Loading...
Loading…
Hai Bestie, Healing ke Singapura Jangan Lupa Telusuri Museum Neraka "Haw Par Villa" Rasakan Sensasinya

Hai Bestie, Healing ke Singapura Jangan Lupa Telusuri Museum Neraka "Haw Par Villa" Rasakan Sensasinya

Berita Utama | netralnews.com | Kamis, 29 September 2022 - 14:15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menjelajah berbagai destinasi di Singapura tidak hanya bisa dihabiskan untuk berbelanja, maupun ke tempat rekreasi ternama seperti Universal Studios maupun patung Merlion yang baru saja merayakan hari jadi yang ke-50.

Lebih dari itu, ternyata Singapura banyak menyimpan pilihan destinasi wisata yang mengedukasi dan memberikan pengetahuan sejarah dari zaman terdahulu.

Contohnya saja, salah satu museum bersejarah yang berlokasi di Pasir Panjang, yang banyak menyimpan kebudayaan-kebudayaan kuno dari kebudayaan Tionghoa yakni Par Haw Villa.

Museum yang bersebelahan dengan Stasiun MRT Par Haw Villa ini, akan menyambut pengunjungnya dengan berbagai ornamen bergaya Tionghoa zaman dahulu. Memang, museum ini lebih banyak mengulas kebudayaan Tionghoa.

Memang, Haw Par Villa sendiri tersohor dengan penggambarannya yang jelas akan "Ten Courts of Hell" dari cerita rakyat Tionghoa dan akan bisa menjadi pengingat para pengunjung akan dahsyatnya pembalasan di masa mendatang serta tempat ini juga bisa menjadi lokasi pembelajaran dan penggambaran yang nyata akan moralitas Tionghoa tradisional.

Pada area kompleks museum, berbagai patung dewa-dewi yang mereka percayai juga turut hadir di area komplek museum.

Bahkan, dari sejak awal pengunjung masuk sudah banyak disuguhkan oleh berbagai macam patung seperti patung Dewi Kwan Im yang langsung mengingatkan kita pada serial terkenal yaitu Sun Go Kong dan memang banyak Dewa-Dewi yang ada di museum ini hadir dalam serial tersebut.

Area kompleks yang cukup luas ini juga memiliki berbagai ornamen yang bisa dijadikan objek foto, para pengunjung banyak juga yang memanfaatkan berbagai hiasan yang ada di sana untuk dijadikan latar belakang foto.

Setelah puas melihat area luar yang begitu indah dengan deretan patung-patung, selanjutnya memasuki area dalam museum.

Pertama-tama, para pengunjung akan disuguhkan dengan sebuah serial film dokumenter yang menceritakan berbagai hal mengenai kehidupan dan juga keagamaan. Memang, museum ini erat dengan kebudayaan dan agama.

Setelah asyik menyaksikan film dokumenter sebagai pengantar sebelum memasuki area museum, para pengunjung dipersilahkan untuk keluar ruangan studio dan segera memasuki museum.

Dalam museum tersebut, terdapat kurang lebih 1.000 patung dan 150 diorama yang menggambarkan adegan nyata dari karya sastra Tionghoa nan legendaris seperti Journey To The West, Madame White Snake, dan kisah Eight Immortals.

Dari pintu awal, kita akan disuguhkan dengan berbagai perlakukan dan juga penyiksaan di berbagai neraka yang mereka percayai dari neraka pertama hingga neraka yang ke-10.

Dengan berbagai pembalasan dari apa yang pernah dilakukan di kehidupan sebelumnya. Misal, seorang yang semasa hidupnya sering membunuh untuk mencuri harta maka orang tersebut akan masuk dalam area neraka ke-5 dan akan mendapat siksaan tubuhnya dilempar ke bukit yang di bawahnya terdapat pisau yang tajam.

Selain itu, banyak berbagai gambaran yang menyeramkan akan penyiksaan di neraka yang mereka percayai. Semua tergambar dengan jelas sehingga tidak hanya melihat berbagai ornamen ilustrasi melainkan memberikan kita kesabaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik di kehidupan saat ini.

"Saya jadi berpikir, apakah kehidupan yang akan mendatang akan seperti ini, apakah sebenarnya begini atau tidak. Setidaknya, dengan melihat ini semua kita akan disadarkan untuk menjadi manusia yang lebih baik terhadap sesama," kata pengunjung asal Malaysia, Hazman Hilmi yang datang bersama sahabatnya.

Halaman selanjutnya: Sejarah Haw Par Villa Sejarah Haw Par Villa

Sebagai informasi, Haw Par Villa dulunya dikenal sebagai Tiger Balm Gardens. Dibangun dengan penuh rasa cinta oleh pengusaha kelahiran Myanmar, Aw Boon Haw, untuk saudaranya, Aw Boon Par, taman ini dinamai Tiger Balm balsem medis yang diracik oleh ayah mereka.

Setelah dibangun tahun 1937, area vila ini dibuka untuk umum, merefleksikan kecintaan Boon Haw yang mendalam akan budaya dan mitologi Tionghoa. Boon Haw mengawasi seniman yang menciptakan diorama asli di taman ini, dengan harapan penggambaran nilai tradisional di taman ini akan memberikan penuntun moral bagi masyarakat.

Ketika perang berkecamuk, keluarga Aw melarikan diri dari Singapura ke Yangon (dulu dikenal dengan Rangoon). Taman digunakan sebagai titik pengamatan oleh tentara Jepang, dan beberapa tahun setelah perang usai Aw Boon Haw kembali ke Singapura, lalu membangun kembali taman ini.

Sejak tahun 1940-an hingga 1970-an, banyak anggota keluarga Aw berkontribusi pada perkembangan taman ini. Termasuk anak lelaki Boon Par, Aw Cheng Chye, yang menambahkan banyak diorama di taman ini.

Kecintaannya berwisata menuntunnya ke pendirian International Corners di taman ini, yang digunakan sebagai penghargaan pada budaya dari berbagai negara yang dia kunjungi.

Area ini mulai mengambil bentuk modernnya tahun 1985, ketika Singapore Tourism Board mengambil alih pengelolaan taman ini, dan mulai mempercantik taman ini. Evolusi taman ini yang dinamis terus berlanjut hingga hari ini.

Untuk bisa masuk ke area ini, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk sebesar 18 dolar Singapura atau setara dengan Rp180 ribu.



Original Source

Topik Menarik

{
{