Kemenkes Catat 219.559 Kasus ISPA Imbas Karhutla, 63.711 Di Antaranya Balita

Kemenkes Catat 219.559 Kasus ISPA Imbas Karhutla, 63.711 Di Antaranya Balita

Terkini | idxchannel | Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:10
share

IDXChannel—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 219.559 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 7 provinsi, 63 kabupaten/kota. Dari jumlah itu, sebanyak 63.711 kasus ISPA diderita anak di bawah usia lima tahun (balita).

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti menyampaikan, pihaknya mendeteksi ada 12 daerah berbahaya yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Sumatera Selatan dan Riau. Jumlah itu didata hingga Selasa (13/10/2026) per pukul 13.30 WIB.

"Tentunya ini berakibat terhadap risiko kesehatan, karena kita tahu asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus, yaitu PM 2.5, serta karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti ISPA," kata Then saat jumpa pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026).

Kendati demikian, Kemenkes mencatat pertumbuhan kasus ISPA mencapai 3.897 per hari. Bahkan, total jumlah kasus ISPA menembus lebih dari 200.000 kasus, dengan rincian 63.711 kasus diderita balita dan 219.559 diderita usia di atas lima tahun.

"Secara kumulatif, ini ada 283.270 dengan kasus terbanyaknya pada usia di atas 5 tahun, yaitu 219.559 di 7 provinsi, 63 kabupaten/kota. Dan paling banyak kalau kita lihat di Kalimantan Selatan sebanyak 74.636, diikuti oleh Sumatera Selatan 74.458," ucap Then.

Then menyampaikan, pihaknya telah melakukan promotif preventif untuk mencegah peningkatan kasus ISPA. Salah satunya, Kemenkes melakukan edukasi promosi untuk mengurangi risiko krisis kesehatan.

"Kemudian juga kita melakukan pemantauan penyakit ISPA, pneumonia asma maupun iritasi mata dan kulit itu kita pantau. Termasuk ketersediaan daripada stok obat, kemudian eh BMHP, dan kondisi kapasitas daripada Puskesmas dan rumah sakit," tutur Then.

"Demikian juga kami melakukan surveilans kualitas udara dalam ruangan sehingga Dinas maupun Puskesmas memantau dan menginput data sehingga kita tahu peningkatan kadar udara di dalam ruangan maupun luar ruangan untuk wilayah masing-masing Puskesmas," imbuhnya.

Di sisi lain, Kemenkes juga sudah menerbitkan surat kewaspadaan untuk Dinas Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan agar menyiapkan layanan kesehatan dan merekomendasikan pembelajaran jarak jauh bagi wilayah terdampak kahutla kepada Kemendikdasmen dan Kemenag.

"Dan tentunya seluruh pos dan Puskesmas yang ada di wilayah eh 7 provinsi tersebut kami siapkan termasuk rumah sakit, labkesmas, maupun PSC 119-nya," pungkasnya.


(Nadya Kurnia)

Topik Menarik