Suka Belanja Impulsif, Gen Z Diingatkan Jangan FOMO, FOPO, YOLO hingga Doom Spending, Apa Itu?
JAKARTA, iNews.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat, khususnya generasi Z (Gen Z) mewaspadai fenomena perilaku keuangan seperti Fear of Missing Out (FOMO), Fear of People's Opinion (FOPO), You Only Live Once (YOLO), hingga doom spending. Perilaku tersebut dinilai dapat mendorong kebiasaan belanja impulsif yang berisiko mengganggu kesehatan finansial.
Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Enriche Putera Utama menjelaskan, salah satu fenomena yang kini banyak terjadi adalah doom spending. Istilah ini menggambarkan kebiasaan seseorang berbelanja secara berlebihan untuk meredakan kecemasan atau stres akibat pesimisme terhadap kondisi ekonomi maupun masa depan.
"Fenomena tersebut menjadi perhatian karena semakin banyak ditemukan di kalangan generasi muda yang akrab dengan media sosial dan berbagai tren digital," ujarnya dalam kegiatan Literasi dan Edukasi Keuangan yang digelar bersama Toyota Astra Financial Services (TAF) di ajang GIIAS 2026, Jumat (7/8/2026).
Selain doom spending, OJK juga mengulas beberapa perilaku keuangan lain yang perlu diwaspadai.
Narasumber Ini Ungkap Tragedi Mengerikan, 5 Anggota Keluarga Meninggal dengan Cara Misterius!
YOLO (You Only Live Once) merupakan pola pikir yang lebih mengutamakan kesenangan sesaat tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan jangka panjang. Sementara FOMO (Fear of Missing Out) membuat seseorang terdorong membeli barang atau mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal dari orang lain.
Adapun FOPO (Fear of People's Opinion) terjadi ketika keputusan keuangan lebih banyak dipengaruhi oleh penilaian maupun ekspektasi orang lain dibandingkan kebutuhan pribadi.
Di sisi lain, OJK juga menyoroti karakteristik Gen Z yang memiliki daya beli tinggi dan minat besar terhadap berbagai produk keuangan. Bahkan sekitar 60 persen pengusaha muda di Indonesia berasal dari kelompok usia tersebut sehingga memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi lain, sekitar 74 persen Gen Z memperoleh informasi melalui media online dengan durasi penggunaan smartphone rata-rata 1 hingga 6 jam per hari. Tingginya paparan informasi dan tren digital dinilai dapat memengaruhi keputusan konsumsi apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.
"Untuk menghindari kebiasaan doom spending, kami mengimbau masyarakat memahami hubungan dengan uang, mengendalikan kebiasaan belanja online, mengaktifkan notifikasi transaksi perbankan pada ponsel, serta selalu menggunakan skala prioritas sebelum melakukan pembelian," kata Enriche.
Dia mengingatkan, kebiasaan mengejar instant gratification atau kepuasan instan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari pembelian impulsif, kecanduan belanja, buruknya pengelolaan keuangan, rendahnya pengendalian diri, hingga menurunnya motivasi dan kesabaran. Selain itu, perilaku tersebut juga dapat membentuk ekspektasi yang tidak realistis terhadap kehidupan maupun kondisi finansial di masa depan.






