AS Serang Venezuela, China Beralih ke Minyak Iran dan dan Rusia
IDXChannel - Kilang-kilang independen China diperkirakan beralih ke minyak mentah dari berbagai sumber, termasuk Iran dan Rusia, dalam beberapa bulan mendatang untuk menggantikan pengiriman dari Venezuela.
Dilansir dari Reuters pada Kamis (8/1/2026), pengiriman dari Venezuela dihentikan sejak Amerika Serikat (AS) menggulingkan presiden negara tersebut.
Caracas dan Washington sepakat untuk mengekspor minyak mentah Venezuela senilai hingga USD2 miliar ke AS, setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu.
Pengaturan tersebut kemungkinan akan mengurangi pasokan minyak Venezuela ke China, mengurangi sumber minyak murah bagi kilang-kilang independen yang dikenal dengan julukan teapots.
China selama ini merupakan pembeli utama minyak diskon yang dikenai sanksi dari Rusia, Iran, dan Venezuela.
"Drama Venezuela paling berdampak pada kilang-kilang independen China, karena mereka mungkin kehilangan akses ke minyak mentah berat dengan harga diskon," kata Analis Sparta Commodities June Goh.
China mengimpor 389.000 barel minyak Venezuela per hari pada 2025, sekitar empat persen dari total impor minyak mentah melalui laut, menurut data dari firma riset Kpler.
Setidaknya selusin kapal yang dikenai sanksi yang melakukan pemuatan pada Desember meninggalkan perairan Venezuela pada awal Januari dengan membawa sekitar 12 juta barel minyak mentah dan bahan bakar. Namun, aktivitas pemuatan untuk Asia di pelabuhan utama Venezuela telah berhenti sejak Januari.
Minyak mentah Venezuela yang berada di atas kapal menuju Asia cukup untuk memenuhi sekitar 75 hari permintaan China. Teapots yang menggunakan minyak Venezuela kemungkinan akan beralih ke minyak Rusia dan Iran pada Maret atau April. China juga dapat memanfaatkan sumber-sumber yang tidak dikenai sanksi seperti Kanada, Brasil, Irak, dan Kolombia. (Wahyu Dwi Anggoro)



