Model United Nations Jadi Cara Anak Muda Belajar Berani Bicara dan Menghargai Perbedaan

Model United Nations Jadi Cara Anak Muda Belajar Berani Bicara dan Menghargai Perbedaan

Teknologi | inews | Rabu, 2 September 2026 - 17:10
share

JAKARTA, iNews.id – Kemampuan berbicara di depan banyak orang sering dianggap sebagai modal utama untuk menjadi seorang pemimpin. Padahal, di balik keberanian menyampaikan pendapat, ada kemampuan lain yang tak kalah penting, yaitu mendengarkan, bernegosiasi, memahami sudut pandang berbeda, hingga mencari jalan tengah.

Kemampuan-kemampuan itulah yang coba diasah melalui Model United Nations (MUN), sebuah simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempertemukan anak muda untuk membahas persoalan dunia sekaligus belajar menyampaikan gagasan secara terstruktur.

Pengalaman tersebut dirasakan sekitar 400 pelajar dari 61 sekolah dan universitas yang datang dari lebih dari 30 kota dan kabupaten di Indonesia dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Bandung Chapter 2026.

Anak muda semakin tertarik mengikuti Model United Nations (MUN). (Foto: Istimewa)

Digelar di Bandung pada 29–30 Agustus 2026, kegiatan ini tidak sekadar mengajak peserta memahami diplomasi internasional. Mereka juga ditempa untuk keluar dari zona nyaman, berhadapan dengan perbedaan pendapat, serta belajar bahwa sebuah solusi tidak selalu lahir dari siapa yang paling keras berbicara.

Tema yang diangkat 'Securing Tomorrow: Advancing Sustainable Development and Global Stability' menjadi pintu masuk bagi peserta untuk melihat berbagai persoalan yang akan mereka hadapi di masa depan.

Ada isu pencucian uang dan ketimpangan ekonomi melalui United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), perlindungan anak di dunia gim daring melalui United Nations Children's Fund (UNICEF), hingga hubungan antara perlindungan lingkungan, pembangunan ekonomi, dan transisi energi melalui United Nations Environment Programme (UNEP).

Bagi anak muda, pembahasan tersebut menjadi lebih dari sekadar materi diskusi. Mereka ditantang untuk memahami sebuah persoalan dari perspektif negara atau pihak yang mereka wakili, kemudian menyusun argumen dan bernegosiasi dengan peserta lain yang belum tentu memiliki pandangan serupa.

Belajar Berbicara, tetapi Juga Belajar Mendengar

Dalam simulasi MUN, peserta tidak hanya berdiri dan menyampaikan pendapat. Mereka harus mengikuti rangkaian proses yang menyerupai persidangan PBB, mulai dari General Speakers’ List, negosiasi, caucusing, hingga menyusun Draft Resolutions.

Proses tersebut membuat peserta berhadapan langsung dengan situasi yang mungkin tidak mereka temukan di ruang kelas.

Sebuah gagasan yang menurut satu peserta sangat ideal bisa saja ditolak peserta lain. Sebuah solusi yang terlihat sederhana juga bisa berubah setelah mempertimbangkan kepentingan pihak berbeda.

Di titik inilah keterampilan komunikasi dan negosiasi menjadi penting.

President International Global Network Muhammad Fahrizal mengatakan pengalaman dalam MUN dapat membentuk keterampilan yang relevan dengan tantangan anak muda di masa depan.

"Keputusan yang kalian buat di sini mungkin memang merupakan bagian dari sebuah simulasi. Namun, keterampilan yang kalian kembangkan di sini adalah sesuatu yang nyata: kemampuan untuk bernegosiasi, keberanian untuk berbicara, kedisiplinan untuk mendengarkan, dan kemauan untuk bekerja bersama orang-orang yang tidak selalu melihat dunia dengan cara yang sama seperti kalian," ujar Fahrizal dalam keterangan resminya, Rabu (2/9/2026).

Pesan tersebut menunjukkan bahwa tujuan mengikuti MUN bukan semata-mata menjadi delegasi yang paling aktif berbicara. Justru, peserta diajak memahami bahwa kemampuan bekerja sama dengan orang yang memiliki perspektif berbeda merupakan bagian penting dari proses pengembangan diri.

