Hibah Diaspora Berdampak 2026, PPM School Bangun Kolaborasi Akademik dan UMKM Indonesia-Malaysia

Hibah Diaspora Berdampak 2026, PPM School Bangun Kolaborasi Akademik dan UMKM Indonesia-Malaysia

Nasional | sindonews | Minggu, 8 November 2026 - 15:59
share

Kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dunia usaha tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran, tetapi juga melalui riset, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas negara. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah yang dilakukan Sekolah Tinggi Manajemen PPM melalui program Hibah Diaspora Berdampak Batch 2 Tahun 2026 dari Risbangdikti, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Salah satu dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM Aprihatiningrum Hidayati menjadi pelaksana program hibah tersebut. Program ini menjadi wadah untuk mempertemukan perspektif akademisi, praktisi, mahasiswa, dan pelaku usaha dalam membahas isu-isu strategis, khususnya ketahanan dan keberlanjutan bisnis keluarga (family business resilience).

Baca juga: PPM Manajemen Perkuat Kemampuan Profesional dengan Executive Development Program

Sebagai bagian dari implementasi program, Sekolah Tinggi Manajemen PPM menyelenggarakan rangkaian kegiatan. Kegiatan tersebut meliputi Students and Alumni Family Business Expo, networking, seminar bertajuk Family Business Resilience, serta peluncuran kerja sama dengan Universiti Kuala Lumpur, Malaysia.

Tema ketahanan bisnis keluarga diangkat karena perusahaan keluarga menghadapi tantangan tersendiri ketika memasuki fase transisi dari generasi pendiri menuju generasi berikutnya. Selain persoalan operasional dan persaingan pasar, proses tersebut juga melibatkan kompleksitas hubungan keluarga, kepemimpinan antargenerasi, pembagian peran, serta tata kelola antara kepentingan keluarga dan bisnis.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah growth paradox, yakni kondisi ketika pendapatan, jumlah outlet, skala operasi, atau cakupan pasar meningkat, tetapi profitabilitas tidak tumbuh secara proporsional. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh peningkatan biaya operasional, efisiensi yang belum optimal, serta model bisnis yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas pertumbuhan.

Baca juga: Kemenag Tetapkan 52.325 Guru Jadi Peserta PPG Daljab 2026, Ini Cara Cek dan Lapor Diri

Seminar menghadirkan sejumlah pembicara dengan perspektif akademik, kebijakan, kewirausahaan, kepemimpinan, hingga komunikasi dan hubungan kelembagaan. Mereka adalah Ilham Sentosa; Wisnu Sakti Dewobroto; Edhijanto Widaja; serta Sandra Erawanto. Diskusi dipandu oleh Aprihatiningrum Hidayati.

Assosiate Professor of Enterpreneurship, Sekolah Tinggi Manajemen PPM Indonesia Aprihatiningrum Hidayati menyampaikan dalam pelaksanaan program Hibah Diaspora berdasarkan proposal yang diajukan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dalam hal ini mendatangkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berkiprah di luar negeri.“Diaspora itu warga negara Indonesia yang berkiprah di luar negeri dan dalam bidang akademik yaitu dosen dalam hal ini Ilham Sentosa, beliau adalah profesor di Universiti Kuala Lumpur (UniKL) Malaysia,” ujarnya.

Apri menjelaskan alasan kenapa dalam Program Diaspora Berdampak ini pemerintah atau Kemenristekdikti ingin mendatangkan para diaspora untuk menginspirasi para mahasiswa di Tanah Air.

“Kenapa Diaspora Berdampak pemerintah atau Dikti ingin mengundang para diaspora, itu untuk menginspirasi kampus-kampus yang ada di Indonesia. Saya salah satu pengusul itu mendapat penghargaan total pendanaan dari kementerian itu Rp70 juta yang digunakan untuk bisa dapat menghadirkan Prof. Ilham ke Indonesia, untuk bisa menginspirasi ekosistem di perguruan tinggi. Beliau di Indonesia memberikan workshop, memberikan inspirasi ke dosen dan juga memberikan xperience ketahanan bisnis keluarga, di mana itu adalah riset yang diusulkan ke Kemendikti,” lanjutnya.

Sementara itu, Prof. Ilham memaparkan, pihaknya mendapatkan undangan dari PPM School berdasarkan proposal yang dinilai menjadi berkah atas pendanaan Dikti, yang mana topik yang dipilih sangat beririsan apa yang terjadi di Indonesia dan Malaysia.

“Hampir sama, serupa tapi tak sama. Kita lihat perbedaannya tipis, tidak terlalu signifikan mungkin kita melihat dari segi segmentasi pasarnya yang berbeda ataupun kita melihat dari sistem regulasi pemerintah bagi Family Business,” katanya.Dia menerangkan, terkait dengan irisan yang bisa dilihat di sini menurutnya; pertama adalah soal budaya dalam budaya bisnis nusantara, baik yang terjadi di Indonesia maupun di Malaysia.

“Bagi Family Business hampir sama dan jenis-jenis objek ataupun dari bisnis juga hampir sama. Tentunya melalui kesempatan yang berbahagia ini, kita sudah melakukan riset di satu tempat yang tujuannya untuk membuat permodelan Family Business, yang mana hasil dari riset tersebut akan dipublikasikan sebagai role model, tersebut tentunya berdasar dari metodologi yang cukup menyita waktu kita dan alhamdulillah berangkat dari kerjasama dari pihak PPM dan juga support dari Ketua PPM School kita menghasilkan dua book chapter. Keduanya sudah kita sub launching dan itu merupakan bentuk hasil dari kerjasama antara ini UniKL dengan PPM,” paparnya.

Namun demikian, dia menggaris bawahi, role model ini diambil dari Family Business yang berfokus pada bisnis Food and Beveradges (FnB). “Kita fokus di FNB dulu, mungkin bisa diratifikasi untuk yang lainnya; seperti di hospital dan lain-lain. Permodelan ini sebagai harapan kami tentu kedepannya nanti dengan topik bisnis ini bisa berkembang dengan kegiatan-kegiatan lain yang tetap menjadi irisan antara Indonesia dan Malaysia melalui kerangka Nusantara,” jelasnya.

Apri menyampaikan pihaknya memilih tema Family Business Resiliance karena ini sudah menjadi fenomena yang mengglobal. Dalam statistik bisnis keluarga jumlahnya mencapai 95 dominasinya, begitu juga di Indonesia. “UMKM-UMKM itu dibentuk dari keluarga, para orang tua akhirnya disebut sebagai bisnis keluarga, di mana jumlahnya besar tetapi tingkat retensi bertahannya kecil. Generasi pertama dan kedua itu yang bisa berhasil mencapai 12, Untuk generasi 2 ke-3 hanya mencapai 4, sehingga kami mengundang para narasumber di sini untuk bisa menginspirasi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, selain seminar, kegiatan juga menghadirkan pameran 10 tenant UMKM yang berasal dari mahasiswa, alumni, maupun mitra. Pameran ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk dan usaha sekaligus membuka jejaring antara pelaku UMKM, lingkungan akademik, dan pemangku kepentingan.

Rangkaian program turut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Sekolah Tinggi Manajemen PPM dan Universiti Kuala Lumpur. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi, riset, dan pengembangan akademik.

Melalui program Hibah Diaspora Berdampak, Sekolah Tinggi Manajemen PPM mendorong terbentuknya ruang kolaborasi yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan praktis dunia usaha. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang terbangun diharapkan dapat menghasilkan masukan bagi penguatan ketahanan bisnis keluarga, pengembangan UMKM, serta peluang kerja sama akademik dan praktis lintas negara.

Topik Menarik