BMKG Ingatkan Potensi Tsunami hingga 3 Meter akibat Gempa Bumi Magnitudo 7,6 Bitung
IDXChannel - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi tsunami hingga 3 meter akibat gempa kekuatan Magnitudo 7,6 yang berpusat di Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4/2026).
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini berpotensi tsunami di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung dengan status Siaga dengan ketinggian tsunami diperkirakan 0,5 hingga 3 meter,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani saat Konferensi Pers, Kamis (2/4/2026).
Faisal pun mengatakan bahwa deteksi gempa otomatis telah dirilis oleh BMKG yaitu pada 1 menit 20 detik setelah gempa terjadi.
“Kemudian peringatan dini pertama kami keluarkan pada 2 menit 50 detik setelah gempa terjadi. Jadi kurang dari 3 menit BMKG telah memberikan peringatan dini pertama. Disusul dengan update peringatan dini kedua, 8 menit setelah gempa terjadi,” katanya.
Lebih lanjut, Faisal mengungkapkan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi, yaitu akibat aktivitas subduksi Laut Maluku.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault," katanya.
Sementara itu, Plt. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan bahwa gempa kekuatan M7,6 di Bitung kali ini termasuk jenis gempa megathrust. Apalagi, gempa ini telah memicu tsunami di beberapa wilayah di Sulut.
“Ini kalau lihat kedalamannya cukup dangkal ya, sekitar 33 kilometer. Kalau kategori megathrust itu kan dari sampai kedalaman sekitar 30-an Km. Jadi ini memang dangkal dan (pusat) di laut. Ini dari subduksi Laut Maluku terhadap di wilayah Sulawesi Utara. Jadi subduksi Laut Maluku yang menghujam ke wilayah Sulawesi Utara dan episenter ada di Punggungan Mayu. Dan kemudian cukup dangkal, dan ini kategori sesar naik,” katanya.
Rahmat menambahkan bahwa mekanisme sumber gempa berupa sesar naik (thrust fault), yang dikenal memiliki potensi lebih besar dalam memicu tsunami dibandingkan dengan sesar mendatar.
“Makanya, ini tadi kami segera mengeluarkan warning karena sesar naik itu potensi menimbulkan tsunaminya sangat tinggi dibandingkan dengan yang mekanisme mendatar ya. Jadi, dan kami sudah segera merilis peringatan dini tsunami di beberapa wilayah terdampak," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)










