Iran Bergejolak! Protes Massal Meletus di Teheran hingga Trump Ancam Serangan
TEHERAN - Aksi protes jalanan meletus di Teheran, Iran, seiring meluasnya gelombang unjuk rasa anti-pemerintah di berbagai wilayah negara tersebut, pada Kamis, 8 Januari 2026.
Ribuan warga turun ke jalan meluapkan kemarahan atas kondisi ekonomi yang memburuk dan tindakan keras aparat keamanan.
Para demonstran berbaris di sejumlah ruas jalan ibu kota sambil meneriakkan slogan-slogan menentang rezim teokratis yang berkuasa. Aksi ini dipicu oleh inflasi tinggi, melemahnya mata uang rial, serta melonjaknya harga kebutuhan pokok yang semakin menekan kehidupan masyarakat.
Tak lama setelah protes dimulai, pihak berwenang Iran memutus akses internet dan jaringan telepon di sejumlah wilayah. Organisasi pengawas internet menilai langkah tersebut sebagai indikasi awal kemungkinan tindakan represif yang lebih keras, meski pemadaman tidak sepenuhnya menghentikan penyebaran video protes di media sosial.
Sebagian pengunjuk rasa diduga merespons seruan Putra Mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, untuk turun ke jalan. Dalam sejumlah video yang diverifikasi CNN, terdengar massa meneriakkan slogan, “Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali.”
Pahlavi sendiri menyampaikan dukungan melalui akun X miliknya. Ia mendesak warga Iran untuk turun ke jalan dan bersatu menyuarakan tuntutan mereka.
“Turunlah ke jalan dan, sebagai satu kesatuan, teriakkan tuntutan Anda. Bangkitlah Iran!” tulis Pahlavi, seperti dilansir dari CNN, Jumat (9/1/2026).
Rekaman yang diverifikasi CNN juga menunjukkan protes massal di berbagai kota Iran. Para demonstran tampak memblokir jalan, membakar ban, dan bentrok dengan aparat keamanan. Di sejumlah lokasi, massa pro dan kontra pemerintah terlihat saling berhadapan sambil meneriakkan slogan yang berlawanan.
Situasi tersebut turut memicu respons dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pada Kamis (8/1), Trump kembali melontarkan ancaman akan menyerang Iran jika pasukan keamanan membunuh para demonstran.
“Saya telah memberi tahu mereka, bahwa jika mereka mulai membunuh orang, yang cenderung mereka lakukan selama kerusuhan, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump kepada penyiar radio Hugh Hewitt.
Gelombang protes ini dipicu oleh krisis ekonomi yang telah berlangsung lama. Jutaan warga Iran kini bergulat dengan inflasi yang merajalela, nilai tukar mata uang yang terus merosot, serta menurunnya daya beli masyarakat.
Aksi unjuk rasa awalnya muncul bulan lalu di pasar dan kampus-kampus Teheran, sebelum menyebar ke berbagai kota lain. Para pengamat menilai gerakan ini bersifat spontan, tanpa pemimpin yang jelas, dan berubah semakin keras ketika tuntutan ekonomi bercampur dengan tuntutan politik.
“Ini terasa berbeda karena ini soal daya beli rakyat. Orang-orang benar-benar tidak mampu membeli apa pun,” ujar seorang warga Teheran berusia 30 tahun yang meminta identitasnya dirahasiakan.
“Harga naik hampir setiap jam, dan tidak ada yang tahu kapan ini akan berakhir. Semua orang khawatir,” sambungnya.
Awal Mula Protes
Gejolak bermula ketika para pedagang di Grand Bazaar Teheran memprotes kebijakan ekonomi pemerintah pekan lalu. Situasi memburuk setelah bank sentral Iran menghentikan program subsidi dolar AS bagi sejumlah importir, yang memicu lonjakan harga secara drastis.
Harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan ayam melonjak dalam semalam, bahkan sebagian barang menghilang dari pasaran. Kondisi ini mendorong banyak pedagang menutup toko mereka—langkah ekstrem dari kelompok yang selama ini dikenal sebagai pendukung Republik Islam.
Pemerintah yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian mencoba meredam kemarahan publik dengan menawarkan bantuan tunai langsung sekitar US$7 per bulan. Namun, pemerintah mengakui langkah tersebut tidak cukup untuk mengatasi krisis.
“Kita tidak boleh berharap pemerintah bisa menangani semua ini sendirian,” ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi.

