Ratusan Mantan Perwira Israel Geram dengan Kekerasan Pemukim Yahudi di Tepi Barat
TEL AVIV, iNews.id - Ratusan mantan perwira dan pejabat keamanan Israel mengaku geram dengan meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Mereka mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan aksi tersebut.
Dalam surat terbuka, hampir 600 mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel memperingatkan bahwa kekerasan pemukim Yahudi dapat memicu konflik yang lebih luas serta mengancam keamanan Israel, AS, dan kawasan Timur Tengah. Mereka juga menyebut Trump sebagai satu-satunya sosok yang mampu memaksa Netanyahu mengambil tindakan tegas.
Kelompok lobi Commanders for Israel's Security (CIS) meminta Trump mengangkat persoalan itu dalam pertemuannya dengan Netanyahu pekan lalu. Kunjungan tersebut merupakan pertemuan ketujuh Netanyahu ke Gedung Putih selama masa jabatan kedua Trump sejak 2024.
Dalam surat itu, hampir 600 mantan pejabat militer Israel mendesak Trump membantu mengakhiri krisis akibat meningkatnya kekerasan di Tepi Barat.
"Kecuali dihentikan dengan cepat dan tegas, meningkatnya kekerasan di Tepi Barat siap menyulut konflik di kawasan dan memberikan dampak serius bagi keamanan Israel dan kepentingan regional AS," demikian isi surat kelompok CIS, seperti dikutip dari Al Jazeera.
"Menurut penilaian profesional kami, tidak ada seorang pun selain Anda, Bapak Presiden, yang bisa mencegah malapetaka ini," lanjut isi surat tersebut.
CIS merupakan organisasi Zionis yang beranggotakan lebih dari 550 purnawirawan kolonel, jenderal, serta pejabat senior dari badan intelijen Mossad, Shin Bet, Kepolisian Israel, dinas luar negeri, dan lembaga keamanan lainnya. Kelompok itu menyatakan misinya adalah menjaga masa depan Israel sebagai negara demokrasi bagi bangsa Yahudi.
Dalam suratnya, CIS juga menuding ada anggota pemerintah Israel yang sengaja membiarkan situasi memburuk, termasuk memberikan perlindungan kepada para pemukim Yahudi serta pasukan Israel agar terhindar dari proses hukum.
Mereka memperingatkan bahwa meningkatnya aksi kekerasan pemukim dapat memicu dampak yang sangat serius.
"Peningkatan aktivitas teror pemukim Yahudi berisiko menimbulkan konsekuensi yang mungkin terbukti lebih dahsyat daripada serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel dan dampaknya di berbagai front," tulis CIS.
Surat tersebut muncul di tengah meningkatnya kekerasan para pemukim ilegal Israel di berbagai wilayah Tepi Barat. Pada akhir pekan lalu, bentrokan bersenjata di Kota Tal menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina.








