Beda Pola Asuh dengan Kakek-Nenek, Bagaimana Orang Tua Harus Bersikap?
MENETAPKAN batasan atau boundaries dalam pengasuhan anak bukanlah hal yang mudah, terutama bagi orangtua muda. Di satu sisi, kakek dan nenek ingin menunjukkan rasa sayang kepada cucunya sekaligus mewariskan pengetahuan dan kebiasaan tradisional yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Namun, di sisi lain, orangtua memiliki pemahaman dan prinsip pengasuhan tersendiri yang ingin diterapkan kepada anak mereka. Lantas, bagaimana cara orangtua, utamanya orangtua muda, menetapkan boundaries kepada kakek dan nenek tanpa menyinggung perasaan mereka?
1. Bangun Kesepakatan Antara Suami dan Istri Sebelum Bayi Lahir
Dokter spesialis anak, dr. Atika Nurmalitasari, Sp.A, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone mengatakan salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah membangun kesepakatan antara suami dan istri sebelum bayi lahir. Calon orangtua perlu pelajari kebutuhan bayi dan mendiskusikan hal-hal yang boleh maupun tidak boleh dilakukan dalam pengasuhan.
AMSI Gelar Doa Bersama demi Keselamatan 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Hilang Kontak di Selat Sunda
Dengan memiliki pemahaman yang sama, kedua orangtua dapat menentukan prinsip pengasuhan yang akan diterapkan. Hal ini bisa diterapkan mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga hal-hal tradisional yang perlu dipertimbangkan dari sisi keamanan dan kesehatan anak.
Kesepakatan ini juga penting agar orangtua dapat menyampaikan aturan pengasuhan kepada kakek, nenek, dan anggota keluarga lain yang terlibat dalam merawat bayi. Orangtua bisa menjelaskan alasan di balik batasan tersebut dengan cara yang baik.
Misalnya, orangtua dapat menyampaikan bahwa aturan itu dibuat berdasarkan kebutuhan dan keamanan anak, bukan karena ingin menolak perhatian atau kasih sayang dari kakek dan nenek.
“Mungkin apa yang akan saya sampaikan ini terdengar sedikit klise, ya, tetapi bisa dicoba, terutama bagi para ayah baru,” ujar dr. Atika.
“Penting bagi suami dan istri untuk bekerja sama sejak sebelum anak lahir dalam menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pengasuhan anak,” lanjutnya.
“Itulah mengapa calon orangtua perlu belajar tentang bayi yang akan mereka lahirkan. Ketika sudah memiliki kesepakatan mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, orang tua juga perlu menyampaikannya kepada kakek, nenek, dan orang dewasa terdekat lainnya,” jelas dr. Atika.
“Misalnya, orangtua bisa menjelaskan, ‘Ini anak kami, jadi ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan dalam pengasuhannya karena alasan tertentu,’” sambungnya.
2. Libatkan Kakek dan Nenek dalam Konsultasi dengan Dokter Anak
dr. Atika mengatakan cara lain yang dapat dicoba untuk menyampaikan batasan pengasuhan adalah mengajak kakek dan nenek ikut berkonsultasi dengan dokter anak. Cara ini dapat menjadi solusi ketika orangtua merasa kesulitan menyampaikan pendapat kepada orangtua mereka sendiri.
Tidak jarang, nasihat dari tenaga kesehatan lebih mudah diterima karena disampaikan oleh pihak ketiga yang dianggap memiliki pengetahuan dan keahlian di bidangnya. dr. Atika menyarankan konsultasi tidak hanya melibatkan orangtua dan bayi, tetapi juga anggota keluarga dewasa yang tinggal serumah atau sering membantu menjaga anak.
Dengan demikian, seluruh anggota keluarga dapat memperoleh pemahaman yang sama mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pengasuhan bayi.
John Herdman Belum Rilis Skuad Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup, Singgung Cedera Pemain
Selain membantu menjelaskan aspek kesehatan dan keselamatan, konsultasi bersama juga dapat menjadi kesempatan untuk mendiskusikan kebiasaan tradisional yang selama ini dilakukan keluarga. Dengan begitu, setiap keputusan dapat dipertimbangkan berdasarkan manfaat, risiko, dan kebutuhan anak.
“Namun, terkadang kakek dan nenek mungkin merasa kurang nyaman jika diberi tahu langsung oleh anak mereka sendiri. Dalam beberapa kasus, saya biasanya meminta kakek dan nenek untuk ikut berkonsultasi ke klinik,” jelas dr. Atika.
“Jadi yang berkonsultasi bukan hanya orang tua dan bayinya, tetapi juga orang dewasa yang ikut mengasuh anak, misalnya anggota keluarga yang tinggal serumah atau yang sering dititipi untuk menjaga bayi,” lanjutnya.
“Mereka bisa diajak ikut berkonsultasi agar kita dapat berdiskusi bersama mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pengasuhan anak. Umumnya, ketika ada pihak lain yang menyampaikan informasi, seperti dokter anak, kakek dan nenek mungkin akan lebih terbuka untuk mendengarkan dibandingkan ketika anak mereka sendiri yang menyampaikannya,” tutupnya.









