Ngeri! CIA Bandingkan Kecerdasan Buatan dengan Senjata Nuklir
WASHINGTON, iNews.id - Badan intelijen badan Amerika Serikat (AS) CIA mengkhawatirkan dampak kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sangat membahayakan.
Mendengungkan kekhawatiran Presiden Donald Trump tentang perkembanga AI, Direktur CIA John Ratcliffe bahkan membandingkan kemampuan model AI tercanggih dengan senjata nuklir.
“Dalam pembicaraan dengan banyak penasihat keamanan nasional dan ekonomi Presiden (Trump), kami membahas dampak dari model AI paling mutakhir ini,” kata Ratcliffe, saat berpidato di KTT AWS, perusahaan layanan cloud terbesar di dunia, di Washington DC, seperti dikutip dari Reuters.
“Tidaklah salah untuk menyebut kemampuan mereka mirip dengan senjata nuklir digital,” katanya.
Pemerintah AS pada Juni lalu memaksa Anthropic, perusahaan AI terkemuka yang berbasis di San Francisco, memutus akses ke dua model terkuat, Mythos 5 dan Fable 5, dengan memberlakukan kontrol terhadap ekspor.
Ini merupakan penarikan paksa model AI untuk pertama kalinya oleh pemerintah AS. Namun pembatasan dilonggarkan untuk model Mythos pada 26 Juni, sementara Fable masih offline.
OpenAI, pesaing Anthropic, meluncurkan model GPT-5.6 pada hari yang sama dengan akses yang sangat terbatas. Namun OpenAI lebih terbuka, untuk pertama kali menyetujui pemerintah AS memeriksa klien-klien tertentu.
Ratcliffe menegaskan, pelacakan teknologi AI menjadi prioritas utama kalangan intelijen. Dia menyebut kebijakan ini sama pentingnya dengan ancaman dari China.
Membandingkan bahayanya model mutakhir AI dengan senjata nuklir semakin umum dalam beberapa bulan terakhir di kalangan badan keamanan nasional AS. Beberapa lembaga think tank menggambarkan kondisi ini seperti perlombaan senjata teknologi sesungguhnya antara AS melawan China dan Rusia.
Dia menuduh musuh-musuh AS berupaya mencuri dan memanipulasi kemajuan AS untuk kepentingan dan keuntungan mereka.
Ratcliffe juga memuji dukungan CIA terhadap teknologi AS.
Dia menjelakan, untuk menjawab tantangan ini, CIA melakukan reorganisasi di bagian keamanan siber. Dia menggunakan istilah "pedang" dan "perisai" untuk mempertahankan infrastruktur penting.
Ratcliffe telah bertemu bos SpaceX Elon Musk serta para eksekutif Amazon, Google, dan Dell, untuk membahas kekhawatiran tersebut.









