Lebih Dahsyat dari Krakatau, Letusan Tambora 1815 Bikin Dunia Tanpa Musim Panas selama Setahun
JAKARTA, iNews.id - Tanggal 10 April 1815 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Nusantara. Dari Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara, Gunung Tambora memuntahkan energi yang belum pernah disaksikan manusia modern, melebihi letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau pada 1883.
Dentumannya terdengar hingga Pulau Sumatra, lebih dari 2.000 kilometer jauhnya. Seperti dilansir dari laman Scientific American, pejabat Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles, sempat mengira suara itu berasal dari tembakan meriam dan memerintahkan pasukan bersiaga.
Tak ada yang menyangka, suara tersebut berasal dari letusan gunung api yang kemudian mengubah cuaca dunia.
Sebelum meletus, Tambora diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 4.300 meter. Namun, setelah erupsi besar itu, puncaknya runtuh dan menyisakan kaldera raksasa sedalam ratusan meter.
Letusan Tambora diklasifikasikan sebagai VEI-7 (Volcanic Explosivity Index), satu tingkat di bawah supererupsi. Banyak ilmuwan menyebutnya sebagai letusan terbesar dalam sejarah modern dan salah satu yang paling dahsyat dalam seribu tahun terakhir.
Keluarga Sutrimo Orang Dekat Eks Jampidsus Lapor Polisi: Penyebab Kematian Wajar atau Tidak?
Abu vulkanik menyelimuti Sumbawa, Lombok, Bali, hingga sebagian Jawa. Awan panas dan hujan abu memusnahkan permukiman serta lahan pertanian.
Ribuan orang meninggal akibat dampak langsung letusan, sementara puluhan ribu lainnya tewas karena kelaparan dan penyakit setelah sumber pangan hancur.
Berbagai penelitian memperkirakan jumlah korban mencapai lebih dari 70.000 jiwa, menjadikannya salah satu bencana gunung api paling mematikan dalam sejarah.
Namun, dampak Tambora tidak berhenti di Indonesia. Letusan itu melemparkan jutaan ton sulfur dioksida ke stratosfer. Gas tersebut berubah menjadi aerosol sulfat yang menyebar ke seluruh dunia dan memantulkan sebagian sinar Matahari.
Akibatnya, suhu Bumi turun dan memicu gangguan iklim global.
Dampak letusan Tambora masih berlanjut sampai setahun berikutnya yakni 1816 yang kemudian dikenang sebagai "The Year Without a Summer" atau "tahun tanpa musim panas". Di Amerika Utara, salju turun pada Juni dan Juli.
Di Eropa, cuaca dingin dan hujan berkepanjangan menyebabkan gagal panen, kelaparan, serta kerusuhan sosial.
Sejumlah peneliti juga mengaitkan perubahan iklim pascaTambora dengan penyebaran pandemi kolera pada abad ke-19.







