Khawatir Jadi Korban Pornografi, Perempuan Korsel Ramai-Ramai Hapus Foto dari Medsos
SEOUL, iNews.id - Korea Selatan (Korsel) sedang dihebohkan dengan maraknya video dan foto porno deepfake menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Jika awalnya para korban adalah artis, kini banyak perempuan muda biasa, bahkan remaja, yang menjadi korban.
Selain mengganti wajah, praktik deepfake ini juga bisa mengincar siapa pun, foto mereka bisa diubah menjadi versi tanpa busana.
Oleh sebab itu, para perempuan Korsel menghapus foto-foto selfie mereka dari media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Tak ada seorang pun yang bisa terbebas dari sasaran kejahatan ini.
"Rasanya tempat yang seharusnya menjadi yang teraman bagi kami, rutinitas kami, kini telah dilanggar," kata Lee, seorang perempuan 27 tahun, dikutip dari Yonhap, Senin (2/9/2024).
Isu pornografi deepfake menjadi heboh di Korsel setelah polisi menangkap pria 40 tahun. Dia dituduh bekerja sama dengan tiga pria lain untuk membuat foto dan video aktivitas seksual deepfake menggunakan teknologi AI. Hasil foto dan video itu lalu dibagikan di Telegram.
Rawan Tawuran, Polisi Ingatkan Pelajar di Tanjung Priok soal Kenakalan Remaja hingga Pornografi
Sejauh ini polisi telah menerima laporan 61 korban, termasuk 12 alumni dari kampus yang sama dengan pelaku.
Setelah informasi ini mengemuka, berbagai obrolan di media sosial pun marak. Bahkan netizen mengungkap ada korban anak perempuan di bawah umur.
Satu akun Telegram yang memiliki lebih dari 220.000 anggota melengkapi salurannya dengan aplikasi yang bisa mengubah foto seorang perempuan menjadi telanjang seketika. Bahkan admin akun mengajak anggota untuk membagikan foto-foto yang mereka dapat untuk dibuat model pornonya.
Bae Sang Hoon, seorang profesor dari Universitas Woosuk, mengatakan motif pelaku bervariasi, mulai dari didorong oleh perasaan rendah diri, geli, hingga pelecehan atau balas dendam kepada seseorang.
Semua orang bisa melakukannya karena sudah ada aplikasi untuk menghasilkan produk porno. Aplikasi pada Telegram yang dikombinasikan dengan AI telah menyebabkan kerusakan sangat besar di Korsel. Bahkan hasilnya sangat realistis, sulit untuk dibedakan bahwa foto atau video itu hasil rekayasa.
"Teknologi deepfake mempersulit untuk membedakan apakah sesuatu yang dibuat-buat itu nyata atau karikatur. Kebingungan ini membuatnya semakin berbahaya," kata Bae.
Jumlah korban deepfake yang meminta bantuan lembaga pemerintah untuk menangani kejahatan seksual digital berjumlah 781 orang pada periode 1 Januari hingga 25 Agustus 2024. Sebanyak 288 di antaranya, atau 36,9 persen, adalah anak di bawah umur.
Sementara itu Kementerian Pendidikan Korsel telah menerima 196 laporan kerusakan akibat kejahatan seks deepfake di antara siswa dan guru pada periode yang sama.
Seorang fotografer yang meminta identitasnya dirahasiakan menghentikan sementara untuk mengunggah wajah model karena kekhawatiran menjadi korban deepfake.
Presiden Korsel Yoon Suk Yeol dalam rapat kabinet, Selasa (2/9/2024), memerintahkan pihak berwenang untuk segera membasmi kejahatan seks digital dan menyebutnya sebagai tindakan kriminal yang nyata.
Pemerintah juga telah mengumumkan serangkaian tindakan, termasuk memperberat hukuman bagi pelaku kejahatan seks deepfake, mendorong pengamanan ponsel yang menggunakan Telegram, bahkan menghukum siapa saja yang menyimpan materi pornografi deepfake di perangkat mereka.










