NASA Temukan Tempat Misterius yang Mengejutkan di Bulan

NASA Temukan Tempat Misterius yang Mengejutkan di Bulan

Teknologi | sindonews | Minggu, 20 September 2026 - 11:00
share

Para ilmuwan baru saja menemukan kawah tumbukan raksasa di Bulan, yang terbentuk akibat tabrakan dahsyat yang terjadi sekitar dua tahun lalu.

Kawah tumbukan yang baru ditemukan di Bulan memiliki dinding yang curam, lebarnya sekitar 222 meter dan kedalamannya hingga 43 meter.

Saat ini, ini adalah kawah tumbukan baru terbesar yang diketahui di Tata Surya, menawarkan kesempatan unik bagi para ilmuwan untuk mempelajari bagaimana tabrakan kosmik telah mengubah permukaan Bulan. Yang perlu diperhatikan, peristiwa ini awalnya sama sekali tidak terdeteksi pada saat terjadi.

Para peneliti memperkirakan bahwa peristiwa sebesar ini hanya terjadi sekitar sekali setiap 132 tahun. Oleh karena itu, penemuan ini dianggap sebagai "harta karun" ilmiah pada saat NASA sedang mempersiapkan rencana untuk mengembalikan manusia ke Bulan dan membangun fasilitas operasional permanen di sana.

"Ini adalah pengamatan dengan probabilitas kejadian yang sangat rendah, secara statistik hampir merupakan peristiwa sekali seumur hidup," tulis tim peneliti dalam salah satu dari dua makalah yang diterbitkan pada 16 September di jurnal Science Advances.

Kawah tumbukan yang baru ditemukan ini terletak di sisi dekat Bulan, yaitu sisi yang selalu menghadap Bumi. Wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA merekamnya pada Mei 2024, tak lama setelah sepotong puing dari asteroid atau komet menabrak permukaan Bulan.

Yang mengejutkan, dampak dahsyat ini tidak terdeteksi secara langsung oleh teleskop di Bumi dan di luar angkasa. Sebuah peristiwa yang cukup kuat untuk menciptakan kawah dengan lebar lebih dari 200 meter terjadi tanpa sistem pengamatan saat ini mampu mendeteksinya.Hal ini sebagian disebabkan oleh jumlah data yang sangat besar yang dikumpulkan oleh LRO. Gambar sudut lebar yang diambil oleh wahana antariksa tersebut telah disimpan dalam basis data untuk waktu yang lama dan baru dikenali oleh para ilmuwan pada Agustus 2025.

LRO kemudian melanjutkan pengumpulan citra dengan resolusi lebih tinggi pada musim gugur lalu. Konfirmasi resmi penemuan tersebut diselesaikan awal tahun ini.

Kawah tumbukan tersebut dinamai menurut nama Thomas McGetchin, mendiang direktur Lunar and Planetary Institute di Houston.

Dengan diameter sekitar 222 meter, kawah ini tiga kali lebih besar dari rekor sebelumnya untuk kawah tumbukan yang baru terbentuk yang ditemukan oleh LRO sekitar satu dekade lalu.

Bulan telah mengalami tabrakan yang tak terhitung jumlahnya sepanjang miliaran tahun sejarahnya. Permukaannya dipenuhi dengan bekas-bekas yang ditinggalkan oleh asteroid, komet, dan puing-puing kosmik lainnya.Beberapa kawah tumbukan kuno di Bulan sangat besar, dengan beberapa struktur membentang sekitar 2.400 km. Namun, kawah sebesar itu terbentuk sejak lama sekali, sementara penemuan baru ini sangat penting karena baru muncul dalam skala waktu geologis.

Tabrakan yang menciptakan kawah McGetcin tidak hanya mengukir lubang yang dalam di permukaan. Tabrakan itu juga mengganggu material di area seluas lebih dari 106 km.

Mark Robinson, ilmuwan utama untuk sistem kamera di LRO dan sekarang bekerja di Intuitive Machines, mengatakan bahwa material yang terdiri dari debu dan batuan bulan terlontar dengan sudut yang lebih besar dari yang diperkirakan. Robinson adalah penulis utama dari salah satu dari dua studi baru tersebut.

Hal ini memberikan data tambahan yang sangat penting tentang bagaimana material di Bulan bereaksi terhadap benturan berkecepatan tinggi, dan membantu para ilmuwan untuk lebih memahami bagaimana peristiwa semacam itu terus-menerus membentuk kembali tanah permukaan.

Sebuah studi terpisah juga menemukan zona dingin dengan diameter sekitar 6,4 km di sekitar kawah tumbukan baru tersebut. Fitur ini konsisten dengan fenomena terganggunya dan terlepasnya tanah permukaan Bulan setelah tumbukan.David Paige, salah satu penulis studi di Universitas California, Los Angeles (UCLA), menyamakan proses ini dengan berkebun di Bumi."Sekarang kami berpendapat bahwa tabrakan tersebut seperti semacam 'pembersihan' puing-puing bulan; tabrakan tersebut mengaduk sedimen dan membawa material yang biasanya berada di bawah permukaan ke permukaan," kata Paige.

Konsep ini sangat penting karena lapisan material yang menutupi permukaan Bulan, yang sering disebut regolith, bukanlah lapisan tanah yang tetap. Lapisan ini terus-menerus terganggu oleh benturan dari luar angkasa.

Data yang dikumpulkan oleh LRO sejak peluncurannya pada tahun 2009 menunjukkan bahwa proses ini terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya. Menurut Robinson, material yang terlontar akibat tabrakan dapat mengganggu lapisan tanah bulan, yang tebalnya sekitar 2,5 cm, hanya dalam waktu 80.000 tahun.

Penemuan ini juga membantah anggapan umum bahwa jejak kaki para astronot Apollo di Bulan dapat bertahan hampir selamanya.

Robinson mengatakan bahwa jejak debu terkenal para astronot Apollo "pasti akan hilang" selama waktu itu, karena permukaan bulan terus-menerus terganggu oleh benturan kecil.Nilai dari penemuan ini tidak hanya terletak pada penambahan kawah tumbukan baru ke peta Bulan, tetapi juga pada implikasi langsungnya terhadap rencana untuk mengembalikan manusia ke benda langit ini.

NASA berencana membangun fasilitas operasional di Bulan di masa depan. Setelah manusia dan peralatan ditempatkan di permukaan Bulan, tabrakan serupa dapat menjadi faktor risiko yang perlu dipertimbangkan.

Menurut Robinson, langkah selanjutnya tim peneliti adalah menentukan apakah ada risiko bahwa puing-puing yang terlontar dari kawah tumbukan baru dapat mencapai area tempat pangkalan bulan masa depan direncanakan.

"Informasi itu akan membantu para insinyur memperkuat struktur sehingga mereka tidak perlu khawatir tentang kerusakan, atau setidaknya mengurangi tingkat kekhawatiran," katanya.

Oleh karena itu, kawah McGetcin bukan hanya bekas luka baru di permukaan Bulan. Kawah ini juga telah menjadi "eksperimen alam" yang langka, memungkinkan para ilmuwan untuk secara langsung mengamati konsekuensi dari tabrakan besar yang baru saja terjadi.

Topik Menarik