Ekonomi China Lesu pada April 2026, Pertumbuhan Penjualan Ritel Terlemah sejak 2022
IDXChannel - Pengeluaran konsumen dan produksi pabrik di China tumbuh dengan laju paling lambat dalam beberapa tahun terakhir pada April 2026.
Dilansir dari AFP pada Senin (18/5/2026), China masih berjuang untuk membangkitkan perekonomian domestik yang lesu sejak pandemi.
Menurut data dari Biro Statistik Nasional (NBS), pertumbuhan penjualan ritel merosot menjadi hanya 0,2 persen year-on-year bulan lalu.
Angka tersebut merupakan pertumbuhan penjualan ritel paling lambat sejak Desember 2022, ketika negara itu diguncang oleh wabah Covid-19.
Angkanya juga dibawah perkiraan pasar. Para ekonom yang disurvei Bloomberg sebelumnya memprediksi pertumbuhan sebesar 2,0 persen.
Pertumbuhan produksi industri juga melambat tajam bulan lalu, hanya tumbuh 4,1 persen secara tahunan. Itu merupakan yang terlemah sejak Juli 2023.
"Lingkungan eksternal tetap kompleks dan bergejolak," kata Juru Bicara NBS Fu Linghui dalam konferensi pers.
"Di dalam negeri, ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah tetap menjadi masalah utama," ujarnya.
Tokoh Lintas Agama: Polemik Ceramah JK Tak Perlu Dibawa ke Jalur Hukum, Dialog Lebih Bijak
Beijing menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini antara 4,5 dan 5,0 persen, lebuh rendah dari target tahun lalu
Data resmi yang dirilis bulan lalu menunjukkan bahwa China berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tersebut, meskipun para ahli memperingatkan dampak pada ekonomi China dari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. (Wahyu Dwi Anggoro)