Anak Muda Tak Cukup Hanya Paham Isu Global

Persoalan global saat ini juga semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda. Perubahan iklim, transformasi digital, keamanan anak di internet, ketimpangan ekonomi hingga transisi energi bukan lagi isu yang hanya dibahas oleh pemerintah atau lembaga internasional.

Anak muda akan menjadi generasi yang hidup paling lama dengan dampak dari keputusan-keputusan yang dibuat hari ini.

Perwakilan United Nations Indonesia, Diandra Pratami, Economist di Resident Coordinator’s Office of the United Nations Indonesia, menilai keterlibatan generasi muda dalam pembangunan menjadi hal penting.

Menurut dia, anak muda bukan hanya penerima manfaat dari pembangunan, tetapi juga bagian dari pihak yang membentuk masa depan.

Diandra juga mengingatkan bahwa Bandung memiliki sejarah panjang dalam diplomasi internasional. Kota tersebut menjadi lokasi Konferensi Asia-Afrika 1955 yang hingga kini menjadi salah satu simbol kerja sama negara-negara berkembang.

Semangat diplomasi itu kemudian mendapat bentuk baru melalui keterlibatan generasi muda.

Diandra menjelaskan, fokus kerja PBB di Indonesia mencakup human development; nature, decarbonization and resilience; serta economic and digital transformation. Berbagai agenda tersebut juga berkaitan erat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari pertanian, aksi iklim, transformasi digital, ekonomi kreatif, kewirausahaan, olahraga hingga kepemimpinan.

Artinya, memahami isu global bukan hanya soal menghafal istilah atau mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia. Anak muda juga perlu memiliki keberanian untuk menentukan posisi, menyampaikan gagasan, sekaligus memahami konsekuensi dari sebuah keputusan.

Membangun Kepercayaan Diri Lewat Pengalaman

Bagi sebagian peserta, pengalaman mengikuti MUN juga menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan diri.

Berbicara di hadapan orang lain, mempertahankan argumentasi, menjawab sanggahan, hingga mencapai kesepakatan dengan orang yang memiliki pandangan berbeda membutuhkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan mengendalikan emosi.

Dukungan dari lingkungan juga menjadi salah satu cara membuka akses bagi lebih banyak anak muda untuk mendapatkan pengalaman tersebut.

Dalam AYIMUN Bandung Chapter 2026, PT Pertamina (Persero) memberikan dukungan melalui pemberian beasiswa kepada 15 anak muda berprestasi dari berbagai sekolah untuk mengikuti konferensi.

Dukungan tersebut menjadi penting karena kesempatan untuk mengembangkan kemampuan nonakademik seperti komunikasi, kepemimpinan dan negosiasi tidak selalu didapatkan melalui pembelajaran formal di sekolah.

Fuel Terminal Manager PT Pertamina (Persero) Afifah Rahmawati bahkan mengajak peserta melihat makna securing tomorrow dari sudut pandang yang lebih luas.

Menurut dia, memastikan masa depan tidak hanya berbicara mengenai teknologi, pertumbuhan ekonomi, perubahan iklim maupun pembangunan global. Ada pula pertanyaan tentang siapa diri seseorang saat ini, nilai apa yang dianggap penting, dan apa yang bersedia dijaga untuk generasi berikutnya.

Dengan demikian, pengembangan diri anak muda tidak berhenti pada kemampuan untuk menjadi pintar atau berprestasi. Ada pula proses membangun karakter, memahami perbedaan dan menentukan nilai yang ingin dibawa ketika kelak mengambil keputusan.

Pada akhirnya, pengalaman seperti MUN bukan sekadar tentang siapa yang paling pandai berdebat atau paling fasih berbicara bahasa Inggris.

Lebih jauh, pengalaman tersebut menjadi latihan kecil untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya—dunia yang penuh perbedaan kepentingan, perspektif dan pilihan.

Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan anak muda yang berani berbicara. Masa depan juga membutuhkan mereka yang mampu mendengarkan, berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan bekerja bersama untuk menemukan solusi.

Topik Menarik