Fakta-Fakta Penyiksaan Israel terhadap Aktivis GSF: Disetrum hingga Pelecehan Seksual

Fakta-Fakta Penyiksaan Israel terhadap Aktivis GSF: Disetrum hingga Pelecehan Seksual

Terkini | inews | Jum'at, 22 Mei 2026 - 10:27
share

ISTANBUL, iNews.id - Para aktivis misi kemanusiaan Gaza, Global Sumud Flotilla (GSF), mengungkap penyiksaan yang dilakukan tentara Israel terhadap mereka selama penahanan. Bentuk kekerasan yang dialami para aktivis disebut mulai dari disetrum, dipukul, ditendang, hingga pelecehan seksual.

Aktivis Belgia Arno Meyne mengatakan, sejumlah aktivis mengalami luka serius seperti patah tulang dan trauma kepala selama berada di “kapal penjara” milik Israel. Dia bahkan menyebut beberapa aktivis mengalami pelecehan seksual.

Selain itu, para aktivis juga mengaku mengalami kekerasan fisik dan perlakuan tidak manusiawi. Dokter asal Australia Bianca Webb-Pullman mengatakan para aktivis diperlakukan lebih buruk daripada hewan karena dibiarkan kelaparan dan kehausan selama penahanan.

“Kami bukan penjahat. Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan. Maksud saya, hewan, Anda masih akan memberinya air,” ujar Webb-Pullman, dikutip dari Anadolu, Jumat (22/5/2026).

Israel sebelumnya membebaskan 422 aktivis misi kemanusiaan Gaza dari 44 negara pada Kamis (21/5/2026). Mereka ditangkap sejak Senin lalu sebelum diterbangkan ke Turki untuk dipulangkan ke negara masing-masing.

Berikut fakta-fakta dugaan penyiksaan tentara Israel terhadap aktivis GSF:

1. Aktivis Mengaku Disetrum dan Dipukuli

Sejumlah aktivis mengungkap mengalami penyiksaan berupa disetrum, dipukul, ditendang, hingga diseret secara kasar selama penahanan.

Aktivis Prancis Adrien Jouan menunjukkan memar dan luka di tubuhnya akibat pemukulan yang disebut terjadi di kapal pertama maupun di kapal penjara.

“Ya, mereka memukuli saya, tapi juga banyak di bagian belakang, di kapal pertama, di kapal penjara, ketika mereka menjemput kami. Dan itu semacam penyiksaan,” kata Jouan.

2. Kapal Misi Kemanusiaan Disebut Ditembaki

Bianca Webb-Pullman mengatakan perlakuan pasukan Israel terhadap rombongan GSF sangat agresif sejak awal. Bahkan kapal misi kemanusiaan mereka disebut sempat ditembaki sebelum akhirnya ditahan.

Webb-Pullman bergabung dengan GSF bersama sejumlah tenaga medis Australia untuk mengirim bantuan kemanusiaan dan medis ke Jalur Gaza.

3. Aktivis Diseret dan Diperlakukan Kasar

Menurut Webb-Pullman, para aktivis diseret keluar dari kapal menuju dermaga dalam posisi yang menyiksa.

“Kami ditahan di sana selama lebih dari satu jam, sementara tentara Israel memutar lagu kebangsaan berulang kali dan mereka mengatakan, ‘Selamat Datang di Israel’ seraya bersikap brutal terhadap semua orang,” ujarnya.

Dia menambahkan tentara Israel memukuli dan menendang para aktivis sepanjang proses di dermaga.

“Mereka memukuli, menendang orang-orang, dan ini berlangsung sepanjang proses di dermaga, sangat merendahkan martabat,” katanya.

4. Aktivis Dibiarkan Kelaparan dan Kehausan

Para aktivis mengaku tidak mendapatkan perlakuan layak selama ditahan. Mereka disebut dibiarkan kelaparan dan kehausan.

Webb-Pullman menilai tindakan tersebut sangat tidak manusiawi, terlebih para aktivis datang untuk membantu warga Gaza yang membutuhkan bantuan medis dan kemanusiaan.

5. Tidak Diberikan Bantuan Medis

Meski banyak aktivis mengalami kekerasan, militer Israel disebut tidak memberikan bantuan medis apa pun.

“Banyak rekan medis saya mengalami kekerasan parah, dan dipaksa untuk merawat pasien di atas kapal tanpa dukungan medis dari IOF,” ujar Webb-Pullman.

6. Tahanan Arab Mengalami Penyiksaan Lebih Parah

Adrien Jouan mengatakan beberapa tahanan berlatar belakang Arab atau mereka yang tidak tampak seperti orang Eropa kulit putih mengalami perlakuan lebih keras.

“Beberapa orang Arab, atau beberapa yang tampak bukan orang Eropa kulit putih, dipukuli jauh lebih parah daripada saya, dan disiksa lebih parah,” katanya.

7. Aktivis Siap Tempuh Jalur Hukum

Jouan menegaskan dirinya akan mengambil tindakan hukum terhadap tentara Israel atas perlakuan yang dialaminya bersama para aktivis lain.

“Tidak normal jika mereka dapat melakukan begitu banyak hal ilegal, sehingga kita harus menuntut mereka,” ujarnya.

Dia juga memastikan seluruh aktivis mengalami kekerasan selama berada di kapal penjara Israel.

Topik Menarik