Eisenkot Semprot Netanyahu: Hanya Orang Kalah yang Ingin Batalkan Hasil Pemilu

Eisenkot Semprot Netanyahu: Hanya Orang Kalah yang Ingin Batalkan Hasil Pemilu

Terkini | inews | Selasa, 3 November 2026 - 06:49
share

TEL AVIV, iNews.id - Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot melontarkan kritik keras terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang berupaya menggugat hasil pemilu Knesset pekan lalu. Eisenkot menegaskan upaya Netanyahu membatalkan hasil pemungutan suara tersebut telah gagal.

Mantan Panglima Pasukan Pertahanan Israel (IDF) itu bahkan menyindir Netanyahu dengan menyebut hanya orang yang menyadari kekalahannya yang berusaha mendelegitimasi hasil pemilu. Dia juga menilai langkah tersebut sebagai upaya tercela dan jahat karena dianggap mengabaikan kehendak rakyat.

"Hanya seseorang yang menyadari bahwa dia telah kalah, akan siap melancarkan kampanye delegitimasi kasar seperti itu, bahkan dengan mengorbankan kepercayaan publik terhadap lembaga negara," tulis Eisenkot dalam pernyataan di X, dikutip Selasa (3/11/2026).

Dia menegaskan upaya Netanyahu untuk mengingkari hasil pemilu, mencemarkan nama baik komunitas tertentu, hingga menyeret Israel ke pemungutan suara ulang telah gagal.

"Upaya tercela dan jahat untuk mengingkari hasil pemilu, menantang kehendak publik, mencemarkan nama baik seluruh komunitas, dan menyeret Israel ke pemilu baru yang telah gagal," katanya.

Eisenkot juga memastikan tidak akan ada pemilu lanjutan. Dia meyakini pemerintahan baru Israel dapat terbentuk tanpa keterlibatan kelompok sayap kanan yang mendukung Netanyahu.

Menurut dia, hasil pemilu Knesset sudah tegas dan jelas. Eisenkot turut menyambut pernyataan Ketua Komisi Pemilihan Pusat Israel, Hakim Noam Sohlberg, yang menegaskan integritas proses pemungutan suara.

"Abaikan kebisingan latar belakang dan manuver politik yang berubah setiap jam. Rakyat adalah penguasa, dan mereka telah berbicara: Pemerintah yang gagal tidak mendapat dukungan mayoritas dan telah kalah dalam pemilu," ujar Eisenkot.

Sebelumnya, Netanyahu bersama Partai Likud menuduh Qatar melakukan campur tangan dalam pemilu Israel. Doha dituding memberikan pendanaan untuk meningkatkan partisipasi pemilih dari kalangan Arab sehingga memengaruhi hasil pemungutan suara.

Likud mengklaim memiliki rekaman dan berbagai materi yang mendokumentasikan dugaan praktik suap. Partai tersebut menyebut uang tunai dan voucher bahan bakar ditawarkan sebagai imbalan untuk mendapatkan suara pemilih.

Namun, Likud belum secara terbuka memperlihatkan bukti yang mendukung tuduhan campur tangan Qatar maupun dugaan kecurangan pemilu tersebut.

Pemerintah Qatar membantah tuduhan itu. Doha menyebutnya sebagai kampanye hoaks yang bertujuan menyeret Qatar ke dalam perselisihan politik dalam negeri Israel.

Pemimpin partai Arab Joint List, Mansour Abbas, juga membantah tuduhan Likud bahwa partainya menerima pendanaan asing untuk memengaruhi hasil pemilu.

Sementara itu, hasil pemilu menunjukkan blok Netanyahu memperoleh 53 kursi di Knesset dari total 120 kursi yang diperebutkan. Blok oposisi pimpinan Eisenkot mendapatkan 48 kursi, sedangkan partai-partai Arab meraih 19 kursi.

Dengan perolehan tersebut, tidak ada blok utama yang berhasil mengamankan 61 kursi, jumlah minimum untuk membentuk pemerintahan mayoritas di parlemen Israel.

Hasil pemilu itu membuat Israel menghadapi kebuntuan politik. Pembentukan pemerintahan baru bergantung pada kesepakatan antarkelompok politik, termasuk kemungkinan keterlibatan partai-partai Arab.

Namun, kubu oposisi sendiri masih terpecah mengenai kemungkinan menggandeng partai-partai Arab untuk membentuk pemerintahan tanpa Netanyahu.

Topik Menarik