Australia Pernah Sadap HP SBY Selama 15 Hari, Ibu Ani dan Sejumlah Menteri Juga Jadi Target Intelijen

Australia Pernah Sadap HP SBY Selama 15 Hari, Ibu Ani dan Sejumlah Menteri Juga Jadi Target Intelijen

Nasional | sindonews | Rabu, 4 November 2026 - 11:12
share

Indonesia dan Australia pernah mengalami ketegangan diplomatik serius setelah terungkapnya operasi penyadapan intelijen Australia terhadap Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ibu Negara Ani Yudhoyono, dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia. Skandal yang mencuat pada November 2013 tersebut mengungkap bagaimana badan intelijen Australia berupaya memantau komunikasi orang nomor satu di Indonesia. Operasi itu bahkan disebut berlangsung selama 15 hari pada Agustus 2009.

Informasi tersebut terungkap melalui dokumen rahasia intelijen Australia yang dibocorkan Edward Snowden, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA).

Dokumen itu diperoleh Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan Guardian Australia. Isinya memperlihatkan bahwa pengawasan intelijen Australia tidak hanya menyasar komunikasi pemerintahan secara umum, tetapi juga menjangkau lingkaran terdekat Presiden SBY.

Baca Juga: Listyo Sigit Cs Sadap Presiden, PDIP: Pelanggaran terhadap HAM

Kasus ini kemudian memicu kemarahan pemerintah Indonesia dan menjadi salah satu insiden diplomatik paling serius dalam hubungan kedua negara.

Berikut fakta-fakta penyadapan Presiden SBY oleh intelijen Australia yang mengguncang hubungan Indonesia dan Australia.

1. Intelijen Australia Memantau Ponsel SBY Selama 15 Hari

Dokumen rahasia yang dipublikasikan ABC pada 18 November 2013 menunjukkan bahwa badan intelijen elektronik Australia, Defence Signals Directorate (DSD), memantau aktivitas telepon seluler Presiden SBY selama 15 hari pada Agustus 2009.

DSD, yang kini dikenal sebagai Australian Signals Directorate (ASD), merupakan lembaga intelijen Australia yang bertanggung jawab dalam pengumpulan intelijen sinyal dan komunikasi elektronik.

Salah satu dokumen yang dibocorkan berjudul "3G Impact and Update". Dokumen tersebut memperlihatkan upaya intelijen Australia mengikuti perkembangan teknologi komunikasi 3G di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Dalam dokumen itu terdapat halaman berjudul "Indonesian President Voice Events" yang memuat catatan aktivitas komunikasi telepon SBY.

Baca Juga: Listyo Sigit Cs Tersangka Kasus Penyadapan Presiden, SBY: Kok Jadi Gini Negara KitaData tersebut menunjukkan bahwa intelijen Australia dapat memantau aktivitas panggilan, termasuk informasi mengenai siapa yang menghubungi dan siapa yang dihubungi Presiden SBY.

Namun, perlu dibedakan bahwa pemantauan catatan panggilan atau call data record (CDR) tidak otomatis berarti seluruh isi percakapan berhasil direkam.

2. Australia Pernah Mencoba Mendengarkan Percakapan SBY

Hal yang lebih mengejutkan adalah dokumen tersebut juga menunjukkan adanya upaya intelijen Australia untuk mendengarkan percakapan telepon Presiden SBY.

Menurut laporan ABC, upaya penyadapan percakapan tersebut setidaknya dilakukan satu kali.

Namun, catatan dalam dokumen menunjukkan panggilan itu berlangsung kurang dari satu menit sehingga tidak cukup lama untuk berhasil disadap.

Dengan demikian, dokumen yang dipublikasikan memperlihatkan adanya upaya intersepsi komunikasi, tetapi tidak membuktikan bahwa Australia berhasil merekam seluruh percakapan Presiden SBY.

Meski demikian, fakta bahwa kepala negara Indonesia menjadi sasaran pemantauan intelijen negara tetangga tetap menimbulkan persoalan serius.

3. Ibu Ani Yudhoyono dan Sejumlah Pejabat Tinggi Ikut Menjadi Target

Penyadapan intelijen Australia ternyata tidak hanya menyasar Presiden SBY.

Dokumen yang dibocorkan Snowden juga mencantumkan nama Ibu Negara Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono sebagai salah satu target pengawasan.

Selain itu, terdapat sejumlah nama pejabat tinggi Indonesia dalam daftar sasaran intelijen Australia.

Mereka antara lain:

- Boediono, Wakil Presiden RI saat itu.- Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI.- Ani Yudhoyono, Ibu Negara.- Sejumlah pejabat yang menangani urusan luar negeri dan keamanan nasional.- Pejabat di lingkungan pemerintahan yang berkaitan dengan komunikasi dan informasi.Dokumen tersebut juga mencantumkan jenis perangkat telepon 3G yang digunakan sejumlah target.

Terungkapnya daftar tersebut memperlihatkan bahwa operasi intelijen Australia memiliki cakupan yang menjangkau lingkaran penting pemerintahan Indonesia.

