadirkan keseragaman awal bulan Hijriah bagi seluruh umat Islam di dunia.

"Dalam sistem ini, penentuan awal bulan tidak lagi bergantung pada batas wilayah negara, melainkan menggunakan prinsip keterlihatan hilal secara global," sebut PP Muhammadiyah, dikutip Jumat (15/5/2026).

Ijtimak menjelang Zulhijah 1447 H terjadi pada hari Sabtu 16 Mei 2026 pukul 20.01.02 UTC. Secara astronomis, ijtimak merupakan titik konjungsi antara Matahari dan Bulan yang menjadi awal pergantian bulan kamariah.

Akan tetapi pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, belum ada satu wilayah pun di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 24.00 UTC.Selain itu, Parameter Kalender Global (PKG) 2 juga tidak terpenuhi. Setelah pukul 24.00 UTC, tidak ditemukan satu pun wilayah di daratan Amerika yang memenuhi syarat tinggi Bulan minimal 5 derajat, elongasi minimal 8 derajat, serta ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

"Karena dua parameter di atas tidak terpenuhi, maka awal Zulhijah tidak dapat dimulai pada 17 Mei, melainkan ditetapkan pada Senin, 18 Mei 2026," lanjutnya.

Berdasarkan penetapan tersebut kemudian dihitung bahwa 10 Zulhijah atau Iduladha jatuh pada Rabu 27 Mei 2026. "Kepastian ini menjadi penting karena memberikan ruang persiapan yang lebih baik bagi umat Islam, baik dalam pelaksanaan ibadah kurban, penjadwalan kegiatan keagamaan, maupun penyelenggaraan aktivitas sosial keumatan," tegas PP Muhammadiyah.

Topik Menarik