Singapura Selidiki Perusahaan di Balik Karhutla RI Pemicu Kabut Asap
SINGAPURA — Singapura tengah menyelidiki perusahaan yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta lahan gambut di Indonesia yang menyebabkan kabut asap semakin parah. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada Kamis 15 Oktober 2026.
"Jika diperlukan, kami akan mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Polusi Asap Lintas Batas Singapura dan menjajaki langkah bersama dengan negara-negara lain," ujarnya melansir CNA, Sabtu (17/10/2026).
Undang-Undang Polusi Asap Lintas Batas yang mulai berlaku pada September 2014 memungkinkan pihak berwenang mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan yang menyebabkan atau turut menyebabkan polusi kabut asap di Singapura, meskipun kegiatan mereka berlangsung di luar negeri.
Wong mengatakan, situasi kabut asap diperburuk oleh musim kering yang berkepanjangan. Singapura telah menawarkan bantuan kepada Indonesia dan akan terus bekerja sama erat dengan negara tersebut serta negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) lainnya untuk mengatasi masalah ini.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada Kamis menyetujui bantuan dari luar negeri untuk menangani karhutla. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir, menurut laporan media lokal.
Sementara kualitas udara di Singapura memburuk tajam pada Rabu. Angka PM2.5 per jam di wilayah barat mencapai 288 pada pukul 15.00, tertinggi yang tercatat di Singapura sejak 2015.
Indeks Standar Polutan (PSI) selama 24 jam juga mencapai 212 di wilayah barat pada Kamis, menjadi level tertinggi di Singapura tahun ini.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu pada Rabu mengatakan bahwa pemerintah masih mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Polusi Asap Lintas Batas. Pemerintah juga mengumpulkan dan meninjau data terkait situasi kabut asap.
Masker N95 dan masker setara dibagikan kepada warga Singapura yang rentan. Sementara itu, ruangan berpendingin udara di pusat-pusat komunitas disediakan sebagai tempat berlindung dari kabut asap.
"Kami akan memastikan bantuan tersedia bagi mereka yang membutuhkannya," kata Wong.
"Kami tidak dapat mengendalikan cuaca atau angin, maupun apa yang terjadi di luar perbatasan kami. Namun, kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk melindungi warga Singapura, sembari bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk mengatasi akar penyebab kabut asap," tuturnya.









