Kubu Trump Kalah Pemilu Sela AS, Harga Minyak Dunia Terjun Lebih dari 8
Harga minyak dunia anjlok lebih dari 8 pada perdagangan Kamis setelah Partai Republik yang dipimpin Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengalami kekalahan besar dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections). Hasil pemilu yang membuat Partai Demokrat menguasai kedua kamar Kongres AS tersebut memicu spekulasi bahwa Trump akan menghadapi tekanan politik lebih besar untuk mengakhiri perang dengan Iran.
"Alasan kita kalah adalah perang," kata Wakil Presiden AS JD Vance melalui unggahan di media sosial dikutip dari Firstpost, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga:Partai Trump Kalah Pemilu AS, Begini Respons Rusia
Vance menyebut Trump juga telah mengakui bahwa konflik dengan Iran turut berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik. Trump sebelumnya mengatakan kepada Financial Times pada Selasa bahwa pemerintahannya tidak memiliki rencana segera untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD7,97 atau 8,3 menjadi USD88,12 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, merosot USD8,98 atau 8,7 menjadi USD94,62 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatatkan harga penutupan terendah sejak 31 Agustus.Hasil pemilu AS mengubah perhitungan politik terkait kelanjutan konflik dengan Iran. Penguasaan DPR dan Senat oleh Partai Demokrat diperkirakan menyulitkan Trump memperoleh dukungan politik maupun pendanaan untuk melanjutkan operasi militer berkepanjangan. Kongres memiliki kewenangan atas anggaran pemerintah dan pembiayaan militer, sehingga dapat menggunakan fungsi pengawasan untuk menekan pemerintahan Trump agar mengakhiri perang.
Ketua Fraksi Demokrat di Senat Chuck Schumer juga telah mengisyaratkan bahwa partainya akan mendorong penghentian konflik tersebut. Perkembangan ini membuat pelaku pasar mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak akibat kekhawatiran meluasnya perang antara AS, Israel, dan Iran serta ancaman terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.
Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran masih belum pasti. Qatar meningkatkan upaya mediasi untuk mencegah eskalasi militer baru setelah pemilu AS, sementara komunikasi melalui perantara masih berlangsung. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kedua negara masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.Baca Juga:Fantastis, Penutupan Selat Hormuz Rugikan Uni Eropa Rp2.576 Triliun
Di sisi lain, pasokan minyak global juga belum sepenuhnya pulih. Berdasarkan data pelacakan kapal Vortexa yang dikutip Reuters, ekspor minyak mentah, kondensat, dan produk minyak olahan dari kawasan Teluk, tidak termasuk gas minyak cair (LPG), rata-rata mencapai 17,1 juta barel per hari pada Oktober, turun dari 18,9 juta barel per hari pada September dan hanya sekitar tiga perempat dari tingkat sebelum perang.
Selat Hormuz tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pasokan energi global karena jalur pelayaran strategis tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan rute perdagangan internasional. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di kawasan itu berpotensi membatasi ketersediaan minyak mentah, meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, serta kembali mendorong kenaikan harga energi dunia.










