Misteri Epidemi Misterius di Siberia Belum Terpecahkan
"Epidemi apa?" tanya seorang warga Irkutsk dengan nada heran ketika ditanya mengenai krisis epidemiologi yang menjadikan kota kecil di Siberia dekat Mongolia itu menjadi pusat pemberitaan dunia selama seminggu terakhir.
"Kamu lihat aku memakai masker?" jawab petugas apotek dengan nada menyesal ketika ditanya apakah dia mengetahui kekhawatiran masyarakat menyusul laporan karantina dan kematian seorang pekerja laboratorium.“Apapun yang dikatakan pihak berwenang, kami akan patuhi,” kata dua wanita lanjut usia yang sedang bersantai di ayunan taman di Shelekhov.
Ironisnya, gubernur wilayah tersebut sendiri pernah menyarankan masyarakat untuk tidak mengunjungi daerah pinggiran kota tersebut karena kekhawatiran akan penyebaran 'infeksi yang sangat berbahaya'. Namun, postingan tersebut segera dihapus.
Warga Irkutsk nampaknya tak menghiraukan pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait dugaan penyebaran 'epidemi misterius' di wilayah tersebut.
Sementara itu, pihak berwenang Rusia tetap berpegang pada penjelasan resmi yang dikeluarkan oleh badan perlindungan konsumen dan kesehatan masyarakat negara tersebut, Rospotrebnadzor.Menurut badan tersebut, Daria Shipilova, seorang peneliti berusia 28 tahun di Institut Penelitian Pengendalian Penyakit Wabah Irkutsk meninggal pada tanggal 2 Oktober karena pneumonia yang penyebabnya belum diketahui.
Gubernur wilayah tersebut, Igor Kobzev pada tanggal 8 Oktober menyatakan krisis telah berakhir.
Karantina sudah dicabut. Lebih dari 5.000 tes yang dilakukan tidak menunjukkan adanya masalah kesehatan terkait penyakit menular, ujarnya.
Meski demikian, WHO masih meminta klarifikasi lebih lanjut dari otoritas Rusia, termasuk penyebab kematian peneliti tersebut.
Namun penjelasan Moskow belum menjawab beberapa pertanyaan penting, terutama mengenai alasan mengapa kasus tersebut memicu tindakan darurat hingga hampir 200 orang dikarantina atau ditempatkan dalam pemantauan sebelumnya.Pemimpin Redaksi surat kabar lokal, Lyudi Baikal (Masyarakat Baikal), Elena Trifonova mengatakan, ketidakjelasan informasi pihak berwenang membuka kemungkinan bahwa krisis tersebut disebabkan oleh infeksi yang menyebar dari hewan ke manusia.
Seorang pegawai klinik hewan di Angarsk, kota terdekat, juga memberi tahu pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait wabah tersebut pada Kamis lalu.
“Ancaman tersebut mungkin telah dapat diatasi dan situasi kini terkendali. Namun, pihak berwenang belum menyatakan ancaman kesehatan tersebut telah berakhir,” jelas Trifonova.
Warga Irkutsk menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa meski ada 'wabah misterius' yang menimbulkan kekhawatiran komunitas internasional.
Rusia juga menghadapi krisis serupa awal tahun ini ketika pihak berwenang memusnahkan ternak secara besar-besaran di beberapa wilayah termasuk Irkutsk. Saat itu, para peternak hanya diberitahu tentang 'infeksi yang sangat berbahaya'.Penegasan tersebut dapat berujung pada penutupan perbatasan selain larangan penjualan daging dan susu. Situasi tersebut tentu akan membawa kerugian ekonomi dan mempengaruhi reputasi negara.
“Pihak berwenang Rusia sebenarnya menyembunyikan informasi. Itu ciri negatif sistem otoriter atau totaliter,” ujarnya.
Meskipun karantina telah dicabut, beberapa rumah sakit masih menerapkan pembatasan tertentu, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang penyebaran epidemi yang coba mereka sembunyikan.
“Perhatian: Akses terbatas. Kunjungan ke pasien yang dirawat di rumah sakit untuk sementara dibatasi. Masuk hanya diizinkan dengan izin!” sesuai dengan pemberitahuan yang dipajang di pintu masuk Rumah Sakit No. 3 Irkutsk.
Pemberitahuan lain mengacu pada perintah tertanggal 2 Oktober yang melarang kunjungan pasien dengan alasan 'musim flu, infeksi saluran pernapasan akut, dan jenis baru Covid-19 untuk tahun 2026-2027'.Sementara itu, investigasi surat kabar Lyudi Baikala terhadap 15 apotek pada awal krisis menemukan bahwa beberapa apotek kehabisan persediaan antibiotik, yang mencerminkan kekhawatiran yang muncul setelah perkembangan kasus tersebut.
Kegagalan pihak berwenang dalam memberikan penjelasan yang jelas ditambah dengan propaganda yang terus menerus memicu teori konspirasi dan penyebaran informasi palsu di kalangan masyarakat Irkutsk.
“Cerita tentang wabah misterius itu tidak benar. Semuanya baik-baik saja. Hanya dua perempuan yang didiagnosis mengidap Covid-19,” kata Lidia, seorang pensiunan dari Shelekhov, daerah tempat peneliti menerima perawatan sebelum meninggal.
Irkutsk memiliki wilayah yang 35 persen lebih besar dari Spanyol, namun populasinya hanya sekitar lima persen dari populasi negara tersebut