4. Edward Snowden Membocorkan Dokumen Rahasia Intelijen Australia

Kasus penyadapan SBY menjadi perhatian internasional setelah Edward Snowden membocorkan dokumen rahasia intelijen Amerika Serikat dan sejumlah mitranya.

Snowden merupakan mantan kontraktor NSA yang pada 2013 mengungkap berbagai program pengawasan komunikasi berskala global.

Dokumen mengenai aktivitas intelijen Australia di Indonesia kemudian diperoleh ABC dan Guardian Australia dari materi yang dibocorkan tersebut.

Laporan yang diterbitkan pada 18 November 2013 itu mengungkap detail pemantauan terhadap telepon SBY, termasuk aktivitas komunikasi selama 15 hari pada Agustus 2009.

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah moto DSD yang tercantum pada dokumen rahasia tersebut, yakni "Reveal their secrets – protect our own".

Dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut berarti mengungkap rahasia pihak lain dan melindungi rahasia sendiri.

Pengungkapan dokumen itu membuka gambaran mengenai bagaimana operasi intelijen elektronik dilakukan terhadap negara lain, termasuk negara yang memiliki hubungan kerja sama erat.

5. SBY Marah dan Meminta Australia Memberikan Penjelasan Resmi

Presiden SBY tidak tinggal diam setelah informasi penyadapan tersebut terungkap.

Pada 20 November 2013, SBY menyampaikan pernyataan resmi di Kantor Presiden, Jakarta.

Dalam pernyataannya, SBY mengaku sulit memahami alasan Australia melakukan penyadapan terhadap Indonesia, terutama karena kedua negara sedang menjalin hubungan bilateral yang relatif baik."Ini bukan era perang dingin," demikian salah satu penekanan SBY dalam pernyataannya.

Dia juga mempertanyakan alasan intelijen Australia justru menyasar negara yang menjadi mitra dan sahabat, bukan negara yang sedang berada dalam permusuhan.

SBY menegaskan bahwa Indonesia mengharapkan penjelasan dan sikap resmi pemerintah Australia atas tindakan tersebut.

Dia bahkan menyampaikan akan mengirimkan surat resmi kepada Perdana Menteri Australia saat itu, Tony Abbott.

6. Indonesia Menghentikan Sementara Kerja Sama Intelijen dan Militer

Sebagai respons atas kasus penyadapan tersebut, pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomatik yang cukup keras.

SBY pada 20 November 2013 mengumumkan penghentian sementara sejumlah bentuk kerja sama dengan Australia.

Langkah tersebut meliputi:

- Pertukaran informasi dan intelijen antara kedua negara.- Latihan militer bersama yang melibatkan angkatan darat, laut, dan udara.- Operasi militer terkoordinasi, termasuk patroli bersama di wilayah laut.

Penghentian kerja sama itu dilakukan sampai pemerintah Australia memberikan penjelasan dan menyepakati mekanisme yang dapat menjamin hubungan kedua negara berjalan dengan baik.

Sebelumnya, Indonesia juga telah menarik pulang Duta Besar RI untuk Australia sebagai bentuk protes atas pengungkapan penyadapan tersebut.

Langkah ini memperlihatkan bahwa persoalan penyadapan tidak hanya dipandang sebagai masalah keamanan komunikasi, tetapi juga menyangkut kedaulatan dan kepercayaan diplomatik.

7. Tony Abbott Membalas Surat SBY, Hubungan Kedua Negara Mulai Dipulihkan

Ketegangan diplomatik Indonesia dan Australia kemudian memasuki babak baru setelah Perdana Menteri Tony Abbott mengirimkan surat balasan kepada Presiden SBY.Pada 26 November 2013, SBY menyampaikan keterangan pers mengenai isi surat tersebut.

SBY menyebut terdapat sejumlah poin penting dalam tanggapan Abbott, termasuk komitmen Australia untuk tidak melakukan tindakan pada masa mendatang yang merugikan atau mengganggu Indonesia.

Abbott juga menyetujui usulan untuk menata kembali kerja sama bilateral, termasuk pertukaran intelijen, melalui penyusunan protokol dan kode etik yang jelas serta harus dipatuhi kedua negara.

Indonesia kemudian membuka jalan untuk pembicaraan lebih lanjut guna memulihkan kerja sama kedua negara.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan persahabatan antarnegara tidak selalu menghilangkan kepentingan intelijen masing-masing.

Penyadapan SBY Menjadi Pelajaran Penting bagi Keamanan Negara

Kasus penyadapan terhadap Presiden SBY memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi juga membawa risiko besar bagi keamanan nasional.

Telepon seluler yang digunakan seorang kepala negara dapat menjadi sumber informasi penting bagi badan intelijen asing. Bahkan, catatan mengenai aktivitas komunikasi saja dapat memberikan gambaran tentang jaringan hubungan dan pola komunikasi seorang pemimpin.

Peristiwa 2009 yang baru terungkap pada 2013 itu juga menunjukkan bahwa operasi intelijen dapat berlangsung tanpa diketahui publik selama bertahun-tahun.

Bagi Indonesia, kasus tersebut bukan sekadar persoalan hubungan dengan Australia. Lebih jauh, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan komunikasi pejabat negara dan keamanan informasi strategis di tengah persaingan intelijen global.

Topik Menarik