Rebut Kursi Parlemen Israel, Ini Alasan Yahudi Mantan Polisi Gabung Partai Islam di Pemilu
TEL AVIV, iNews.id - Yoav Segalovitz, mantan perwira tinggi kepolisian Israel berusia 67 tahun, punya alasan khusus bergabung dengan partai Islam Ra’am yang dipimpin Mansour Abbas. Politisi Yahudi sekuler yang mengaku sebagai Zionis itu ingin membuktikan bahwa warga Yahudi dan Arab bisa bekerja sama dalam pemerintahan Israel, meski memiliki latar belakang agama dan budaya berbeda.
Segalovitz bahkan meninggalkan partai sentris yang didominasi politisi Yahudi, Yesh Atid, untuk bergabung dalam daftar calon anggota parlemen Ra’am. Langkah tidak biasa itu membawanya ke Knesset setelah partai tersebut meraih delapan kursi dalam pemilu Israel pada 27 Oktober lalu.
Dia dijadwalkan dilantik bersama anggota parlemen baru lainnya pada 10 November. Namun, ada satu hal yang perlu diperjelas: Segalovitz tidak menjadi anggota resmi Ra’am. Dia bergabung dengan faksi parlemen dan maju melalui daftar calon partai tersebut, sehingga tetap mempertahankan identitas politiknya sendiri.
“Dia orang Arab. Saya orang Yahudi. Saya sekuler. Dia religius,” kata Segalovitz, merujuk kepada Abbas, seperti dikutip Associated Press (AP), Selasa (3/11/2026).
“Tetapi kami semua adalah warga Israel. Kita semua mengambil bagian dalam masyarakat ini. Jika ingin mencapai kemajuan di sini, kita harus bekerja sama,” ujarnya.
Dalam wawancara dengan The Jerusalem Post, Segalovitz menjelaskan bahwa keputusannya bergabung dengan partai Arab merupakan upaya membangun jembatan antara masyarakat Yahudi dan Arab yang selama ini terpisah dalam politik Israel.
“Saya yang pergi ke partai Arab. Mereka tidak datang kepada saya,” kata Segalovitz, menegaskan bahwa dirinya sengaja mengambil langkah tersebut untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya kemitraan lintas kelompok.
Dia juga menolak anggapan bahwa partai Arab dan pemimpinnya merupakan ancaman bagi Israel. Menurut dia, warga Arab merupakan bagian dari masyarakat Israel dan harus memiliki kesempatan berperan dalam pemerintahan.
Punya pengalaman menangani kejahatan di komunitas Arab
Keputusan Segalovitz tidak muncul begitu saja. Sebelum terjun ke politik, dia memiliki karier panjang di kepolisian Israel.
Dia pernah memimpin Divisi Investigasi dan Intelijen Kepolisian Israel serta unit kejahatan nasional Lahav 433, yang menangani berbagai kasus kriminal serius. Segalovitz juga pernah menjabat sebagai wakil menteri keamanan publik dalam pemerintahan Israel periode 2021-2022.
Dalam jabatan tersebut, dia bertanggung jawab mengoordinasikan upaya pemerintah memerangi kejahatan terorganisasi dan kekerasan di komunitas Arab.
Pengalaman itu membuatnya memiliki hubungan dengan sejumlah wali kota dan tokoh masyarakat Arab jauh sebelum memutuskan bekerja sama dengan Abbas.
Menurut laporan The Jerusalem Post, Segalovitz ingin pemerintah berikutnya kembali menjalankan program lintas lembaga untuk menekan kejahatan dan kekerasan di komunitas Arab.
Data Abraham Initiatives yang dikutip media tersebut menunjukkan jumlah warga Arab Israel yang tewas akibat kekerasan kriminal turun dari 126 orang menjadi 116 orang selama satu tahun penuh ketika Segalovitz bertugas dalam pemerintahan. Namun, jumlahnya kembali melonjak menjadi 244 orang pada tahun berikutnya setelah pergantian pemerintahan.
Dia menilai persoalan keamanan warga Arab harus menjadi salah satu prioritas pemerintah mendatang. Selain itu, dia mendorong peningkatan akses pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, kesejahteraan, dan infrastruktur bagi komunitas Arab.
Segalovitz juga menilai masyarakat Arab Israel memiliki potensi ekonomi, sosial, dan budaya yang besar. Karena itu, mereka seharusnya dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan ancaman.
Partai Arab raih rekor 19 kursi
Kemitraan Segalovitz dan Abbas muncul pada momentum penting politik Israel. Hasil akhir pemilu 27 Oktober menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hanya meraih 53 kursi, sedangkan blok oposisi utama yang dipimpin Gadi Eisenkot memperoleh 48 kursi.
Sementara itu, partai-partai Arab meraih total 19 kursi di Knesset yang memiliki 120 anggota. Jumlah tersebut merupakan rekor tertinggi dan hampir dua kali lipat dibandingkan 10 kursi yang mereka peroleh dalam pemilu 2022.
Ra’am sendiri mendapatkan delapan kursi, sedangkan aliansi Joint List meraih 11 kursi.
Tidak ada blok politik yang berhasil mencapai 61 kursi untuk mengamankan mayoritas parlemen. Dengan demikian, dukungan partai-partai Arab berpotensi menentukan pembentukan pemerintahan berikutnya.
Namun, upaya membangun koalisi menghadapi hambatan. Sejumlah tokoh oposisi Yahudi menolak bekerja sama dengan partai-partai Arab. Pemimpin Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, misalnya, menyatakan tidak akan membentuk kemitraan dengan mereka.
Associated Press melaporkan, oposisi Israel kini menghadapi pilihan sulit: bekerja sama dengan partai Arab untuk menggantikan Netanyahu atau mempertimbangkan pemerintahan persatuan yang melibatkan kelompok-kelompok politik yang berbeda.
Ingin meruntuhkan sekat politik Yahudi-Arab
Segalovitz dan Abbas berharap kemitraan mereka bisa mengubah cara pandang politik Israel terhadap kerja sama antara warga Yahudi dan Arab.
Dalam perayaan kemenangan Ra’am pada malam pemilu, Segalovitz menjadi satu-satunya politisi partai tersebut yang menyampaikan pidato dalam bahasa Ibrani, bukan bahasa Arab.
“Kulanu Yisraelim!” atau “Kita semua orang Israel!”, serunya di hadapan para pendukung. Pernyataan itu disambut tepuk tangan.
Namun, langkah Segalovitz juga menuai kritik. Sejumlah kelompok sayap kanan menilai keputusannya bergabung dengan partai Islam sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Israel. Sebagian kalangan di Joint List juga menganggap kemitraan tersebut lebih sebagai strategi pencitraan daripada upaya menyelesaikan persoalan masyarakat Arab.
Meski demikian, Segalovitz menegaskan perbedaan pandangan antara dirinya dan Abbas tidak menghalangi kerja sama. Keduanya, misalnya, memiliki perbedaan dalam isu wajib militer dan hak-hak LGBT.
Bagi Segalovitz, tujuan lebih besar dari kemitraan itu adalah membuka ruang bagi warga Yahudi dan Arab untuk bekerja sama dalam politik serta pemerintahan Israel.
Dia berharap langkah tersebut tidak berhenti sebagai eksperimen politik menjelang pemilu, melainkan menjadi awal perubahan hubungan antarkelompok masyarakat di Israel.









